Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, grup ibu yang seharusnya menjadi sumber dukungan dan komunitas bagi para ibu baru, kini seringkali berubah menjadi lingkungan yang "beracun". Fenomena ini memicu perasaan terisolasi bagi banyak perempuan, padahal niat awalnya adalah membangun koneksi yang positif.
Sorotan terhadap isu ini semakin kuat setelah aktris Ashley Tisdale membagikan pengalamannya keluar dari grup ibu selebriti. Esai yang ia tulis memicu perdebatan luas dan resonansi dari banyak ibu lain yang merasakan hal serupa.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa grup-grup ini justru dapat menimbulkan kecemasan, persaingan, dan perasaan tidak aman. Para ahli pun menyoroti beberapa faktor yang berkontribusi terhadap toksisitas dalam grup ibu modern ini.
Ketika Dukungan Berubah Menjadi Kecemasan dan Ketidakamanan
Banyak ibu baru, terutama yang pertama kali, merasa sangat rentan dan berada dalam "mode bertahan hidup". Sistem saraf mereka teraktivasi karena ketidakpastian dalam peran baru ini.
Hilangnya validasi dari lingkungan kerja sebelumnya juga dapat menyebabkan pergeseran identitas yang signifikan. Pada masa ini, koneksi sosial terasa sangat penting bagi para ibu.
Sayangnya, grup-grup ibu yang awalnya diharapkan menjadi jaringan dukungan yang membantu, seringkali tidak sesuai dengan harapan ideal. Realitasnya dapat sangat berbeda dan mengecewakan.
Persaingan dan Hierarki Tak Terucapkan di Grup Ibu Modern
Menurut Amalya Tagakchyan, seorang terapis, ketika ibu-ibu memasuki grup ini dan merasakan "perasaan beracun", itu adalah tanda bahwa lingkungan tersebut tidak terasa aman. Kondisi ini justru dapat memperkuat rasa keraguan diri serta ketidakamanan.
Persaingan seringkali menjadi pemicu permusuhan yang tajam dalam grup ibu. Hal ini bisa terjadi pada berbagai aspek, mulai dari status sosial hingga pencapaian anak-anak mereka.
Dr. Christie Ferrari, seorang terapis, mencatat bahwa grup ibu bisa sangat mendukung jika dibangun di atas dasar saling menghormati dan komunikasi yang jelas. Namun, grup tersebut dapat dengan cepat hancur jika diorganisir berdasarkan persaingan dan rivalitas.
Beberapa wanita bahkan menjadi target bukan karena mereka melakukan kesalahan, melainkan karena mereka dianggap berbeda, terlalu percaya diri, atau berada di luar aturan hierarki yang tidak terucapkan.
Menavigasi Lingkungan Beracun: Tips untuk Sahabat Fimela
Amalya Tagakchyan menjelaskan bahwa pengalaman negatif dalam grup ibu dapat memicu respons sistem saraf yang mirip dengan masa sekolah menengah. Hal ini berasal dari ketakutan bahwa orang lain lebih disukai daripada diri sendiri.
Bagi para ibu yang menghadapi ketegangan dalam grup orang tua, Dr. Ferrari menyarankan untuk menghindari bahasa yang defensif. Pendekatan yang lebih tenang dan tidak menuduh dapat membantu meredakan situasi.
Alih-alih bertanya, "Mengapa Anda tidak mengundang saya?", Ferrari menyarankan untuk mencoba sesuatu yang tidak terlalu menuduh. Contohnya, "Itu terlihat menyenangkan... Saya tidak tahu kalian semua berkumpul."
Meskipun grup ibu dapat dimulai dengan niat baik sebagai jaringan dukungan, realitasnya seringkali berbeda. Penting bagi para ibu untuk mengenali tanda-tanda toksisitas demi kesejahteraan mental mereka.