Kesalahan Pola Asuh yang Tanpa Sadar Sering Dilakukan Orangtua dan Dampaknya Jangka Panjang

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 17 Februari 2026, 21:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, hampir semua orangtua memiliki niat yang sama, yaitu membesarkan anak dengan cara terbaik. Ada orangtua yang ingin belajar dari kesalahan orangtuanya di masa lalu, ada pula yang justru tumbuh dari keluarga yang sangat terstruktur hingga merasa terbebani oleh standar tinggi tersebut.

Apapun latar belakangnya, satu hal yang sering luput disadari adalah bahwa kesalahan pola asuh yang tanpa sadar sering dilakukan orangtua dapat meninggalkan dampak jangka panjang pada perkembangan emosional anak.

Saat membayangkan peran sebagai orangtua, banyak yang tak menyangka bahwa prosesnya akan begitu membingungkan sekaligus penuh makna. Tak sedikit orangtua yang merasa tidak siap dan kewalahan, lalu mencari jawaban melalui buku, artikel, hingga media sosial.

Namun, pelajaran terbesar sering kali datang dari pengalaman, baik dari pola asuh yang ingin ditiru, maupun yang sebaiknya dihindari. Dilansir dari ibelive.com, berikut ini adalah beberapa kesalahan pola asuh yang tanpa sadar seringkali dilakukan oleh orangtua dan berdampak jangka panjang bagi anak! 

Tekanan untuk “Mendidik dengan Benar” Bisa Menjadi Beban

Dalam proses mendidik anak, orangtua kerap dibayangi ketakutan, entah itu adalah takut salah mendidik, takut anak tumbuh jauh dari nilai-nilai kebaikan, atau takut hubungan antara orangtua dan anak menjadimerenggang di masa depan.

Tekanan inilah yang tanpa disadari mendorong orangtua melakukan pola asuh tertentu dengan niat baik, tetapi berujung pada dampak yang kurang sehat. Padahal, tidak ada orangtua yang sempurna. Kesalahan adalah bagian dari proses, begitu pula dalam membesarkan anak. 

 

 

2 dari 3 halaman

Menciptakan Rasa Takut Gagal Sejak Dini

Sebagai orangtua, kamu perlu menunjukkan bahwa gaga adalah bagian dari belajar. [Dok/freepik.com]

Salah satu kesalahan pola asuh yang tanpa sadar sering dilakukan orangtua adalah menanamkan standar tinggi tanpa diimbangi ruang untuk gagal. Anak yang tumbuh dengan ketakutan akan kegagalan cenderung ragu mencoba hal baru, takut mengambil risiko, dan merasa nilainya hanya diukur dari prestasi.

Alih-alih menuntut kesempurnaan, orangtua perlu menunjukkan bahwa gagal adalah bagian dari belajar. Anak yang tahu bahwa kasih sayang orangtuanya tidak bergantung pada pencapaian akan tumbuh lebih berani dan percaya diri.

Mengasuh Anak Saat Emosi Belum Terkendali

Mengasuh anak dalam kondisi marah atau frustrasi sering kali menghasilkan kata-kata yang disesali kemudian. Pola asuh berbasis emosi sesaat bukan hanya melukai perasaan anak, tetapi juga melemahkan hubungan jangka panjang.

Memberi jeda pada diri sendiri sebelum menegur anak justru mengajarkan satu hal penting: bagaimana mengelola emosi dengan sehat. Anak belajar bukan dari nasihat semata, tetapi dari contoh nyata.

Terlalu Mengontrol dan Membuatkan Semua Keputusan

Niat melindungi anak sering kali berubah menjadi kontrol berlebihan. Anak yang selalu dibuatkan keputusan akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak mampu menentukan pilihan sendiri. Ini termasuk kesalahan pola asuh yang tanpa sadar sering dilakukan orangtua, terutama di tengah keinginan melihat anak “aman” dan “tidak salah langkah”. Memberi anak kesempatan memilih dan belajar dari konsekuensinya adalah bekal penting untuk kemandirian dan rasa percaya diri.

 

 

3 dari 3 halaman

Kurang Mendengarkan, Terlalu Banyak Menasihati

Sahabat Fimela, anak yang merasa tidak didengar akan centering menutup diri dan enggan berbagi cerita. [Dok/freepik.com/user18526052]

Dalam keseharian, orangtua sering berada di posisi yang lebih banyak berbicara dibanding mendengarkan. Padahal, anak yang merasa tidak didengar akan cenderung menutup diri dan enggan berbagi cerita, terutama saat memasuki usia remaja.

Mendengarkan secara aktif, tanpa menghakimi, membantu membangun hubungan yang aman dan penuh kepercayaan. Dari sinilah komunikasi sehat bisa tumbuh.

Fokus Mengoreksi, Lupa Membangun Koneksi Emosional

Saat anak berperilaku kurang baik, refleks pertama orangtua sering kali adalah menegur dan mengoreksi. Namun, koreksi tanpa koneksi emosional hanya menghasilkan perubahan perilaku sementara.

Menggali emosi di balik perilaku anak, apakah ia lelah, kecewa, atau merasa tidak dipahami, justru dapat membantu anak dalam menciptakan perubahan yang lebih bermakna dan tahan lama.

Menyimpan Kesalahan Masa Lalu Anak

Mengungkit kesalahan lama anak adalah bentuk pola asuh yang tanpa sadar mengajarkan bahwa perubahan tidak mungkin terjadi. Anak pun belajar bahwa penerimaan bersifat bersyarat. Memberi ruang untuk memperbaiki diri, lalu benar-benar memaafkan, adalah cara orangtua menanamkan nilai kasih, pertumbuhan, dan tanggung jawab.