Sukses

Parenting

Peka Terhadap Karakter Anak, Kunci Memilih Tontonan yang Tepat

Fimela.com, Jakarta NF remaja perempuan usia 15 tahun tega menghabisi nyawa seaorang anak berusia 6 tahun. Polisi menyebut NF melakukan aksinya terinspirasi oleh film yang pernah ia tonton.

Kabid Humas Polda Metro Jakarta, Kombes Yusri Yunus mengatakan, ada beberapa film horor yang menjadi kesukaannya. Seperti Chucky dan The Slender Man. Kedua film tersebut memang terbilang sadis.

Melihat khasus tersebut, sebagai orangtua kita tentu harus lebih waspada tentang konten apa yang boleh ditonton oleh anak-anak. Lalu bagaimana cara mendidik anak untuk memilih tontonan?

Psikolog, Tara De Thouars, BA, M.Psi mengatakan anak pada dasarnya memiliki rasa penasaran yang tinggi karena masih dalam masa belajar. Apapun yang terasa baru bagi anak-anak, akan timbul rasa penasaran yang tinggi dalam benaknya. Inilah yang menjadi tugas orangtua untuk mengarahkan.

Sebetulnya, cara menyampaikan bukan hanya sekedar memilih tontonan atau jenis tonton yang ditonton anak. Melainkan orangtua harus menjelaskan isi konten tontotan tersebut kepada anak.

"Jadi bukan hanya memilihkan tontonan saja, tapu kita kasih penjelasan ini film kenapa nggak baik untuk ditonton, dan dampak bagaimana," ujar Tara saat dihubungi Fimela.com.

Berikan alasan yang logis

Tara juga menyampaikan, berikan alasan yang tepat mengapa film atau konten lainnya tidak boleh ditonton. Sebab, jika tanpa alasan anak justru semakin penasaran dan pada akhirnya ia akan menonton tayangan tersebut tanpa sepengetahuan orangtua.

"Tanpa alasan hanya melarang saja, anak malah penasaran, nanti malah menonton sendiri tanpa adanya pengawasan," tambah Tara.

Untuk anak di bawah 3 sampai 5 tahun, Tara mengatakan orangtua bisa mengontrol apa yang akan ditonton si kecil. Seperti jika Youtube khusus tayangkan Youtube kids. Atau ketika anak sudah remaja atau dewasa ajak berkomunikasi dengan baik, sehingga anak dapat pengertian mengapa beberapa tontonan tidak boleh dilihat.

Serta yang terpenting adalah orangtua peka atas kebutuhan dan karekater si anak. Tara mencontohkan jika anak seseorang yang sensitif bisa berhati-hati dalam mengajak anak menonton film yang sedih. Atau si anak seoarang yang agresif, implusif dan sulit mengendalikan emosi maka berhati-hati memilih tontonan dengan adegan kekerasan agar si anak tidak menirunya.

#Changemaker

;
Loading