Eksfoliasi Fisik vs Eksfoliasi Kimia: Mana yang Lebih Baik?

Hilda IrachDiterbitkan 31 Mei 2026, 22:26 WIB

ringkasan

  • Eksfoliasi fisik menggunakan bahan abrasif untuk mengangkat sel kulit mati.
  • Eksfoliasi kimia menggunakan asam untuk melarutkan ikatan antar sel kulit mati.
  • Pemilihan metode eksfoliasi tergantung pada jenis kulit dan masalah kulit yang dihadapi.

Fimela.com, Jakarta - Eksfoliasi menjadi salah satu langkah perawatan kulit yang semakin populer karena kemampuannya membantu menjaga kulit tetap halus, cerah, dan tampak lebih sehat. Seiring bertambahnya usia, proses regenerasi kulit dapat melambat sehingga sel-sel kulit mati lebih mudah menumpuk di permukaan. Akibatnya, kulit bisa terlihat kusam, terasa kasar, dan rentan mengalami penyumbatan pori-pori.

Melalui proses eksfoliasi, sel kulit mati yang menumpuk akan diangkat sehingga kulit tampak lebih segar dan produk skincare yang digunakan setelahnya dapat bekerja lebih optimal. Tak hanya itu, eksfoliasi juga sering menjadi bagian dari rutinitas perawatan untuk membantu mengatasi berbagai masalah kulit, seperti komedo, tekstur tidak merata, hingga noda bekas jerawat.

Meski memiliki tujuan yang sama, eksfoliasi dapat dilakukan dengan dua cara utama, yaitu eksfoliasi fisik dan eksfoliasi kimia. Keduanya bekerja dengan mekanisme yang berbeda dan memiliki kelebihan serta pertimbangan masing-masing. Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan keduanya agar dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kulit Anda.

2 dari 6 halaman

Eksfoliasi Fisik

Exfoliant toner adalah toner berbasis air yang mengandung chemical exfoliant seperti AHA, BHA, atau PHA. [Dok/freepik.com]

Eksfoliasi fisik, yang juga dikenal sebagai eksfoliasi mekanis, melibatkan penggunaan bahan abrasif atau alat untuk secara manual mengangkat sel kulit mati. Metode ini bekerja dengan menggosok permukaan kulit, sehingga sel-sel kulit mati dan kotoran lainnya dapat terangkat. Beberapa metode umum yang digunakan dalam eksfoliasi fisik meliputi kain lap, loofah, spons, serta scrub wajah yang mengandung partikel pengelupas seperti gula atau garam.

Manfaat dari eksfoliasi fisik termasuk perbaikan tekstur kulit yang tidak rata dan pengurangan garis halus. Hasilnya dapat terasa instan, dengan kulit yang tampak lebih halus dan cerah setelah satu sesi. Namun, ada risiko yang perlu diperhatikan, terutama bagi pemilik kulit sensitif, karena eksfoliasi fisik dapat menyebabkan iritasi atau bahkan robekan mikro pada kulit jika dilakukan terlalu keras.

3 dari 6 halaman

Eksfoliasi Kimia

Di sisi lain, eksfoliasi kimia menggunakan asam atau enzim untuk melarutkan ikatan antar sel kulit mati. Metode ini cenderung lebih lembut dan dapat menembus lebih dalam ke dalam kulit. Terdapat beberapa jenis eksfolian kimia, termasuk Alpha Hydroxy Acids (AHAs) yang cocok untuk kulit kering dan menua, serta Beta Hydroxy Acids (BHAs) yang lebih efektif untuk kulit berminyak dan berjerawat.

Manfaat dari eksfoliasi kimia mencakup perbaikan warna kulit, peningkatan tekstur, dan pengurangan noda akibat kerusakan sinar matahari. Namun, penting untuk diingat bahwa eksfoliasi kimia dapat membuat kulit lebih rentan terhadap kemerahan dan kerusakan akibat sinar matahari, sehingga penggunaan tabir surya sangat dianjurkan.

4 dari 6 halaman

Perbandingan dan Tanggapan Ahli

Baik eksfoliasi fisik maupun kimia memiliki tujuan yang sama, yaitu menghilangkan sel kulit mati dan menghasilkan kulit yang lebih cerah. Namun, pilihan antara kedua metode ini tergantung pada jenis kulit dan masalah kulit yang dihadapi. Dermatologis sering merekomendasikan eksfolian kimia untuk kulit sensitif atau berjerawat karena cenderung lebih lembut dan tidak menyebabkan kerusakan pada penghalang kulit.

Menurut Dr. Margarita Lolis, seorang dermatologis di New York, "Eksfolian kimia adalah pilihan yang lebih disukai untuk kulit sensitif." Sementara itu, eksfolian fisik dapat menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki masalah tekstur kulit dan dapat mentolerir produk yang lebih abrasif.

5 dari 6 halaman

Pentingnya Perlindungan Kulit

Apapun metode yang dipilih, penting untuk selalu melindungi kulit dengan menggunakan tabir surya, terutama setelah eksfoliasi. SPF 50 sangat dianjurkan untuk melindungi kulit yang telah melemah akibat proses eksfoliasi. Selain itu, frekuensi eksfoliasi juga harus diperhatikan; dermatologis merekomendasikan tidak lebih dari dua hingga tiga kali seminggu untuk kulit sensitif.

6 dari 6 halaman

Kesimpulan

Pada akhirnya, pilihan antara eksfoliasi fisik dan kimia bergantung pada kebutuhan dan preferensi kulit Anda. Mendengarkan sinyal dari kulit dan menyesuaikan rutinitas perawatan kulit Anda adalah kunci untuk mendapatkan hasil yang optimal.