Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Anxiety dan Tanda-tandanya yang Diketahui

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 06 Februari 2026, 08:23 WIB

ringkasan

  • Kecemasan adalah respons alami tubuh terhadap stres berupa perasaan takut, tegang, atau khawatir, namun bisa berkembang menjadi gangguan jika berlebihan dan tidak proporsional.
  • Gejala kecemasan meliputi manifestasi fisik seperti detak jantung cepat dan emosional seperti kekhawatiran berlebihan, yang dipicu oleh faktor genetik, lingkungan, psikologis, dan kondisi medis.
  • Terdapat berbagai jenis gangguan kecemasan, mulai dari Gangguan Kecemasan Umum hingga Fobia Spesifik, masing-masing dengan karakteristik dan pemicu yang berbeda.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah Anda merasakan perasaan takut, tegang, atau khawatir yang berlebihan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi? Perasaan ini adalah respons alami tubuh terhadap stres, yang dikenal sebagai kecemasan atau apa itu anxiety. Kecemasan dapat digambarkan sebagai kondisi suasana hati yang berorientasi pada masa depan, di mana seseorang merasa tidak siap atau tidak mampu mengatasi peristiwa negatif yang akan datang.

Ketika seseorang merasa takut, tubuh akan memicu respons stres yang dikenal sebagai respons 'lawan, lari, atau membeku' (fight, flight, or freeze). Respons ini melibatkan perubahan kognitif, fisik, dan perilaku, seperti peningkatan detak jantung atau pernapasan, yang bertujuan membantu manusia melarikan diri atau menghindari bahaya.

Namun, kecemasan tidak selalu berarti seseorang memiliki kondisi kesehatan mental. Banyak orang sesekali merasa cemas, tetapi ketika kecemasan menjadi sering, tidak proporsional dengan situasi, atau bertahan setelah situasi berakhir, hal itu bisa menjadi tanda gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan adalah bentuk gangguan emosional paling umum yang dapat memengaruhi siapa saja, dengan perkiraan 4,4% populasi global mengalaminya pada tahun 2021, menjadikannya gangguan mental paling umum di dunia.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Gejala Anxiety yang Perlu Diwaspadai Sahabat Fimela

Gejala kecemasan dapat bervariasi, memengaruhi aspek fisik, emosional, dan kognitif seseorang. Mengenali tanda-tanda ini penting untuk memahami apa itu anxiety lebih jauh. Secara fisik, penderita mungkin mengalami peningkatan detak jantung atau palpitasi, napas cepat, berkeringat, gemetar, atau merasa lemah dan lelah.

Selain itu, gejala fisik lain yang sering muncul termasuk mual, sakit perut, nyeri dada, pusing, mati rasa, otot tegang, mulut kering, dan kesulitan tidur. Gejala-gejala ini dapat terasa sangat mengganggu dan memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.

Dari sisi emosional dan kognitif, seseorang dengan kecemasan mungkin merasa gugup, gelisah, atau tegang secara terus-menerus. Mereka bisa memiliki firasat bahaya yang akan datang, kesulitan berkonsentrasi, atau merasa mudah tersinggung. Kekhawatiran yang berlebihan dan tidak proporsional dengan dampak peristiwa juga merupakan tanda umum.

Pikiran berlebihan tentang rencana dan solusi untuk semua kemungkinan hasil terburuk, kesulitan menangani ketidakpastian, serta ketidakmampuan untuk rileks juga sering dialami. Terkadang, penderita merasa orang lain dapat melihat kecemasan mereka atau bahwa hal buruk akan terjadi jika mereka berhenti khawatir.

3 dari 4 halaman

Mengungkap Akar Penyebab Anxiety: Dari Genetik hingga Lingkungan

Sumber: Unsplash

Penyebab gangguan kecemasan belum sepenuhnya dipahami, tetapi kemungkinan melibatkan kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan psikologis. Memahami faktor-faktor ini membantu menjelaskan apa itu anxiety dan mengapa kondisi ini bisa terjadi. Gangguan kecemasan dapat diturunkan dalam keluarga, menunjukkan bahwa kombinasi gen dan stres lingkungan dapat memicu gangguan tersebut.

Faktor lingkungan juga berperan besar. Pengalaman hidup, seperti peristiwa traumatis, dapat memicu gangguan kecemasan pada orang yang sudah rentan. Stresor kehidupan seperti situasi sosial yang menantang, kekhawatiran tentang identitas gender, pengalaman rasisme, dan bahkan kecemasan ekologis (eco-anxiety) dapat berkontribusi pada perasaan cemas.

Selain itu, faktor sosial ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran, dan tingkat pendidikan rendah dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan kecemasan. Tekanan masyarakat untuk sukses atau mencapai prestasi tinggi juga bisa menyebabkan kecemasan tentang kinerja dan ketakutan akan kegagalan.

Kondisi medis tertentu juga dapat dikaitkan dengan kecemasan, seperti penyakit jantung, diabetes, masalah tiroid, gangguan pernapasan, penyalahgunaan atau penarikan obat, nyeri kronis, atau sindrom iritasi usus besar. Interaksi kompleks antara faktor-faktor ini membentuk dasar mengapa seseorang mengalami kecemasan.

4 dari 4 halaman

Ragam Jenis Gangguan Anxiety yang Mungkin Sahabat Fimela Alami

Ada beberapa jenis gangguan kecemasan, masing-masing dengan karakteristik unik yang membantu kita memahami lebih jauh apa itu anxiety dalam berbagai bentuknya. Berikut adalah beberapa jenis yang paling umum:

  • Gangguan Kecemasan Umum (Generalized Anxiety Disorder - GAD): Melibatkan kekhawatiran yang persisten dan berlebihan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, seringkali berfokus pada hal-hal rutin seperti tanggung jawab pekerjaan atau kesehatan keluarga.
  • Gangguan Panik (Panic Disorder): Ditandai dengan serangan panik yang sering dan tidak terduga, disertai kombinasi tekanan fisik dan psikologis yang luar biasa, seperti palpitasi, sesak napas, dan ketakutan akan kehilangan kendali.
  • Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder / Social Phobia): Ketakutan ekstrem akan dihakimi secara negatif oleh orang lain dalam situasi sosial, menyebabkan penghindaran interaksi sosial.
  • Fobia Spesifik (Specific Phobia): Ketakutan yang berlebihan dan persisten terhadap objek, situasi, atau aktivitas tertentu yang umumnya tidak berbahaya, seperti ketinggian atau laba-laba.
  • Agorafobia (Agoraphobia): Ketakutan dan penghindaran tempat atau situasi di mana mungkin sulit untuk melarikan diri atau mendapatkan bantuan dalam keadaan darurat.
  • Gangguan Kecemasan Perpisahan (Separation Anxiety Disorder): Kecemasan berlebihan tentang berpisah dari rumah atau dari orang yang membuat seseorang merasa aman, seringkali melampaui apa yang sesuai untuk usia.
  • Mutisme Selektif (Selective Mutism): Kondisi di mana seseorang tidak dapat berbicara dalam situasi atau konteks tertentu, meskipun mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya, dan ini dapat mengganggu komunikasi sosial.