Kenali Aktivitas Seru Sturdy Play Bareng Anak untuk Melatih Batasan Positif Sejak Dini

Siti Nur ArishaDiterbitkan 01 Juni 2026, 22:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Memberi anak ruang untuk bergerak bebas sering kali membuat orangtua berada di posisi serba salah. Di satu sisi, orangtua ingin mendukung eksplorasi dan rasa ingin tahu anak, namun di sisi lain juga khawatir soal risiko jatuh, terbentur, atau masuk ke area yang kurang aman. Padahal, aktivitas fisik sangat dibutuhkan anak untuk mendukung perkembangan motorik, kognitif, dan emosional mereka. Karena itu, kunci utamanya bukan membatasi gerak anak, melainkan menyediakan ruang bermain yang aman dan terstruktur.

Di sinilah konsep sturdy play berperan. Sturdy play adalah aktivitas bermain di area yang sudah dipersiapkan agar anak bisa bergerak aktif dengan risiko minimal, seperti di play yard, pack and play, atau sudut bermain khusus di rumah. Anak tetap bebas mencoba, memanjat, merangkak, dan bermain sesuai tahap perkembangannya, namun dalam batas yang jelas dan konsisten. Dengan cara ini, anak tetap mendapatkan stimulasi yang cukup tanpa harus terus-menerus diingatkan atau dilarang.

Pendekatan ini juga membantu anak memahami aturan secara alami lewat lingkungan, bukan lewat larangan yang berulang. Dilansir dari Mother-U, sturdy play dapat membantu membangun rasa aman, kemandirian, serta kemampuan anak dalam memahami batasan positif sejak usia dini. Anak belajar bahwa mereka memiliki ruang untuk bereksplorasi, sekaligus memahami bahwa tidak semua area memiliki aturan yang sama.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Contoh Aktivitas Sturdy Play yang Bisa Dicoba di Rumah

Beberapa aktivitas sederhana yang bisa dilakukan orangtua bersama anak untuk menerapkan konsep sturdy play dalam keseharian seperti tummy time, menyusun balok atau mini obstacle course untuk toddler. (foto/dok: freepik)

Berikut beberapa aktivitas sederhana yang bisa dilakukan orangtua bersama anak untuk menerapkan konsep sturdy play dalam keseharian:

1. Tummy Time dan Gerak Bebas untuk Bayi

Untuk bayi, sturdy play bisa dimulai dengan tummy time di area beralas empuk. Tambahkan mainan di sekelilingnya agar bayi terdorong untuk berguling dan meraih. Aktivitas ini melatih kekuatan otot leher dan tubuh bagian atas, sekaligus membiasakan bayi bermain di ruang aman yang konsisten.

2. Menyusun Balok atau Soft Blocks

Anak yang sudah bisa duduk atau merangkak dapat bermain menyusun balok berbahan lembut. Selain melatih motorik halus dan koordinasi tangan, anak juga belajar fokus dan mencoba kembali saat susunannya roboh. Di ruang sturdy play, anak bebas bereksperimen tanpa risiko besar.

3. Mini Obstacle Course untuk Toddler

Gunakan bantal, matras, atau terowongan kain untuk membuat lintasan sederhana. Anak bisa merangkak, naik-turun, dan bergerak aktif tanpa harus memanjat sofa atau furnitur rumah. Aktivitas ini membantu menyalurkan energi sekaligus melatih keseimbangan dan keberanian anak.

4. Sensory Play dengan Tekstur Aman

Sediakan mainan dengan berbagai tekstur seperti bola kain, puzzle empuk, atau karpet sensorik. Aktivitas ini membantu stimulasi indra dan dapat menenangkan anak yang mudah rewel, sekaligus tetap berada dalam batas area bermain yang aman dan terkontrol.

3 dari 3 halaman

5. Independent Play dengan Mainan Favorit

Biarkan anak memilih mainannya sendiri dan bermain mandiri di area sturdy play. Menurut Mother-U, kebiasaan ini penting untuk membangun fokus, rasa percaya diri, dan kemampuan anak mengatur dirinya sendiri tanpa harus selalu ditemani atau diarahkan. (foto/dok: freepik)

Biarkan anak memilih mainannya sendiri dan bermain mandiri di area sturdy play. Menurut Mother-U, kebiasaan ini penting untuk membangun fokus, rasa percaya diri, dan kemampuan anak mengatur dirinya sendiri tanpa harus selalu ditemani atau diarahkan.

Mengapa Sturdy Play Efektif untuk Batasan Positif?

Dengan sturdy play, anak tidak hanya belajar bermain aman, tetapi juga memahami bahwa ada tempat khusus untuk aktivitas aktif dan ada aturan berbeda di luar area tersebut. Batasan diperkenalkan lewat struktur lingkungan, bukan lewat larangan yang bisa membuat anak merasa dikekang atau terus disalahkan.

Pendekatan ini membantu orangtua tetap memberi kebebasan eksplorasi, sambil menanamkan disiplin yang sehat dan penuh rasa aman. Dalam jangka panjang, anak pun lebih terbiasa menghormati aturan, mengelola energinya, dan merasa nyaman bermain secara mandiri di lingkungan yang sudah dikenalnya.

Penulis: Siti Nur Arisha