Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, tantrum adalah bagian normal dari perkembangan anak kecil, terutama antara usia 12 hingga 18 bulan, yang puncaknya sering terjadi antara 2 dan 3 tahun, dan kemudian berkurang seiring anak belajar berkomunikasi dengan kata-kata. Ledakan emosi ini seringkali merupakan cara anak kecil mengungkapkan frustrasi atau kemarahan karena keterbatasan mereka atau tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Meskipun tantrum adalah hal yang wajar, memahami pemicunya dapat membantu orang tua menghadapinya dengan lebih bijak. Tantrum pada anak dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, membuat orang tua merasa stres dan bingung.
Namun, jangan khawatir, ada beberapa pemicu umum yang seringkali menjadi akar masalah dari ledakan emosi si kecil. Dengan mengetahui 5 cara ampuh tangani tantrum pada balita, Anda bisa lebih siap dalam mencegah dan mengelola situasi ini.
1. Kelelahan: Pemicu Utama Tantrum Balita
Anak-anak yang lelah atau kurang tidur cenderung lebih mudah marah, rewel, dan memiliki batas frustrasi yang lebih rendah. Kurang tidur dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif, tidak menyenangkan, dan menunjukkan perilaku ekstrem. Anak yang kelelahan mungkin juga kesulitan tidur atau merasa lelah saat bangun, bahkan bisa mengalami pusing atau masalah kognitif.
Untuk menghindari tantrum yang disebabkan oleh kelelahan, sangat penting untuk mematuhi rutinitas harian yang konsisten untuk tidur dan makan. Hal ini membantu memastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup sesuai usianya. Rencanakan kegiatan dan tugas di sekitar waktu tidur siang dan waktu tidur anak, bahkan untuk hal-hal seperti berbelanja atau janji bermain.
Ketika anak sudah terlalu lelah, sistem respons stres tubuhnya akan aktif, membanjiri aliran darah dengan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, yang justru mempersulit anak untuk rileks dan tenang. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda kelelahan pada bayi dan balita, seperti menggosok mata atau telinga, rewel, atau memalingkan wajah, sangat penting untuk mencegah tantrum.
2. Lapar: Ketika Perut Kosong Memicu Emosi
Sama seperti orang dewasa, anak-anak bisa menjadi rewel dan mudah tersinggung saat lapar. Gula darah rendah dapat menyebabkan penurunan energi dan kesulitan mengendalikan emosi, membuat mereka lebih rentan terhadap tantrum.
Pencegahan tantrum akibat lapar cukup sederhana: selalu sediakan camilan sehat secara teratur di antara waktu makan. Pastikan anak mendapatkan makanan yang bervariasi dan cukup untuk menjaga kadar gula darah mereka stabil.
Selain itu, hindari minuman berkafein seperti cola, es teh, atau susu cokelat. Kafein dapat memicu ledakan amarah pada anak, mengganggu penyerapan kalsium, dan bahkan berisiko menyebabkan dehidrasi atau masalah tidur.
3. Frustrasi dan Kesulitan Berkomunikasi
Balita seringkali belum memiliki keterampilan verbal yang memadai untuk mengungkapkan perasaan atau kebutuhan mereka, sehingga mereka melampiaskannya melalui tantrum. Mereka mungkin merasa frustrasi karena tidak dapat melakukan sesuatu, mengalami keterbatasan, atau tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Untuk membantu anak mengatasi frustrasi, dorong mereka untuk menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan mereka. Bantu mereka dengan memberikan kosakata emosional yang tepat. Berikan pilihan kepada anak dalam hal-hal kecil untuk memberi mereka rasa kontrol, misalnya, "Apakah kamu ingin sereal jagung atau Cheerios?".
Hindari situasi yang membuat anak frustrasi, seperti memberikan mainan yang terlalu canggih untuk usia mereka. Berikan alasan sederhana untuk aturan dan jangan mengubahnya agar anak memiliki batasan yang jelas.
4. Lingkungan yang Kacau atau Perubahan Tak Terduga
Anak-anak berkembang dengan baik dalam lingkungan yang dapat diprediksi. Perubahan mendadak dalam rutinitas harian dapat membuat mereka merasa tidak terkendali dan memicu tantrum. Overstimulasi dari terlalu banyak cahaya, suara, atau aktivitas juga bisa menjadi pemicu tantrum.
Patuhi rutinitas harian sebanyak mungkin agar anak tahu apa yang diharapkan. Berikan peringatan sebelum transisi atau perubahan aktivitas, misalnya, "Waktunya pergi dalam 10 menit". Ini memberi mereka waktu untuk menyesuaikan diri.
Hindari kegiatan yang terlalu lama di mana anak harus duduk diam atau tidak bisa bermain. Jika harus bepergian, bawa buku atau mainan favorit untuk mengalihkan perhatian dan mengurangi kebosanan.
5. Mencari Perhatian atau Merasa Diabaikan
Anak-anak secara alami membutuhkan perhatian orang tua, dan terkadang mereka akan tantrum ketika merasa tidak mendapatkannya. Ketika kebutuhan anak akan perhatian tidak terpenuhi, tantrum bisa terjadi sebagai bentuk komunikasi.
Berikan banyak perhatian positif dan pujian saat anak berperilaku baik. Sediakan "waktu khusus" singkat sepanjang hari, bahkan hanya beberapa menit perhatian penuh, untuk mengisi "tangki perhatian" mereka.
Akui permintaan anak akan perhatian, bahkan jika Anda tidak dapat segera memenuhinya. Namun, penting juga untuk tidak memberikan perhatian berlebihan pada tantrum kecil yang tidak berbahaya, agar anak tidak belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan.