Fimela.com, Jakarta - Bangun pagi menjadi momen awal untuk menyambut hari. Ada semangat baru untuk menjalani hari baru, tapi bagaimana jadinya jika saat membuka mata di pagi hari tapi mendapati diri berubah menjadi sosok serangga raksasa? Inilah yang dialami leh Gregor Samsa dalam The Metamorphosis karya Franz Kafka.
Novella tipis ini bisa dibilang memang tidak menawarkan kisah yang “menyenangkan” dalam arti konvensional, tetapi justru menghadirkan pengalaman membaca yang mengendap lama di benak. The Metamorphosis seperti menggambarkan potret manusia modern yang terasa semakin relevan, bahkan di tengah gaya hidup serba cepat dan penuh tuntutan saat ini.
Menghadirkan Momen Refleksi dan Kontemplasi
Cerita The Metamorphosis dibuka dengan adegan yang mengejutkan: Gregor Samsa terbangun suatu pagi dan mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa. Tidak ada pengantar panjang, tidak ada penjelasan dramatis.
Kafka seolah sengaja melempar kita sebagai pembaca langsung ke dalam absurditas hidup, seperti cara masalah besar sering datang dalam kehidupan nyata, yang sangat tiba-tiba, tanpa aba-aba, dan tanpa peduli apakah kita siap atau tidak.
Dari awal cerita, kita akan langsung diajak memahami bahwa inti cerita ini bukan tentang bagaimana atau mengapa perubahan itu terjadi, melainkan tentang bagaimana seseorang menjalani hidup setelah kehilangan bentuk “normal”-nya.
Gregor sebelum metamorfosis merupakan seorang salesman yang tidak mencintai pekerjaannya, tetapi tetap menjalaninya dengan disiplin karena merasa bertanggung jawab atas kondisi ekonomi keluarganya. Ia bahkan rela menunda mimpi, keinginan, bahkan kelelahan dirinya sendiri demi memenuhi ekspektasi orang lain.
Ketika Gregor berubah menjadi serangga, hal pertama yang ia pikirkan bukanlah nasibnya, melainkan kekhawatiran akan terlambat bekerja. Di sinila kita seperti akan ikut tersindir tentang bagaimana manusia kerap menempatkan kewajiban di atas kemanusiaan dirinya sendiri.
Seiring cerita berjalan, fokus The Metamorphosis perlahan bergeser dari kondisi fisik Gregor ke dinamika relasi di dalam keluarganya. Ayah, ibu, dan adiknya Grete awalnya diliputi rasa takut dan jijik. Lalu, perasaan mereka berubah menjadi kelelahan, lalu penolakan.
Gregor dikurung di kamar, pintunya jarang dibuka, dan keberadaannya dianggap mengganggu. Kasih sayang yang dulu ada ternyata sangat bergantung pada peran dan fungsi dirinya belaka. Sungguh menyedihkan.
Yang membuat novella ini begitu kuat adalah cara Kafka menunjukkan bahwa perubahan terbesar justru terjadi pada keluarga Gregor, bukan pada Gregor sendiri.
Ketika Gregor tak lagi bisa bekerja dan menghasilkan uang, anggota keluarganya perlahan menjadi mandiri. Ayah kembali bekerja, ibu mengambil pekerjaan menjahit, dan Grete mulai tumbuh dewasa dengan caranya sendiri.
Secara ironis, kemajuan mereka terjadi bersamaan dengan kemunduran Gregor. Gregor menjadi sosok yang semakin terasing, semakin kehilangan tempat, hingga akhirnya keberadaannya terasa tidak diperlukan lagi.
Melalui The Metamorphosis, Kafka seperti ingin menyampaikan bahwa dalam banyak relasi, nilai seseorang sering kali diukur dari sejauh mana ia berguna. Ketika kegunaan itu hilang, cinta pun memudar.
Gregor tidak pernah benar-benar diperlakukan sebagai anggota keluarga dengan kebutuhan emosional. Kehadirannya malah lebih mirip mesin penghasil uang yang rusak. Begitu mesin itu berhenti berfungsi, ia disingkirkan.
Dalam konteks gaya hidup modern, alasan mengapa banyak orang masih merasa sangat relate dengan Gregor Samsa menjadi semakin jelas. Dunia saat ini sering memuja produktivitas, kesibukan, dan pencapaian.
Banyak orang merasa hanya dihargai ketika mereka “berfungsi” dengan baik. Lelah sering dianggap kelemahan, istirahat dianggap kemalasan.
Seperti Gregor, banyak individu yang bangun setiap hari dengan perasaan tertekan, menjalani rutinitas yang tidak mereka cintai, dan menunda kebahagiaan dengan janji samar “nanti, kalau sudah selesai”.
The Metamorphosis juga berbicara tentang kesepian yang tidak selalu berarti sendirian. Gregor dikelilingi keluarganya, tetapi ia tetap terisolasi secara emosional. Jenis kesepian ini dialami oleh sebagian besar masyarakat modern, yaitu kesepian di tengah hubungan, di tengah keramaian, bahkan di tengah keluarga sendiri.
Gaya penulisan Kafka yang lugas dan nyaris dingin justru membuat The Metamorphosis terasa elegan nan berkelas. Setiap adegan disajikan apa adanya, memberi ruang bagi kita sebagai pembaca untuk merasakan dan menafsirkan sendiri.
Novella ini cocok dibaca siapa saja, termasuk Sahabat Fimela yang menyukai bacaan reflektif atau bacaan yang memberi ruang kontemplasi dan perenungan. Bahkan kisah yang dialami oleh Gregor ini bisa menghadirkan perubahan transformatif bagi banyak orang, khususnya yang merasa terjebak dengan kehidupan yang bergerak sangat cepat dengan tuntutan yang tak ada habisnya.
Akhir cerita The Metamorphosis mungkin terasa pahit, bahkan menyedihkan. Membaca The Metamorphosis menghadirkan pengalaman yang personal.
Setiap pembaca akan menemukan cerminnya sendiri di dalam sosok Gregor Samsa. Ada yang melihat dirinya sebagai pekerja yang lelah, ada yang melihat dirinya sebagai anak yang memikul ekspektasi keluarga, ada pula yang melihat dirinya sebagai individu yang terlalu lama menomorduakan kebutuhan batinnya sendiri.
Novella ini tipis, tetapi maknanya luas, yang mengingatkan kita bahwa menjadi manusia bukan hanya soal berfungsi, melainkan juga soal merasa, memilih, dan hidup dengan kesadaran. Dan mungkin, setelah membaca kisah Gregor Samsa, kita akan lebih berani bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar menjalani hidup dengan sepenuh hati, atau sekadar menjalani kesibukan tanpa arti?