SPPG Margomulyo jadi Contoh Dapur Ramah Lingkungan, Sulap Limbah Menjadi Pupuk dan Bio Solar

nofie tessarDiterbitkan 01 Januari 2026, 13:00 WIB

Fimela.com, Sleman - Di balik dapur sederhana yang terletak di Margomulyo, Seyegan, Sleman, sebuah inovasi besar lahir dari kepedulian terhadap gizi dan lingkungan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Margomulyo kini menjadi sorotan sebagai dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tak hanya menyiapkan makanan sehat bagi anak-anak, tetapi juga konsisten menerapkan prinsip zero waste.

Langkah ini mendapat apresiasi penuh dari Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam kunjungannya, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menyampaikan bahwa SPPG kini dituntut untuk lebih dari sekadar memberi makan. Mereka juga harus peduli pada lingkungan.

“SPPG harus memikirkan bagaimana sisa pangan dan limbah dapur dapat diolah kembali agar tidak mencemari lingkungan. Kami mengapresiasi SPPG Margomulyo yang sudah menerapkan konsep dapur hijau dan zero waste secara konsisten,” ujar Hida, Jumat (5/12).

Tak hanya berhenti pada apresiasi, Hida menyebut praktik baik ini sebagai contoh nyata transformasi sistem pangan yang berkelanjutan.

“BGN akan terus mendorong agar praktik baik seperti ini diperluas, direplikasi, dan menjadi bagian dari budaya kerja SPPG di seluruh wilayah,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ranto, Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah 3 BGN, yang menegaskan pentingnya standar ramah lingkungan untuk semua dapur MBG.

“Ke depan, kami ingin setiap SPPG memiliki standar pengelolaan limbah yang jelas dan terukur. Tujuannya agar pelaksanaan MBG tidak hanya memastikan gizi masyarakat terpenuhi, tetapi juga tidak meninggalkan beban lingkungan,” jelasnya.

Dari Maggot hingga Bio Solar, Semua Bisa Dimanfaatkan

Langkah konkret itu terlihat nyata di dapur yang dipimpin oleh Joni Prasetyo, Kepala SPPG Margomulyo. Di sana, tidak ada istilah “sisa” yang dibuang begitu saja. Segala sesuatu dimanfaatkan, baik untuk kebutuhan dapur maupun lingkungan sekitar.

“Kami memanfaatkan biopori sebagai resapan air sekaligus media pengolahan limbah organik. Tidak ada sisa makanan yang tidak dimanfaatkan. Limbah organik kami jadikan pakan maggot atau masuk ke biopori sebagai pupuk organik,” jelas Joni.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa limbah non-organik seperti minyak jelantah dan plastik pun tidak luput dari proses daur ulang.

“Untuk limbah non organik, kami berkolaborasi dengan TP3SR agar diolah menjadi bio solar ramah lingkungan,” lanjutnya.

Ramah Lingkungan Itu Menular dan Menginspirasi

Apa yang dilakukan SPPG Margomulyo tak hanya berhenti di tataran teknis, tapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan edukatif. Hal ini pun disambut positif oleh Molly Prabawaty, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Bidang Komunikasi dan Media Massa.

“Praktik zero waste yang dilakukan SPPG Margomulyo menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi pemerintah dan masyarakat dapat menciptakan ekosistem pangan yang sehat sekaligus berkelanjutan,” ucap Molly.

Ia pun menekankan pentingnya menyebarkan inspirasi ini ke berbagai daerah di Indonesia, agar dapur MBG tak hanya menjadi tempat memasak, tetapi juga pusat perubahan.

“Penerapan dapur ramah lingkungan sejalan dengan kampanye nasional untuk mengurangi sampah dan memaksimalkan ekonomi sirkular,” tutupnya.

What's On Fimela