6 Cara Mengatasi Mom Guilt agar Tetap Tenang Menjalani Peran sebagai Ibu Bekerja

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 28 Mei 2026, 13:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, setelah menjadi seorang ibu pernahkah kamu merasa bersalah saat harus berangkat kerja dan meninggalkan anak di rumah atau sekolah? Di satu sisi kamu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga, namun di sisi lain karir juga tetap harus berjalan. Perasaan ini dikenal sebagai mom guilt, dan nyatanya dialami oleh banyak ibu bekerja.

Rasa bersalah ini bisa muncul sejak pagi hari, saat harus buru-buru berpamitan sambil mengecek email kantor, hingga terus terbawa sepanjang hari. Bahkan, tak jarang kamu merasa “kurang maksimal” baik sebagai ibu maupun sebagai pekerja. Tapi tenang, Sahabat Fimela, mom guilt bukan sesuatu yang harus kamu rasakan selamanya.

Dari Mana Mom Guilt Berasal?

Sahabat Fimela, rasa bersalah ini sering kali datang dari tekanan yang tidak terlihat. Dilansir dari susanlandersmd.com, rasa bersalah tersebut mulai dari ekspektasi sosial yang menggambarkan ibu “ideal” harus selalu hadir, hingga tuntutan pekerjaan yang membuatmu harus terus produktif. Ditambah lagi, standar pribadi yang tinggi, ingin jadi ibu sempurna sekaligus profesional sukses dan membuat beban ini terasa semakin berat. Akibatnya, bukan hanya pikiran yang lelah, tetapi juga emosi dan fisik ikut terdampak. Kamu bisa merasa cemas, mudah lelah, bahkan kehilangan kepercayaan diri.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Rahasia Mengurangi Mom Guilt dengan Cara Lebih Sehat

Sahabat Fimela, yuk simak beberapa cara sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengelola dan mengurangi mom guilt. [Dok/freepik.com]

Sahabat Fimela, ada beberapa cara sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengelola dan mengurangi mom guilt agar hidup terasa lebih seimbang.

1. Lepaskan Ekspektasi Jadi “Supermom”

Tidak ada ibu yang bisa melakukan segalanya dengan sempurna dalam satu waktu. Alih-alih menuntut diri terlalu tinggi, cobalah lebih realistis dan apresiatif pada diri sendiri. Kamu sudah melakukan banyak hal setiap hari, dan itu layak dihargai. Fokuslah pada hal-hal yang berhasil kamu lakukan, bukan yang terlewat.

2. Buat Batasan antara Pekerjaan dan Keluarga

Menjaga batas yang jelas antara waktu kerja dan waktu bersama keluarga sangat penting. Saat bekerja, berikan fokus penuh pada tugasmu. Sebaliknya, ketika bersama anak, cobalah hadir sepenuhnya tanpa gangguan notifikasi atau pekerjaan. Batasan ini membantu mengurangi perasaan bersalah karena merasa “setengah-setengah” di dua peran sekaligus.

3. Utamakan Kualitas, Bukan Kuantitas Waktu

Sahabat Fimela, anak tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang, tetapi kehadiran yang hangat dan penuh perhatian. Luangkan waktu singkat, sekitar 20-30 menit, untuk benar-benar terhubung, tanpa gadget, tanpa distraksi. Momen sederhana seperti membaca buku bersama atau mengobrol santai bisa memperkuat bonding.

 

 

3 dari 3 halaman

4. Jangan Ragu Meminta Bantuan

Dengan support system yang baik, kamu bisa menjalani hari dengan lebih tenang dan percaya diri. [Dok/freepik.com/bearfotos]

Sahabat Fimela, tidak harus melakukan semuanya sendiri. Melibatkan pasangan, keluarga, atau bantuan lain justru bisa membuat hidup lebih ringan. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan cara cerdas untuk menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan kesehatan mentalmu. Dengan support system yang baik, kamu bisa menjalani hari dengan lebih tenang dan percaya diri

5. Luangkan Waktu untuk Diri Sendiri

Sahabat Fimela, self care bukanlah bentuk keegoisan, melainkan kebutuhan. Ketika kamu merawat diri sendiri, baik secara fisik maupun mental, kamu justru punya energi lebih untuk menjalani peran sebagai ibu dan pekerja. Tidak perlu selalu sesuatu yang besar, kamu bisa mulai dari hal sederhana seperti menikmati kopi hangat tanpa terburu-buru, membaca buku favorit, atau berjalan santai di sore hari. 

6. Ubah Pola Pikir yang Memicu Rasa Bersalah

Rasa bersalah sering kali muncul dari pikiran negatif yang terlalu keras pada diri sendiri. Saat muncul pikiran seperti “aku ibu yang kurang baik”, cobalah berhenti sejenak dan tarik napas. Ganti dengan afirmasi yang lebih realistis seperti “aku sedang berusaha melakukan yang terbaik”. Dengan mengubah cara pandang, kamu bisa lebih menerima diri sendiri dan mengurangi tekanan emosional yang tidak perlu.