Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Di balik ibadah ini, tubuh kita mengalami serangkaian adaptasi fisiologis yang luar biasa. Perubahan ini terjadi sebagai respons alami tubuh terhadap ketiadaan asupan makanan dan minuman selama beberapa waktu. Memahami keadaan tubuh yang terjadi saat puasa dapat membantu kita menjalani ibadah dengan lebih optimal dan merasakan manfaat kesehatannya secara maksimal.
Ketika kita berpuasa, tubuh secara cerdas beralih mode untuk menjaga fungsi vital tetap berjalan. Proses ini melibatkan pergeseran sumber energi utama dan penyesuaian hormonal yang kompleks. Adaptasi ini tidak hanya memastikan kita tetap berenergi, tetapi juga memicu mekanisme pembersihan dan perbaikan seluler.
Dari pergeseran metabolisme hingga perubahan kadar hormon, setiap aspek tubuh merespons periode puasa. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif berbagai transformasi yang terjadi pada tubuh kita saat berpuasa, memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana tubuh beradaptasi dan apa saja manfaat yang bisa kita peroleh.
Transformasi Energi: Saat Tubuh Beralih Sumber Bahan Bakar
Saat berpuasa, tubuh kita mengalami pergeseran sumber energi yang signifikan. Setelah sekitar 12-16 jam tanpa asupan makanan, tubuh beralih dari menggunakan glukosa ke penggunaan lemak sebagai sumber energi utama. Pergeseran ini terjadi karena cadangan glikogen di hati dan otot mulai menipis, diikuti dengan penurunan kadar insulin dan peningkatan pemecahan lemak serta produksi keton ringan.
Pada awal puasa, tubuh mengandalkan cadangan glikogen yang tersimpan di hati dan otot rangka untuk menjaga kadar glukosa darah. Sebagian besar glikogen ini berada di hati, berperan penting dalam menjaga glukosa darah selama 24 jam pertama puasa. Setelah cadangan glikogen habis, tubuh mulai menggunakan simpanan energi dari jaringan adiposa (lemak) dan protein.
Trigliserida dalam tubuh dipecah menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak ini kemudian diubah oleh hati menjadi badan keton, yang menjadi sumber energi utama bagi banyak jaringan, terutama otak, saat puasa. Proses ini dikenal sebagai ketogenesis, dan kadar badan keton dalam darah dapat meningkat signifikan dalam 8 hingga 12 jam puasa, mencapai 2 hingga 5 mM dalam 24 jam. Selain itu, tubuh juga melakukan glukoneogenesis, yaitu proses memproduksi glukosa dari sumber non-karbohidrat seperti asam amino yang dipecah dari berbagai jaringan, termasuk otot, untuk memastikan pasokan glukosa yang stabil bagi organ vital.
Harmoni Hormonal: Peran Penting dalam Keadaan Tubuh yang Berpuasa
Perubahan hormonal merupakan bagian krusial dari keadaan tubuh yang terjadi saat puasa. Kadar insulin, hormon yang bertanggung jawab menurunkan gula darah, menurun secara signifikan. Penurunan ini bisa mencapai sekitar 35% dalam 24 jam pertama puasa dan setengah dari kadar awal setelah 72 jam puasa. Penurunan insulin ini membantu tubuh lebih mudah membakar lemak sebagai sumber energi dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Sebaliknya, kadar glukagon, hormon yang berfungsi menaikkan gula darah, meningkat selama puasa, terutama saat kadar glukosa plasma rendah. Glukagon ini terutama memengaruhi hati, tempat sebagian besar glikogen disimpan, untuk memecah glikogen menjadi glukosa. Selain itu, kadar hormon pertumbuhan juga meningkat saat puasa, berkontribusi pada pembakaran lemak dan berpotensi meningkatkan massa otot. Namun, kadar hormon tiroid T3 dapat menurun hingga 55% setelah 24 jam puasa.
Puasa juga dapat memengaruhi hormon seks, seperti penurunan dehydroepiandrosterone (DHEA) pada wanita pra- dan pascamenopause, meskipun kadarnya tetap dalam kisaran normal. Kadar hormon reproduksi lain seperti testosteron, androstenedion, estradiol, estron, dan progesteron mungkin tidak berubah signifikan pada wanita pascamenopause. Selain itu, puasa dapat menyebabkan penurunan kadar leptin dan peningkatan adiponektin, serta beberapa orang melaporkan peningkatan kewaspadaan karena ketosis ringan dan peningkatan katekolamin.
Regenerasi Seluler dan Manfaat Lainnya: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar
Puasa memicu proses "pembersihan" seluler yang disebut autofagi, di mana tubuh menghilangkan sel-sel yang rusak dan mendaur ulang komponen-komponen lama. Proses ini berkontribusi pada umur panjang dan sistem kekebalan tubuh yang lebih sehat. Peningkatan sensitivitas insulin juga dapat terjadi sementara selama puasa, yang bermanfaat untuk menjaga kadar gula darah.
Selain itu, puasa memicu respons stres seluler adaptif, meningkatkan kemampuan tubuh untuk mengatasi stres dan melawan proses penyakit. Penurunan berat badan seringkali menjadi efek yang terlihat, dengan rata-rata 0,9 kg per hari selama minggu pertama puasa karena keseimbangan natrium negatif. Puasa 5 hari dapat menyebabkan penurunan massa tubuh sekitar 4,25 kg. Namun, penurunan berat badan yang sehat saat puasa memerlukan pola makan seimbang saat sahur dan berbuka.
Puasa juga dapat mengubah mikrobioma usus, mendorong bakteri menguntungkan, dan memungkinkan sistem pencernaan untuk beristirahat dan memperbaiki diri. Penanda peradangan dalam tubuh dapat berkurang, yang terkait dengan risiko lebih rendah terhadap penyakit kronis. Fungsi otak juga dapat meningkat, dengan beberapa orang melaporkan kewaspadaan dan fokus mental yang lebih baik. Puasa intermiten juga dapat menurunkan kadar glukosa/lipid plasma dan tekanan darah, serta mengurangi kolesterol total dan trigliserida. Namun, penting untuk diingat bahwa puasa juga memiliki potensi efek samping seperti sakit kepala, insomnia, tekanan darah rendah, dan dehidrasi, terutama jika cairan dibatasi.