Fimela.com, Jakarta - Belakangan ini semakin banyak orang mulai lebih sadar dengan apa yang mereka konsumsi setiap hari. Bukan hanya soal rasa atau tren, tetapi juga bagaimana makanan bisa memengaruhi kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Dari situ, berbagai pola makan mulai dilirik, salah satunya plant forward diet yang kini semakin populer.
Sekilas, pola makan ini sering dianggap sama dengan vegan atau vegetarian. Padahal sebenarnya berbeda. Plant forward diet tidak mengharuskan seseorang berhenti mengonsumsi produk hewani sepenuhnya. Pendekatan ini justru lebih fleksibel karena tetap memperbolehkan makanan seperti daging, ikan, telur, atau susu dalam jumlah tertentu.
Dilansir dari Eat Well Live Well, plant forward diet merupakan pola makan yang menempatkan makanan nabati sebagai bagian terbesar dari menu harian. Sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, hingga minyak nabati menjadi pilihan utama, sementara makanan hewani hadir sebagai pelengkap dalam porsi yang lebih kecil.
Lebih Banyak Nutrisi dari Makanan Nabati
Saat porsi makanan nabati ditingkatkan, tubuh otomatis mendapatkan lebih banyak serat, vitamin, mineral, dan antioksidan. Nutrisi ini berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan sekaligus membantu tubuh bekerja lebih optimal.
Pola makan ini juga biasanya lebih rendah lemak jenuh dan lebih kaya lemak sehat yang berasal dari ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, serta minyak nabati. Beberapa penelitian juga mengaitkan pola makan yang kaya makanan nabati dengan risiko yang lebih rendah terhadap penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga obesitas.
Sebenarnya Bukan Pola Makan Baru
Meski terdengar seperti tren baru, konsep pola makan yang menonjolkan makanan nabati sebenarnya sudah lama dikenal. Contohnya bisa dilihat pada diet Mediterania atau pola makan DASH yang sering direkomendasikan untuk menjaga kesehatan jantung.
Dalam pola makan ini, sayuran, buah, serta biji-bijian utuh menjadi bagian terbesar dari menu harian. Sementara produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, dan polong-polongan dikonsumsi dalam jumlah sedang. Daging merah, makanan olahan, serta minuman tinggi gula biasanya dibatasi.
Ragam Pola Makan Berbasis Tumbuhan
Ada beberapa jenis pola makan yang sering dikaitkan dengan konsep plant based diet. Salah satunya adalah flexitarian, yaitu pola makan yang sebagian besar berbasis tumbuhan tetapi masih mengonsumsi produk hewani dalam jumlah kecil.
Selain itu ada pescatarian yang masih mengonsumsi ikan dan makanan laut, vegetarian yang tidak mengonsumsi daging maupun ikan, serta vegan yang sepenuhnya menghindari produk hewani.
Lebih Ramah bagi Lingkungan
Selain baik untuk kesehatan, pola makan yang lebih banyak mengandalkan makanan nabati juga dinilai lebih ramah lingkungan. Produksi beberapa jenis daging, terutama daging merah, diketahui menghasilkan emisi gas rumah kaca yang cukup tinggi.
Karena itu, mengurangi konsumsi daging dan memperbanyak makanan nabati bisa membantu menekan dampak lingkungan dari pola makan sehari-hari.
Bagaimana dengan Kebutuhan Protein?
Kekhawatiran yang sering muncul saat mengurangi konsumsi daging adalah soal protein. Padahal kebutuhan protein tetap bisa dipenuhi dari berbagai sumber nabati.
Kacang-kacangan, lentil, biji-bijian, dan polong-polongan merupakan sumber protein yang baik. Dengan mengombinasikan beberapa jenis makanan tersebut, tubuh tetap bisa mendapatkan asam amino yang dibutuhkan.
Tidak Semua yang Berbasis Tumbuhan Otomatis Sehat
Meski berbahan dasar tumbuhan, tidak semua makanan otomatis lebih sehat. Fenomena ini sering disebut sebagai health halo, yaitu anggapan bahwa suatu makanan pasti sehat hanya karena berasal dari bahan nabati.
Contohnya kentang goreng yang tetap termasuk makanan berbasis tumbuhan, tetapi bisa tinggi lemak dan garam jika dikonsumsi terlalu sering. Karena itu, penting untuk tetap memilih makanan yang minim proses dan memperhatikan cara pengolahannya ya, Sahabat Fimela.
Penulis: Siti Nur Arisha