10 Cara Efektif Hilangkan Distraksi Digital agar Tetap Fokus, Produktif, dan Terhindar dari Burnout di Tempat Kerja

Siti Nur ArishaDiterbitkan 26 Januari 2026, 18:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Di tengah kemajuan teknologi, pekerjaan terasa semakin mudah dilakukan berkat kehadiran berbagai perangkat digital. Komunikasi lintas waktu dan tempat kini bisa dilakukan hanya dalam hitungan detik. Namun di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru yang tak kalah besar yaitu distraksi digital.

Notifikasi dari media sosial, chat grup kantor, hingga e-mail yang datang tanpa henti sering kali membuat fokus terpecah. Akibatnya, pekerjaan terasa lebih berat, target sulit tercapai, bahkan bisa memicu stres dan kelelahan mental. Tanpa disadari, waktu produktif banyak terbuang hanya karena kita terlalu sering berpindah antara layar satu ke layar lainnya.

Menurut riset dari Psychology Today, butuh waktu sekitar 23 menit bagi otak untuk kembali fokus setelah teralih oleh gangguan digital. Bayangkan jika dalam satu jam kamu beberapa kali tergoda membuka notifikasi — berapa banyak waktu produktif yang hilang begitu saja? Supaya hal ini tidak terus terjadi, berikut sepuluh cara efektif yang bisa membantu kamu mengelola distraksi digital dan meningkatkan konsentrasi selama bekerja. Simak penjelasannya ya Sahabat Fimela!

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

1. Gunakan Aplikasi Pemblokir Distraksi untuk Menjaga Fokus Penuh

Teknologi yang jadi sumber gangguan juga bisa jadi solusi. Cobalah aplikasi seperti Freedom, Forest, atau StayFocusd untuk memblokir situs, media sosial, dan aplikasi yang sering mengalihkan perhatian. (foto/dok: freepik)

Teknologi yang jadi sumber gangguan juga bisa jadi solusi. Cobalah aplikasi seperti Freedom, Forest, atau StayFocusd untuk memblokir situs, media sosial, dan aplikasi yang sering mengalihkan perhatian. Kamu bisa mengatur waktu pemblokiran sesuai jam kerja atau saat butuh fokus penuh menyelesaikan tugas penting. Dengan begitu, dorongan untuk “sekadar membuka Instagram sebentar” bisa dikendalikan lebih baik.

2. Terapkan Teknik Time Blocking agar Waktu Kerja Lebih Terstruktur

Teknik time blocking membuat kamu membagi waktu kerja dalam blok-blok khusus untuk setiap jenis tugas. Misalnya, dua jam pertama untuk pekerjaan utama, satu jam berikutnya untuk rapat atau e-mail, dan setengah jam terakhir untuk perencanaan. Metode ini membantu otak fokus pada satu hal dalam satu waktu tanpa terganggu hal lain. Selain itu, kamu jadi lebih mudah mengukur efektivitas dan kemajuan setiap harinya.

3. Batasi Waktu Mengecek Email dan Chat agar Tidak Teralih Terus-Menerus

Kebiasaan mengecek e-mail atau pesan setiap beberapa menit bisa jadi pemicu distraksi utama. Cobalah tentukan waktu khusus, misalnya hanya tiga kali sehari — pagi, siang, dan sore. Dengan begitu, kamu bisa tetap responsif terhadap komunikasi kerja, tanpa kehilangan fokus pada tugas utama. Cara sederhana ini juga membantu menurunkan stres karena kamu tak lagi diburu-burui notifikasi setiap saat.

4. Manfaatkan Waktu Pagi untuk Pekerjaan yang Butuh Konsentrasi Tinggi

Pagi hari biasanya jadi waktu terbaik bagi banyak orang untuk berpikir jernih dan produktif. Gunakan momen ini untuk menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan fokus mendalam, seperti menulis laporan, membuat strategi, atau brainstorming ide kreatif. Hindari menjadwalkan rapat atau membuka media sosial di jam-jam awal agar energi mentalmu digunakan secara maksimal untuk hal yang paling penting.

5. Bangun Motivasi dan Disiplin Diri agar Konsisten Fokus

Motivasi tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari diri sendiri. Biasakan memberi hadiah kecil setelah berhasil menjaga fokus seperti istirahat sejenak, membuat kopi, atau berjalan keluar ruangan. Kebiasaan sederhana ini bisa membantu otak merasa dihargai atas kerja kerasnya, dan membuatmu lebih disiplin menjaga ritme produktif setiap hari.

3 dari 3 halaman

6. Tetapkan Tujuan dan Prioritas Harian agar Arah Kerja Lebih Jelas

Mulailah hari dengan menuliskan tiga sampai lima hal terpenting yang harus diselesaikan. Daftar prioritas ini bisa jadi panduan agar kamu tahu mana yang benar-benar mendesak dan mana yang bisa dikerjakan nanti. (foto/dok: freepik)

Mulailah hari dengan menuliskan tiga sampai lima hal terpenting yang harus diselesaikan. Daftar prioritas ini bisa jadi panduan agar kamu tahu mana yang benar-benar mendesak dan mana yang bisa dikerjakan nanti. Dengan fokus pada prioritas utama, kamu tidak mudah terdistraksi oleh tugas kecil atau notifikasi yang tidak penting.

7. Ciptakan Ruang Kerja yang Tenang dan Minim Gangguan

Lingkungan kerja sangat memengaruhi kemampuan fokus seseorang. Rapikan meja, jauhkan ponsel dari jangkauan tangan, dan aktifkan mode “Do Not Disturb” saat butuh waktu tanpa gangguan. Kalau bekerja di rumah, beri tahu anggota keluarga bahwa kamu sedang dalam jam fokus agar mereka tidak mengganggu. Suasana kerja yang tenang bisa membantu otak bekerja lebih efisien.

8. Gunakan Media Sosial dengan Cerdas dan Terukur

Media sosial memang bisa bermanfaat untuk pekerjaan, tapi juga jadi sumber distraksi besar jika tidak dikontrol. Gunakan fitur screen time atau digital wellbeing untuk memantau waktu yang kamu habiskan di platform tersebut. Cobalah batasi penggunaannya di jam kerja, dan hanya buka saat istirahat atau ketika memang dibutuhkan untuk keperluan profesional.

9. Dorong Komunikasi Terbuka dan Sehat di Lingkungan Kerja

Tak semua orang berani mengakui kalau mereka kesulitan fokus karena distraksi digital. Padahal, membicarakan hal ini bisa membuka jalan untuk solusi bersama. Kamu bisa mengusulkan kebijakan seperti “jam tanpa notifikasi” di kantor atau pelatihan manajemen fokus. Dengan komunikasi terbuka, lingkungan kerja akan terasa lebih suportif dan efisien.

10. Beri Waktu untuk Istirahat Sejenak dari Layar

Mata dan otak juga butuh waktu untuk beristirahat. Terapkan aturan Pomodoro yaitu bekerja 50 menit, lalu rehat 10 menit untuk sekadar peregangan, berjalan, atau melihat pemandangan luar jendela. Jeda singkat ini bukan hanya mengurangi kelelahan digital, tapi juga membantu otak kembali segar dan siap untuk berpikir lebih jernih.

Penulis: Siti Nur Arisha