Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, istilah “No No Parenting” belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak orangtua masa kini mulai lebih sering menggunakan kata “no” sebagai respons ketika anak melakukan hal yang dianggap tidak sesuai atau perlu diarahkan.
Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah penggunaan kata “no” yang lebih sering justru menjadi bentuk pola asuh yang lebih tegas, atau justru mengarah pada pola asuh yang terlalu membatasi, atau bahkan sebaliknya, terlalu membebaskan anak?
Dalam sesi Fimela Podtalks, psikolog anak dan remaja Fabiola Priscilla, S.Psi., M.Psi., Psikolog, C.PHt, menjelaskan bahwa istilah “No No Parenting” sebenarnya tidak dikenal dalam teori psikologi parenting.
Istilah “No No Parenting” Tidak Dikenal dalam Psikologi
Fabiola menjelaskan bahwa dalam kajian psikologi, konsep pola asuh yang paling banyak digunakan berasal dari Diana Baumrind sejak tahun 1960-an. Ia membagi pola asuh menjadi empat kategori, yaitu:
- Authoritative parenting, pola asuh demokratis yang hangat, komunikatif, namun tetap memiliki aturan dan batasan yang jelas.
- Authoritarian parenting, pola asuh satu arah yang menekankan kepatuhan tanpa banyak ruang diskusi.
- Permissive parenting, pola asuh yang cenderung membebaskan dan minim aturan yang konsisten.
- Neglectful parenting, pola asuh dengan keterlibatan orangtua yang rendah akibat berbagai faktor, seperti pekerjaan atau kondisi pribadi.
"Dari keempat kategori tersebut, “No No Parenting” lebih dekat dengan pola asuh permissive karena minim batasan serta konsekuensi yang jelas bagi anak," ujar psikolog anak dan remaja Fabiola Priscilla saat Fimela Podtalks
Anak Tetap Membutuhkan Batasan
Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa membatasi anak berarti tidak menghargai mereka. Padahal, anak tetap membutuhkan aturan, arahan, dan batasan sejak dini.
"Batasan ini bukan untuk mengekang, tetapi untuk membantu anak memahami empati, tanggung jawab, dan cara bersikap di lingkungan sosial. Misalnya ketika anak berteriak di tempat umum atau tidak mengikuti arahan orangtua, hal tersebut menjadi bagian dari proses belajar memahami aturan bersama," tambah ujar psikolog anak dan remaja Fabiola Priscilla.
Tanpa batasan yang jelas, anak berisiko kesulitan memahami mana perilaku yang tepat dan tidak tepat, termasuk dalam hal meminta maaf dan bertanggung jawab.
No No Parenting Tidak Sama dengan Gentle Parenting
Banyak orang masih mengira bahwa gentle parenting berarti orangtua tidak boleh melarang atau memarahi anak sama sekali. Padahal, konsep ini justru lebih dekat dengan authoritative parenting.
Gentle parenting menekankan pada pemahaman emosi anak, komunikasi yang tenang, serta empati dari orangtua. Namun, semua itu tetap berjalan berdampingan dengan pemberian batasan yang jelas kepada anak.
"Kuncinya bukan pada “tidak boleh marah”, melainkan bagaimana orangtua mengelola emosi sebelum merespons anak. Dengan begitu, disiplin tetap bisa diterapkan tanpa kekerasan atau bentakan," ucapnya
Cara Mengganti “No No” dengan Komunikasi yang Lebih Efektif
Mengulang kata “no” tanpa penjelasan sering kali membuat anak tidak memahami makna aturan itu sendiri. Lama-kelamaan, kata tersebut dapat kehilangan maknanya bagi anak, sehingga ia mulai menganggap “no” hanya sebagai larangan sementara tanpa pemahaman yang jelas tentang alasan di baliknya.
Daripada hanya melarang, orangtua bisa mengajak anak berkomunikasi dengan lebih hangat dan jelas. Misalnya dengan memvalidasi perasaan anak terlebih dahulu, lalu memberikan arahan.
"Contohnya, “Mama tahu kamu masih ingin bermain, tapi sekarang waktunya tidur supaya tubuhmu tetap sehat besok.” Dengan cara ini, anak menjadi belajar bahwa setiap aturan memiliki alasan, bukan sekadar larangan," ujar psikolog anak dan remaja Fabiola Priscilla
Pada akhirnya, setiap orangtua tentu memiliki cara terbaik dalam mendampingi tumbuh kembang anaknya. Namun, yang terpenting bukanlah seberapa sering kata “no” digunakan, melainkan bagaimana anak memahami makna di balik setiap aturan yang diberikan.
Anak tidak hanya membutuhkan larangan, tetapi juga perlu merasa didengar, dipahami, dan diarahkan dengan cara yang hangat. Karena dari proses komunikasi yang sehat itulah anak belajar mengenal batasan, membangun empati, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakannya.