Fimela.com, Jakarta - Ramadan sering menghadirkan waktu-waktu hening yang terasa berbeda dari bulan lainnya. Ada jeda selepas sahur, sore menjelang berbuka, hingga malam setelah tarawih yang terasa lebih tenang. Momen-momen ini sayang jika hanya berlalu begitu saja. Mengisinya dengan bacaan yang tepat bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga hati tetap terarah dan pikiran tetap jernih.
Buku bukan sekadar hiburan, tetapi juga teman refleksi. Di bulan yang penuh keberkahan ini, memilih bacaan yang memberi makna dapat membantu kita memperdalam pemahaman, memperbaiki niat, dan menguatkan komitmen menjadi pribadi yang lebih baik. Lima buku pilihan berikut bisa menjadi teman setia untuk mengisi waktu Ramadan agar terasa lebih produktif, tenang, dan bernilai.
1. Apa yang Kita Pikirkan ketika Kita Sendirian
Buku Apa yang Kita Pikirkan ketika Kita Sendirian bisa menjadi salah satu buku yang sangat cocok dibaca bagi kita yang ingin menyikapi kesendirian dengan cara yang lebih bijak. Berisi kumpulan tulisan yang meliputi kontemplasi, refleksi diri, dan perenungan, buku ini menghadirkan berbagai sudut pandang baru tentang memaknai kesepian dan kesendirian. Kumpulan tulisan di buku ini lebih banyak berisi opini, dan tidak ada rujukan atau tambahan referensi untuk menunjang beberapa poin yang sebenarnya sangat penting.
2. Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring
Menjalani hari-hari baru setelah mengalami kehilangan butuh perjuangan baru. Berat rasanya untuk bisa kembali seperti biasa ketika orang yang dulu menghadirkan warna indah di hidup kini sudah tiada. Walau begitu, hidup terus berjalan. Hidup tetap perlu kita jalani sebaik-baiknya sembari terus berdamai dengan rasa duka. Mungkin tidak nyaman atau sulit untuk dilakukan, tetapi bukan berarti kita akan terus tenggelam dalam rasa kesedihan. Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring ini pun hadir untuk membantu kita untuk bisa berdamai dengan rasa kehilangan dan cara untuk bisa memproses perasaan duka dengan perspektif yang menarik.
3. Book's Kitchen
Melalui aroma kopi yang hangat dan buku-buku yang mengisi rak, pembaca diajak untuk merenungkan arti kebahagiaan dan kedamaian. Tidak semua kisah dalam novel ini memiliki akhir yang sempurna, tetapi justru di situlah letak keindahannya. Beberapa cerita sengaja dibiarkan menggantung, sementara yang lain diselesaikan dengan manis, memberikan dimensi yang realistis dan menyentuh.
Hal menarik lainnya adalah referensi buku dan lagu populer yang disisipkan dalam cerita. Penulis berhasil menjadikan novel ini lebih dari sekadar bacaan, tetapi juga sebuah rekomendasi bagi pembaca untuk mengeksplorasi karya lain yang mungkin relevan dengan hati mereka.
Novel ini memberikan pengalaman slice of life yang berkesan, membuat pembaca merasa seperti bagian dari Book’s Kitchen yang damai dan penuh kehangatan.
Jadi, Sahabat Fimela, jika kamu sedang mencari bacaan yang menghangatkan hati, Book's Kitchen bisa menjadi salah satu referensi buku yang menarik. Novel ini adalah tempat di mana kamu bisa “beristirahat sejenak sambil mencium aroma buku baru”.
4. Tak Apa-Apa Tak Sempurna
Buku Tak Apa-Apa Tak Sempurna (The Gifts of Imperfection) karya Brené Brown adalah panduan inspiratif untuk menerima diri apa adanya dan menjalani hidup yang autentik. Brown mengajak pembaca untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan sebagai bagian alami dari kehidupan manusia. Dengan menerima ketidaksempurnaan, kita bisa menjalani hidup dengan lebih tulus dan membangun hubungan yang lebih bermakna.
Salah satu inti dari buku ini adalah keberanian untuk menjadi autentik. Brown menekankan pentingnya berani menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, termasuk menerima kerentanan dan rasa malu. Alih-alih melihat kerentanan sebagai kelemahan, ia justru menganggapnya sebagai pintu menuju koneksi yang mendalam dengan orang lain.
5. Things Left Behind
Setiap manusia pasti akan sampai pada sebuah titik akhir. Namun, ada juga manusia yang memilih untuk membuat sendiri titik akhir perjalanannya tanpa menunggu waktu menghamparkan hari-hari baru untuknya. Tiap manusia yang tiada juga akan meninggalkan sesuatu, atau malah tidak meninggalkan apa-apa? Things Left Behind, buku ini mengungkap sejumlah kisah nyata di balik kematian yang diceritakan oleh seorang pengurus barang-barang orang yang sudah meninggal. Melalui pengalaman dan perenungannya soal kehidupan serta kematian, buku ini menyajikan makna-makna yang indah sekaligus menyentuh tentang hal-hal penting dalam hidup kita.
Ramadan adalah kesempatan yang tidak selalu datang dua kali dalam kondisi yang sama. Mengisi waktu dengan bacaan berkualitas dapat menjadi investasi batin yang dampaknya jauh melampaui satu bulan. Semoga lima buku ini membantu menjaga semangat ibadah, memperkaya wawasan, dan membuat Ramadanmu terasa lebih terarah serta bermakna hingga setelah bulan suci berlalu.