Sukses

Parenting

Nyeri saat Melahirkan dapat Meningkatkan Risiko Depresi

Fimela.com, Jakarta Para peneliti telah lama mengetahui bahwa nyeri persalinan dapat meningkatkan risiko depresi pascapersalinan pada perempuan. Nyeri yang dialami setelah melahirkan, secara signifikan dapat berisiko pada depresi pascapersalinan seperti beberapa hal berikut ini.

Semakin Terasa Nyeri, Semakin Tinggi Risiko Depresi Postpartum

Bagi perempuan yang memiliki nyeri postpartum yang lebih tinggi, cenderung mengalami depresi postpartum. Mereka yang mengalami depresi pascapersalinan memiliki lebih banyak keluhan terkait nyeri selama pemulihan dan membutuhkan lebih banyak obat perenda nyeri. Lebih lanjut, perempuan yang menjalani persalinan Caesar lebih rentan mengalami depresi pascapersalinan atau baby blues.

Memiliki Efek Jangka Panjang

Sangat normal untuk mengalami baby blues, kecemasan, kesepian, dan kelesuan yang dialami Mom setelah melahirkan. Tetapi jika perasaan negatif itu tetap ada atau semakin memburuk, bisa jadi iru adalah depresi pascapersalinan. Depresi pascapersali adalah gangguan mood yang sangat parah yang menyebabkan mudah marah yang berlebihan, perasaan bersalah dan tidak berharga, tidak tertarik pada bayi dan kesulitan berkonsentrasi.

Depresi pasca persalinan dapat menurunkan angka menyusui dan mengganggu ikatan dengan bayi. Selain itu, anak-anak yang ibunya mengalami depresi pascapersalinan lebih mungkin untuk mengembangkan masalah mental dikemudian hari seperti autisme.

Nyeri Postpartum Sebelumnya Muncul Telah Diabaikan

Ibuprofen dan obat-obatan nyeri serupa digunakan untuk mengobati asa sakit pada perempuan setelah melahirkan, jelas bahwa beberapa perempuan membutuhkan dukungan tambahan untuk mengelola rasa sakit yang mereka alami. Dokter akan melakukan perawatan jika Mom mengalami nyeri yang luar biasa saat setelah melahirkan.

Rasa nyeri akibat persalinan adalah hal yang paling umum terjadi. Namun, jika itu terjadi lebih lama setelah persalinan, akan sangat berisiko bagi Mom atau  buah hati. Oleh karenanya, tetap konsultasikan ini kepada dokter kandungan untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

Cek Video di Bawah Ini

#Changemaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Cara Menyenangkan untuk Anak Belajar di Rumah Saat New Normal
Artikel Selanjutnya
PPDB Jakarta Online Dimulai Hari Ini, Ini yang Perlu Disiapkan Calon Peserta Didik