Kenali 6 Tips Melatih Anak Mengelola Emosi agar Lebih Tenang dan Percaya Diri

Siti Nur ArishaDiterbitkan 17 Februari 2026, 20:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Anak-anak kerap menunjukkan emosi mereka lewat tangisan, teriakan, atau tantrum, terutama ketika merasa kecewa, marah, atau tidak dipahami. Hal ini wajar terjadi karena pada usia dini, anak belum memiliki kemampuan untuk mengenali dan menenangkan perasaannya sendiri. Saat emosi terasa terlalu besar di dalam tubuh, perilaku menjadi satu-satunya cara bagi anak untuk mengekspresikannya.

Karena itu, menegur atau meminta anak berhenti menangis sering kali tidak menyelesaikan masalah. Perilaku hanyalah tampilan luar dari apa yang sebenarnya sedang dirasakan anak. Jika orangtua ingin membantu anak berubah dalam jangka panjang, fokusnya perlu diarahkan pada penguatan kemampuan anak dalam mengenali dan mengelola emosinya, bukan sekadar menghentikan perilaku yang muncul.

Peran orangtua sangat penting karena anak belajar mengatur emosi melalui hubungan yang aman dan respons yang menenangkan dari orang dewasa. Dengan sikap yang konsisten dan penuh empati, orangtua membantu anak membangun keterampilan regulasi emosi yang akan berguna sepanjang hidup. Yuk Sahabat Fimela, kenali tips berikut yang dilansir dari Good Inside.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

1. Tunjukkan Cara Mengelola Emosi lewat Contoh

Jika merasa kesal, cobalah berhenti sejenak, tarik napas, dan ucapkan kalimat penenang pada diri sendiri. Bila terlanjur marah, memperbaiki keadaan dengan meminta maaf justru menjadi pelajaran berharga bagi anak tentang tanggung jawab emosional. (foto/dok: freepik)

Anak belajar paling efektif melalui pengamatan. Saat orangtua mampu tetap tenang di situasi sulit, anak melihat bahwa emosi besar bisa dihadapi tanpa ledakan. Jika merasa kesal, cobalah berhenti sejenak, tarik napas, dan ucapkan kalimat penenang pada diri sendiri. Bila terlanjur marah, memperbaiki keadaan dengan meminta maaf justru menjadi pelajaran berharga bagi anak tentang tanggung jawab emosional.

2. Jadikan Obrolan tentang Perasaan sebagai Kebiasaan

Membicarakan perasaan tidak harus menunggu anak tantrum. Orangtua bisa mulai dengan menceritakan perasaan sendiri, seperti saat lelah atau kecewa, tanpa menyalahkan anak. Cara ini membantu anak memahami bahwa perasaan adalah hal normal dan aman untuk dibicarakan, sekaligus melatih empati sejak dini.

3. Bantu Anak Mengenali dan Menamai Emosinya

Sering kali anak merasa tidak nyaman tetapi tidak tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan. Orangtua bisa membantu dengan menyebutkan kemungkinan emosi yang sedang terjadi, misalnya sedih, kecewa, atau marah. Dengan begitu, anak mulai mengenali sensasi emosinya dan belajar bahwa perasaan bisa diungkapkan dengan kata-kata, bukan hanya lewat tangisan atau teriakan.

4. Terima Perasaan Anak, Tetap Tegas pada Aturan

Memvalidasi emosi berarti mengakui perasaan anak tanpa harus selalu menuruti keinginannya. Misalnya, orangtua bisa mengatakan bahwa anak boleh merasa marah, tetapi tidak boleh memukul. Pendekatan ini membantu anak merasa dipahami sekaligus belajar bahwa ada batasan yang perlu dihormati dalam mengekspresikan emosi.

3 dari 3 halaman

5. Dampingi Anak Saat Tantrum Terjadi

Tantrum adalah bagian dari proses belajar mengelola emosi. Dalam kondisi ini, tugas orangtua bukan untuk segera menghentikan tangisan, melainkan memastikan anak tetap aman dan merasa ditemani. Sikap tenang dan kehadiran yang konsisten akan membantu anak perlahan belajar menenangkan diri setelah emosinya memuncak. (foto/dok: freepik)

Tantrum adalah bagian dari proses belajar mengelola emosi. Dalam kondisi ini, tugas orangtua bukan untuk segera menghentikan tangisan, melainkan memastikan anak tetap aman dan merasa ditemani. Sikap tenang dan kehadiran yang konsisten akan membantu anak perlahan belajar menenangkan diri setelah emosinya memuncak.

6. Ajarkan Keterampilan Menenangkan Diri

Anak membutuhkan alat untuk menghadapi perasaan besar. Orangtua bisa mengajarkan teknik sederhana seperti menarik napas perlahan, mengucapkan kalimat penyemangat, atau membicarakan situasi yang menegangkan sebelum terjadi. Keterampilan ini akan membantu anak lebih siap menghadapi kekecewaan dan frustrasi di kemudian hari.

Melatih anak mengelola emosi memang membutuhkan waktu dan kesabaran, tetapi dampaknya sangat besar bagi perkembangan mental dan sosial anak. Setiap respons tenang, empati, dan pendampingan yang konsisten dari orangtua menjadi fondasi penting bagi kemampuan anak dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan bekal regulasi emosi yang baik, anak akan tumbuh lebih percaya diri, tangguh, dan mampu menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain.

Penulis: Siti Nur Arisha