Ini Dia Cara Tepat Menggunakan Lampu Tidur untuk Anak Raih Kualitas Istirahat Optimal

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 27 Januari 2026, 20:36 WIB

ringkasan

  • Paparan cahaya, terutama cahaya biru dari perangkat elektronik, mengganggu produksi melatonin dan ritme sirkadian, sehingga memengaruhi kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan.
  • Cahaya merah, kuning, oranye, dan amber adalah pilihan warna lampu tidur terbaik karena memiliki panjang gelombang yang tidak menekan melatonin dan menciptakan suasana relaksasi yang mendukung tidur optimal.
  • Penggunaan lampu tidur yang tepat meliputi pemilihan kecerahan rendah, penempatan strategis di area rendah, menghindari cahaya biru, dan waktu penggunaan yang sesuai untuk meningkatkan kualitas istirahat bagi anak-anak.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, tidur berkualitas adalah fondasi penting bagi kesehatan fisik dan mental anak kita. Namun, seringkali kita mengabaikan salah satu faktor krusial yang memengaruhi istirahat malam, yaitu pencahayaan di kamar tidur. Lingkungan tidur yang tepat dapat membantu tubuh mencapai fase istirahat yang lebih dalam dan optimal, sehingga kita terbangun dengan energi yang penuh.

Paparan cahaya, terutama cahaya biru yang dipancarkan oleh perangkat elektronik dan lampu hemat energi, dapat mengganggu siklus tidur alami tubuh. Cahaya ini secara signifikan menekan produksi melatonin, hormon pengatur tidur alami, membuat kita sulit tertidur dan tetap pulas.

Untungnya, ada solusi sederhana namun efektif untuk mengatasi tantangan ini: penggunaan lampu tidur yang bijak. Dengan memahami cara tepat menggunakan lampu Tidur, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung produksi melatonin dan ritme sirkadian, demi tidur yang lebih nyenyak dan berkualitas.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Pengaruh Cahaya pada Kualitas Tidur Anak

Pastikan kamar tidur tenang, lampu redup, suhu sejuk, dan bebas dari gangguan seperti TV atau gawai. Lingkungan yang kondusif membantu anak cepat rileks. (Foto: David Vilches/Unsplash)

Cahaya memainkan peran sentral dalam mengatur ritme sirkadian tubuh, yaitu jam biologis internal yang mengontrol siklus tidur-bangun alami kita. Saat hari mulai gelap, otak secara alami mulai memproduksi melatonin, hormon yang memberi sinyal kepada tubuh untuk bersiap tidur.

Namun, paparan cahaya buatan di malam hari, khususnya cahaya biru, dapat mengacaukan proses penting ini. Cahaya biru, yang memiliki panjang gelombang sekitar 450 hingga 480 nanometer, paling efektif dalam menekan produksi melatonin. Hal ini membuat tubuh tetap waspada dan sulit untuk merasa mengantuk, sehingga mengganggu kualitas tidur secara keseluruhan.

Lebih dari sekadar sulit tidur, paparan cahaya saat tidur juga dapat berdampak negatif pada kesehatan jangka panjang. Tidur dengan sedikit cahaya di ruangan dapat membahayakan jantung dan meningkatkan kadar insulin darah. Paparan cahaya buatan di malam hari telah dikaitkan dengan risiko masalah kesehatan kardiometabolik, serta dapat mengganggu metabolisme tubuh dan meningkatkan nafsu makan.

3 dari 4 halaman

Pilihan Warna Lampu Tidur Terbaik untuk Istirahat Optimal

Memilih warna lampu tidur yang tepat adalah kunci dalam menciptakan lingkungan tidur yang ideal. Cahaya merah adalah salah satu pilihan pencahayaan yang paling ramah tidur. Cahaya ini memiliki panjang gelombang yang lebih panjang dan cenderung tidak menekan produksi melatonin, bahkan dapat membantu meningkatkan produksinya. Cahaya merah juga menciptakan suasana yang menenangkan, mengurangi stres, dan membantu mengatur ritme sirkadian.

Selain merah, warna hangat seperti kuning dan oranye juga merupakan pilihan yang baik. Warna-warna ini memiliki panjang gelombang yang lebih panjang dan dampak minimal pada siklus sirkadian, serta dapat membantu merangsang produksi melatonin. Cahaya kuning dan oranye menciptakan suasana nyaman dan menenangkan, mirip dengan cahaya matahari terbenam.

Cahaya amber juga sangat direkomendasikan untuk relaksasi sebelum tidur. Warna hangat ini membantu menciptakan suasana yang menenangkan, memberi sinyal kepada tubuh untuk bersiap tidur, dan mendukung produksi melatonin.

4 dari 4 halaman

Panduan Praktis Cara Tepat Menggunakan Lampu Tidur

Untuk memaksimalkan manfaat lampu tidur, Sahabat Fimela perlu memperhatikan beberapa aspek penggunaannya. Pertama, pilihlah lampu tidur dengan kecerahan yang sangat rendah. Jika Anda bisa membaca buku dengan lampu tersebut, berarti cahaya terlalu terang. Kecerahan lampu tidur yang ideal adalah sekitar satu lux atau kurang, cukup lembut agar tidak mengganggu tidur, tetapi cukup untuk bernavigasi di ruangan.

Kedua, hindari cahaya biru atau putih dingin sama sekali. Cahaya jenis ini dapat menekan melatonin dan membangunkan otak, sehingga sangat kontraproduktif untuk tidur. Sebagai gantinya, fokuslah pada lampu dengan nuansa merah, oranye, atau amber.

Ketiga, perhatikan penempatan lampu tidur. Sebaiknya letakkan lampu lebih rendah ke tanah dan pastikan cahayanya tidak menerangi langit-langit. Posisi lampu yang tidak tepat di atas kepala juga disarankan untuk menghindari mata lelah. Gunakan lampu merah satu hingga dua jam sebelum tidur untuk membantu tubuh rileks. Jika Anda terbangun di malam hari, paparan cahaya merah akan lebih mudah membuat Anda kembali tidur dibandingkan cahaya biru atau hijau.

Lampu tidur juga sangat bermanfaat untuk anak-anak yang takut gelap, memberikan rasa aman. Cahaya merah adalah pilihan terbaik untuk kamar anak karena tidak mengganggu produksi melatonin. Namun, jika anak menganggap warna merah menakutkan, alternatif oranye atau amber bisa menjadi pilihan yang baik. Anak yang mengalami kecemasan atau sulit tidur juga bisa memanfaatkan lampu tidur hangat untuk relaksasi. Penting juga untuk menghindari layar elektronik setidaknya satu jam sebelum tidur, karena cahaya biru dari perangkat tersebut menunda pelepasan melatonin.