Lakukan Kebiasaan Ini agar Anak Berani Bertanya di Kelas

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 26 Mei 2026, 19:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pada dasarnya anak-anak lahir dengan rasa ingin tahu yang besar. Seringkali bertanya, mengamati dan mencoba memahami dunia di sekitarnya. Seiring dengan bertambahnya usia, keberanian mereka untuk bertanya, terutama di kelas, seringkali menjadi memudar. Ada rasa takut salah, malu, atau khawatir dinilai teman pada hatinya dan membuat mereka untuk memilih diam, meksipun sebenarnya banyak pertanyaan di kepalanya. 

Disinilah peran orangtua menjadi sangat penting, untuk menghadirkan keberaniaan anak. Tanpa disadari, terdapat kebiasaaan sehari-hari di rumah yang menjadi fondasi utama dalam membuat anak yang berani. Dilansir dari kidsfirstservice.com, berikut ini adalah kebiasaan orangtua yang bisa membantu anak menjadi lebih percaya diri di kelas. 

1. Membiasakan Percakapan Dua Arah di Rumah

Salah satu kebiasaan orangtua yang membantu anak untuk berani bertanya di kelas adalah membangun komunikasi dua arah sejak dini. Alih-alih hanya sekedar memberi instruksi, orangtua bisa mengajak anak berdiskusi tentang hal-hal sederhana, seperti pengalaman di sekolah atau pendapat mereka tentang suatu kejadian.

Berikanlah pertanyaan terbuka, yang memberi ruang bagi anak untuk berpikir, mengekspresikan idenya, dan merasa bahwa pendapatnya penting. Contohnya seperti, “Menurut kamu, bagian apa saja yang paling di sekolah hari ini?” Dari sini, anak dapat belajar bahwa berbicara dan bertanya adalah hal yang wajar. 

 

 

2 dari 3 halaman

2. Menanggapi Pertanyaan Anak dengan Sabar dan Positif

Kebiasaan menanggapi pertanyaan anak dapat menanamkan pesan, bahwa bertanya menjadi bagian dari proses belajar. [Dok/freepik.com]

Anak yang pertanyaannya sering diabaikan atau dianggap remeh cenderung belajar untuk diam. Sebaliknya, ketika orangtua merespons pertanyaan dengan antusias, anak merasa dihargai. Tak harus selalu memberi jawaban dengan sempurna, dengan mengajak anak mencari jawaban bersama justru dapat memperkuat rasa ingin tahunya.

Kebiasaan sederhana ini menanamkan pesan penting, bahwa bertanya bukan tanda tidak tahu, tetapi bagian dari proses belajar. Pesan yang sama akan terbawa hingga anak berada di ruang kelas.

3. Menjadi Contoh dengan Menunjukkan Rasa Ingin Tahu

Tiap anak yang lahir kedunia adalah peniru ulung. Saat orangtua terbiasa mengungkapkan rasa ingin tahu, seperti bertanya tentang hal baru atau mengakui bahwa mereka juga masih belajar, anak akan melihat bahwa bertanya bukan sesuatu yang memalukan.

Kebiasaan orangtua yang membantu anak berani bertanya di kelas sering kali dimulai dari contoh kecil, seperti berkata, “Ibu juga penasaran, ya. Yuk kita cari tahu bersama.” Kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa belajar adalah proses seumur hidup.

 

 

3 dari 3 halaman

4. Menciptakan Lingkungan Aman untuk Salah

Ketika anak merasa aman untuk salah di rumah, ia akan menjadi lebih berani mengemukakan pertanyaan dan pendapat di sekolah. [Dok/freepik.com]

Rasa takut salah adalah penghambat terbesar anak untuk bertanya. Orangtua dapat membantu dengan tidak langsung mengoreksi atau menghakimi saat anak keliru. Sebaliknya, fokuslah pada proses berpikirnya.

Ketika anak merasa aman untuk salah di rumah, ia akan lebih berani mengemukakan pertanyaan dan pendapat di sekolah. Lingkungan emosional yang suportif ini membentuk kepercayaan diri anak dalam berinteraksi sosial.

5. Mengaitkan Pertanyaan dengan Pengalaman Sehari-hari

Mengajak anak bertanya tidak harus selalu serius. Diskusi ringan saat makan malam, membaca buku bersama, atau bermain peran bisa menjadi momen berharga untuk melatih rasa ingin tahu. Dari aktivitas ini, anak belajar menyusun pertanyaan dan mengaitkan pengalaman pribadi dengan pengetahuan baru. Kebiasaan ini membantu anak terbiasa berpikir kritis, sehingga di kelas pun ia lebih siap untuk bertanya saat menemukan hal yang belum dipahami.

6. Mengapresiasi Keberanian, Bukan Hanya Jawaban

Alih-alih hanya memuji anak saat jawabannya benar, orangtua bisa mulai mengapresiasi keberaniannya untuk bertanya atau berpendapat. Apresiasi ini memperkuat rasa percaya diri dan mengurangi kecemasan akan penilaian orang lain. Anak pun belajar bahwa proses belajar jauh lebih penting daripada sekadar hasil.