Ini Kebohongan di Media Sosial yang Semakin Memperparah Konflik Hubungan, Kata Psikolog

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 22 April 2026, 12:12 WIB

ringkasan

  • Kebohongan media sosial "Jika mereka mau, mereka akan melakukannya" merusak penanganan konflik karena mengabaikan kompleksitas psikologi dan gaya keterikatan menghindar-menolak.
  • Individu dengan gaya keterikatan menghindar-menolak mengalami respons trauma yang sulit diatur saat dipicu kedekatan atau konflik, yang sering disalahartikan sebagai ketidakpedulian.
  • Penting bagi pasangan untuk memahami respons trauma dan mempelajari alat koping sehat untuk menyelesaikan konflik, bukan hanya terpengaruh narasi media sosial yang menyederhanakan.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, seringkali menampilkan gambaran hubungan yang ideal dan sempurna. Namun, di balik citra manis itu, seorang psikolog ternama mengungkapkan adanya "kebohongan terbesar" yang secara signifikan merusak kemampuan pasangan menghadapi konflik secara sehat. Kebohongan ini menyebar luas dan tanpa disadari memengaruhi dinamika hubungan banyak orang.

Dr. Sarah Hensley, seorang psikolog sosial spesialis yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari ilmu hubungan, telah membantu ribuan klien di ambang perceraian. Ia mengidentifikasi frasa "Jika mereka mau, mereka akan melakukannya" (If they wanted to, they would) sebagai "psikologi pop generik" paling merusak. Frasa ini populer di media sosial, namun dianggap sangat tidak benar karena sebagian besar populasi memiliki gaya keterikatan menghindar-menolak.

Pandangan Dr. Hensley ini menyoroti bagaimana narasi sederhana di media sosial dapat mengabaikan kompleksitas psikologi manusia dan gaya keterikatan yang terbentuk sejak dini. Hal ini menyesatkan pasangan, membuat mereka salah menafsirkan perilaku satu sama lain, dan pada akhirnya merusak upaya untuk menyelesaikan konflik secara konstruktif. Untuk hubungan yang lebih sehat, pemahaman mendalam sangatlah penting.

2 dari 4 halaman

Memahami Gaya Keterikatan Menghindar-Menolak dalam Konflik Hubungan

Ilustrasi kematangan emosional/copyright freepik.com/freepik

Frasa "Jika mereka mau, mereka akan melakukannya" yang begitu populer di media sosial, menurut Dr. Hensley, adalah kebohongan terbesar yang merusak cara pasangan menangani konflik. Pernyataan ini menyederhanakan dinamika hubungan yang kompleks, terutama bagi individu dengan gaya keterikatan menghindar-menolak. Gaya keterikatan ini terbentuk sejak masa kanak-kanak, terkait erat dengan interaksi mereka bersama pengasuh.

Orang dengan gaya keterikatan menghindar-menolak cenderung dipicu oleh kedekatan dan konflik. Ketika dihadapkan pada situasi intim atau perselisihan, sistem saraf mereka menjadi aktif, memicu respons trauma. Mereka mungkin merasa terjebak, terperangkap, atau tidak kompeten untuk memenuhi kebutuhan pasangannya. Ini bukan karena mereka tidak mau, melainkan karena respons bawah sadar yang mendalam.

Dr. Hensley menjelaskan bahwa individu-individu ini memiliki "begitu banyak luka bawah sadar seputar perasaan terjebak, perasaan terperangkap, perasaan dikendalikan, perasaan tidak kompeten untuk memenuhi kebutuhan seseorang, perasaan cacat di dalam, dan [tidak] mampu mengekspresikan kerentanan." Memahami akar masalah ini krusial untuk tidak terjebak dalam narasi media sosial yang menyalahkan dan tidak realistis.

3 dari 4 halaman

Respons Trauma dan Tantangan Pengelolaannya

Ketika dipicu oleh kedekatan atau konflik, individu dengan gaya keterikatan menghindar-menolak menunjukkan "respons melarikan diri tingkat satu, dan respons membeku tingkat dua." Ini adalah reaksi trauma yang membuat mereka sulit untuk terlibat secara konstruktif dalam penyelesaian masalah. Kebanyakan orang kesulitan menavigasi respons trauma mereka dengan keterampilan koping yang sehat, apalagi jika luka mereka diaktifkan oleh situasi intim atau konflik.

Bagi orang yang lukanya diaktifkan oleh kedekatan dan konflik, "mengabaikan" respons tersebut terasa mustahil. Mereka mungkin menarik diri, menjadi dingin, atau menghindari percakapan penting. Ini seringkali disalahartikan sebagai ketidakpedulian atau kurangnya keinginan, padahal sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri yang dipicu oleh trauma masa lalu.

Sahabat Fimela, penting untuk diingat bahwa orang dalam situasi ini perlu "mendapatkan alat untuk mengatur respons trauma mereka dan mempelajari perilaku yang aman dan sehat." Tanpa alat yang tepat, mereka akan terus terjebak dalam pola yang merusak. Mengembangkan keterampilan koping yang efektif adalah kunci untuk memutus siklus respons trauma ini dan membangun hubungan yang lebih stabil.

4 dari 4 halaman

Pentingnya Alat dan Penyembuhan Trauma untuk Hubungan yang Sehat

Masyarakat cenderung menilai respons menghindar-menolak lebih buruk daripada respons pertarungan (fight response). Respons pertarungan adalah "respons trauma di mana orang akan... berteriak dan menjerit dan melempar barang dan menjadi agresif secara verbal dan bahkan terkadang agresif secara fisik." Namun, Dr. Hensley menegaskan bahwa "semua keterikatan yang tidak aman memiliki respons trauma yang tidak produktif dalam hubungan."

Baik respons menghindar maupun respons pertarungan sama-sama merupakan manifestasi dari trauma yang belum tersembuhkan. Keduanya menghambat komunikasi yang efektif dan penyelesaian konflik. Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya fokus pada satu jenis respons, melainkan memahami bahwa semua pola keterikatan yang tidak aman memerlukan perhatian dan penyembuhan.

Dr. Hensley menyarankan taktik untuk merespons trauma dengan cara yang sehat, termasuk belajar "mengatur sistem saraf dan menyembuhkan respons trauma serta mempelajari apa yang harus dilakukan secara berbeda." Ia optimis bahwa "otak mampu melakukan itu," namun mengakui bahwa "kebanyakan orang tidak memiliki alat yang tepat." Ini menekankan perlunya edukasi dan dukungan bagi pasangan untuk mengembangkan keterampilan ini demi hubungan yang lebih sehat dan harmonis.