Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, setiap anak bisa mengalami ledakan emosi dan mengeluarkannya dengan cara menangis keras, berteriak, bahkan melempar barang, terutama saat mereka merasa kewalahan dengan banyaknya rangsangan di sekitar. Kondisi ini dikenal sebagai overstimulasi, dan sering kali menjadi pemicu utama anak mengalami tantrum.
Dilansir dari parents.com, overstimulasi terjadi ketika tubuh dan pikiran anak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu bersamaan. Bisa dari suara bising, cahaya terang, keramaian, atau bahkan aktivitas yang terlalu padat. Anak yang masih kecil belum mampu memproses semua rangsangan itu sekaligus, sehingga sistem saraf mereka “kelebihan muatan”. Akibatnya, mereka mudah lelah, rewel, dan akhirnya mengalami tantrum sebagai bentuk pelepasan emosi.
Tanda-Tanda Anak Mengalami Overstimulasi
Setiap anak menunjukkan tanda yang berbeda, tergantung usia dan kepribadiannya. Untuk bayi biasanya menunjukkan reaksi dengan menangis, menggeliat, atau memalingkan kepala dari sumber suara dan cahaya. Sementara untuk anak balita dan anak pra-sekolah bisa menjadi lebih rewel, menolak disentuh, atau tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas.
Lalu, untuk anak usia sekolah mungkin menunjukkan perilaku gelisah, mudah marah, sulit fokus, bahkan bisa tampak “terputus” dari lingkungan sekitarnya. Jika tantrum muncul tiba-tiba setelah acara ramai atau aktivitas panjang, besar kemungkinan penyebabnya adalah overstimulasi, bukan semata-mata anak “manja”.
Cara Menghadapi Anak Tantrum karena Overstimulasi
Segera kurangi rangsangan di sekitar anak. Bawa anak ke tempat yang lebih tenang dan minim cahaya atau suara. Jika sedang di luar rumah, ajak ke ruangan yang sepi, atau matikan televisi dan musik jika berada di rumah.Tunjukkan ketenangan. Anak akan mencerminkan emosi orangtuanya. Jika Sahabat Fimela panik atau marah, anak justru akan semakin sulit menenangkan diri. Coba peluk lembut, usap punggungnya, dan biarkan mereka menangis hingga tenang.Berikan waktu untuk “recharge.”
Setelah situasi terkendali, jangan langsung mengajak anak beraktivitas lagi. Anak membutuhkan waktu untuk pulih dari kelelahan sensorik. Aktivitas sederhana seperti membaca buku, memeluk boneka, atau duduk diam bisa membantu.Hindari memarahi atau memberi ceramah saat tantrum.Ingat, tantrum karena overstimulasi bukan perilaku manipulatif.
Anak tidak sedang berusaha “menantang” orangtuanya, melainkan kesulitan mengatur emosi akibat terlalu banyak rangsangan.Latih anak mengenali perasaannya.Setelah mereka tenang, bantu anak memahami apa yang baru saja terjadi. Misalnya, “Tadi di taman ramai banget ya, makanya kamu capek.” Dengan begitu, anak belajar mengenali batas dirinya dan tahu kapan harus beristirahat.
Cara Mencegah Overstimulasi Terjadi
Sahabat Fimela, untuk mencegah overstimulasi terjadi kamu dapat mulai dengan mengenali batas anak. Jika anak mudah lelah atau sensitif terhadap kebisingan, hindari jadwal yang terlalu padat. Selain itu, kamu juga dapat menyiapkan “zona tenang” di rumah. Sediakan sudut khusus yang nyaman bagi anak untuk menenangkan diri.
Selain itu, kamu juga harus memperhatikan rutinitas dasar anak. Pastikan anak cukup tidur, makan teratur, dan mendapat waktu istirahat setelah aktivitas ramai. Dan yang terakhir jangan lupa untuk berkomunikasi dengan pengasuh atau guru. Jika anak sering tantrum di tempat lain, sampaikan pada pihak yang menemani agar tahu cara menanganinya.
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?
Jika anak sering mengalami tantrum berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, atau tampak sangat sensitif terhadap suara, cahaya, atau sentuhan, Sahabat Fimela bisa berkonsultasi ke dokter anak atau psikolog. Mereka dapat membantu menilai apakah anak membutuhkan dukungan khusus untuk mengelola sensori dan emosinya.