Sebelum Batasi Gluten untuk Anak, Yuk Kenali Dulu Penyebab Sensitivitasnya dan Risikonya

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 05 Februari 2026, 20:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, akhir-akhir ini tren gluten-free diet semakin populer. Banyak dari orang tua yang mulai membatasi konsumsi gluten untuk anaknya dengan harapan pola makan tersebut lebih sehat. Namun, tahukah kamu bahwa tidak semua anak perlu, atau sebaiknya menjalani diet bebas gluten?

Menurut para ahli, termasuk dari Harvard Health Publishing, diet bebas gluten justru bisa berdampak buruk bila dilakukan tanpa alasan medis yang jelas. Sebelum kamu tergoda untuk menghapus gluten dari menu harian si kecil, penting untuk memahami dulu alasan mengapa anak bisa sensitif terhadap gluten, sekaligus mengapa diet gluten-free tidak selalu diperlukan.

Mengapa Anak Bisa Sensitif terhadap Gluten

Gluten adalah protein alami yang terdapat dalam gandum, barley, dan rye, bahan utama dari roti, pasta, dan sereal. Pada anak dengan penyakit celiac, mengonsumsi gluten dapat memicu reaksi autoimun yang merusak usus halus dan mengganggu penyerapan nutrisi. Kondisi ini hanya terjadi pada sekitar 1% populasi.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Alasan Anak Tidak Boleh Sembarangan Menjalani Diet Bebas Gluten

Sebelum memutuskan untuk menghilangkan gluten dari pola makan anak, penting untuk tahu bahwa gluten bukanlah zat berbahaya. [Dok/freepik.com]

Selain itu, ada juga anak yang mengalami sensitivitas non-celiac terhadap gluten (NCGS). Mereka mungkin tidak memiliki penyakit celiac, tapi tetap mengalami gejala seperti kembung, sakit kepala, atau mudah lelah setelah makan makanan mengandung gluten. Namun, kasus ini tergolong jarang dan harus dipastikan melalui pemeriksaan medis.

Sebelum memutuskan untuk menghilangkan gluten dari pola makan anak, penting untuk tahu bahwa gluten bukanlah zat berbahaya. Justru, menghindarinya tanpa alasan medis bisa membawa risiko bagi tumbuh kembang anak. Berikut alasannya:

1. Kekurangan Nutrisi Penting

Produk gandum utuh yang mengandung gluten kaya akan vitamin B, zat besi, magnesium, dan serat. Nutrisi-nutrisi ini penting untuk pertumbuhan otak, pencernaan, serta energi anak. Menghilangkan gluten tanpa pengganti yang tepat bisa membuat anak beresiko kekurangan gizi.

2. Kalori Tidak Cukup untuk Tumbuh Kembang

Anak-anak membutuhkan cukup kalori untuk mendukung pertumbuhan mereka. Saat makanan berbasis gandum dihilangkan, sering kali jumlah kalori harian berkurang. Akibatnya, anak bisa mudah lelah, berat badannya sulit naik, dan aktivitasnya menurun. 

 

3 dari 3 halaman

3. Risiko Paparan Arsenik dari Produk Berbasis Beras

Diet bebas gluten hanya disarankan jika anak telah didiagnosa memiliki penyakit celiac, alergi gandum, atau sensitivitas gluten berdasarkan hasil tes dokter. [Dok/freepik.com]

Sebagian besar makanan gluten-free menggunakan beras sebagai bahan utama. Namun, penelitian menunjukkan bahwa beras dapat mengandung arsenik dalam jumlah tertentu. Jika dikonsumsi terus-menerus, arsenik dapat memengaruhi perkembangan otak dan bahkan meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang.

Diet bebas gluten hanya disarankan jika anak telah didiagnosa memiliki penyakit celiac, alergi gandum, atau sensitivitas gluten berdasarkan hasil tes dokter. Menghapus gluten tanpa pengawasan medis bisa berisiko menyebabkan kekurangan nutrisi dan membatasi pilihan makanan anak.

Selain itu, pola makan gluten-free juga bisa membuat anak merasa berbeda di sekolah atau saat bermain bersama teman, karena keterbatasan makanan yang bisa dikonsumsi.

Sahabat Fimela, keputusan untuk menjalani diet bebas gluten sebaiknya tidak diambil hanya karena tren atau asumsi bahwa gluten itu buruk. Jika anak sering mengeluh tidak nyaman setelah makan makanan berbasis gandum, segera konsultasikan dengan dokter sebelum mengubah pola makannya.