Fimela.com, Jakarta - Fenomena doom spending semakin menjadi sorotan di tengah ketidakpastian ekonomi dan sosial global. Istilah ini merujuk pada perilaku pengeluaran uang yang impulsif atau berlebihan, bukan karena keinginan tulus terhadap suatu barang, melainkan sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau ketidakpastian mengenai masa depan. Berbeda dengan terapi belanja biasa yang terkontrol, doom spending didorong oleh ketakutan dan sering dilakukan berulang kali untuk mengelola tekanan emosional.
Meskipun memberikan kelegaan sesaat, kebiasaan ini pada akhirnya dapat memperburuk perasaan cemas, rasa bersalah, dan hilangnya kendali. Fenomena doom spending ini semakin populer di kalangan Milenial dan Gen Z, meskipun pada dasarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Doom spending berbeda dari pembelian impulsif biasa karena pemicunya adalah kecemasan mendalam tentang kondisi dunia, bukan sekadar godaan diskon atau rekomendasi produk.
Menurut SoFi, sebuah platform layanan keuangan, Doom spending adalah ketika individu membelanjakan uang untuk mengatasi stres dan kecemasan tentang masa depan, seperti pandangan ekonomi atau politik yang suram.
Perilaku ini merupakan mekanisme koping yang bertujuan untuk mengatur diri secara emosional, namun seringkali berjalan tidak semestinya, hanya memberikan kelegaan singkat dan justru memperkuat perasaan cemas, rasa bersalah, serta hilangnya kendali.
Mengapa Kita Terjebak dalam Doom Spending?
Doom spending seringkali berakar pada kecemasan eksistensial, perasaan kurangnya kendali, dan upaya putus asa untuk mendapatkan kembali kendali. Hal ini terutama terjadi dalam konteks peristiwa global yang menimbulkan rasa tidak berdaya dan pasrah. Kenaikan biaya perumahan, makanan, sewa, dan pendidikan yang melampaui pertumbuhan pendapatan membuat banyak orang merasa kewalahan.
Kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi atau resesi juga mendorong konsumen untuk berbelanja lebih awal demi menghindari kenaikan biaya di masa depan. Banyak orang, terutama Gen Z dan Milenial, merasa tujuan keuangan jangka panjang seperti membeli rumah atau pensiun sulit dicapai, sehingga muncul pola pikir, Saya tidak akan pernah mampu membeli rumah atau pensiun, jadi mengapa tidak menghabiskan semua uang saya sekarang?
Secara neurologis, pembelian dapat memberikan dorongan kebahagiaan singkat dan pelepasan dopamin, zat kimia 'rasa senang' di otak, yang berfungsi sebagai pelarian sementara dari stres. Mekanismenya bersifat neurologis: dopamin jangka pendek menekan kecemasan sementara, membangun lingkaran penguatan,
demikian Yomio Blog menjelaskan. Ini menciptakan lingkaran penguatan di mana pengeluaran digunakan untuk menekan kecemasan. Membelanjakan uang untuk hal-hal yang kita inginkan memberi kita dorongan dopamin cepat. Pelarian sementara dari stres dan kecemasan mendorong keinginan kita untuk berbelanja,
kata Mark Marshall. Dalam masa-masa tidak pasti, orang mungkin merasa tidak berdaya, dan dengan membelanjakan uang, mereka mendapatkan kendali atas satu aspek kehidupan mereka, memberikan rasa otonomi dan pemberdayaan yang sangat dibutuhkan.
Paparan berita negatif yang tiada henti dan media sosial yang memperkuat ketakutan kolektif dapat memperburuk kecemasan. Ketakutan kolektif diperkuat oleh konektivitas digital kita, yang membuat stres dan mekanisme koping menjadi lebih publik, performatif, dan menular,
demikian Amanda LaMela dan Dani Saliani menguraikan.
Media sosial sering menampilkan gambaran ideal kemewahan dan kesuksesan, menciptakan tekanan untuk 'mengikuti gaya hidup orang lain' dan berbelanja di luar kemampuan. Media sosial sering menampilkan gambaran ideal tentang kemewahan dan kesuksesan. Perbandingan dapat menciptakan tekanan untuk mengikuti gaya hidup orang lain. Akibatnya, manusia berbelanja di luar kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi masyarakat,
jelas Mark Marshall. Doom spending memiliki akar yang sama dengan 'doomscrolling', di mana orang terus-menerus terpaku pada berita buruk, memperkuat persepsi bahwa tidak ada alasan untuk merencanakan masa depan.
Konsekuensi Jangka Panjang dari Doom Spending
Meskipun doom spending dapat memberikan dorongan dopamin sementara, kelegaan yang dirasakan bersifat singkat. Dampak jangka panjangnya dapat merugikan kondisi keuangan dan kesejahteraan mental seseorang. Perilaku ini dapat menyebabkan penumpukan utang kartu kredit yang cepat, yang merupakan salah satu bentuk utang paling mahal dengan suku bunga tinggi. Sekitar 46% orang Amerika memiliki utang kartu kredit. Kebiasaan ini juga menguras tabungan darurat dan menghambat kemampuan untuk menabung untuk masa depan, seperti uang muka rumah atau pensiun.
Selain itu, kebiasaan belanja yang tidak sehat ini dapat merusak skor kredit seseorang. Jika banyak orang melakukan doom spending, hal itu dapat menciptakan kesenjangan pengeluaran di masa depan karena permintaan ditarik ke depan, menyebabkan volatilitas jangka pendek dalam pertumbuhan ekonomi. Para doom spender menanggung rata-rata utang kartu kredit $3.580 lebih banyak daripada orang-orang sebanding yang tidak melakukan doom spending, namun tidak melaporkan peningkatan proporsional dalam kepuasan hidup,
ungkap Yomio Blog.
Perilaku belanja yang tidak adaptif justru meningkatkan kecemasan, penyesalan, rasa malu, dan stres akibat akumulasi utang. Perilaku belanja yang maladaptif mengintensifkan kecemasan, penyesalan, rasa malu, dan peningkatan stres dari akumulasi utang,
kata Amanda LaMela dan Dani Saliani. Dalam jangka panjang, siklus ini memperkuat kecenderungan depresi dan kecemasan, terutama jika tidak ditangani. Utang, khususnya, membawa dampak psikologis seperti stres kronis, keputusasaan, dan perasaan terjebak. Utang secara khusus membawa dampak psikologis seperti stres kronis, keputusasaan, dan perasaan terjebak,
menurut Amanda LaMela dan Dani Saliani. Munculnya perasaan bersalah atau penyesalan setelah melakukan pembelian impulsif juga menjadi konsekuensi umum.
Strategi Efektif Mengatasi Doom Spending
Mengatasi doom spending membutuhkan pendekatan yang disengaja untuk mengubah kebiasaan dan pola pikir keuangan. Langkah pertama adalah mengidentifikasi pemicu, yaitu situasi atau emosi yang mendorong Anda untuk berbelanja secara impulsif. Identifikasi pemicu: Renungkan situasi atau emosi yang mendorong Anda untuk berbelanja secara impulsif,
saran Mark Marshall. Terapkan jeda 24-48 jam sebelum melakukan pembelian diskresioner secara online, yang memberi waktu untuk mempertimbangkan apakah pembelian itu benar-benar diperlukan. Untuk pembelian online diskresioner, pertimbangkan untuk menunda 24 jam sebelum mengklik 'konfirmasi pembelian',
saran Charles Schwab. Hapus informasi kartu kredit yang tersimpan di pengecer online dan beralih ke pembayaran tunai untuk pembelian di toko, karena tindakan fisik memasukkan informasi kartu dapat membantu menyadari dampak pengeluaran.
Perencanaan keuangan yang lebih baik juga krusial. Buat anggaran yang jelas untuk melacak pendapatan dan pengeluaran, serta alokasikan jumlah tertentu untuk pengeluaran diskresioner. Buat anggaran: anggaran yang jelas adalah langkah krusial dalam pengelolaan keuangan,
kata Mark Marshall. Tetapkan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang yang dapat dicapai, karena bahkan menabung dalam jumlah kecil pun lebih baik daripada tidak sama sekali. Memiliki bantalan keuangan dapat mengurangi kecemasan yang mendorong pengeluaran berlebihan. Bangun dana darurat: Bantalan finansial dapat mengurangi kecemasan yang mendorong pengeluaran berlebihan,
jelas Mark Marshall. Jadikan tabungan otomatis untuk memastikan sebagian dari pendapatan Anda langsung masuk ke rekening tabungan.
Terakhir, penting untuk mengembangkan mekanisme koping yang sehat. Batasi konsumsi berita dan media sosial untuk memutus siklus kecemasan dan stimulasi berlebihan. Ganti terapi belanja dengan strategi manajemen stres yang lebih sehat, seperti berolahraga, berkumpul dengan teman, atau melakukan hobi kreatif seperti menulis jurnal, seni, atau musik. Temukan strategi koping alternatif: Ganti terapi belanja dengan manajemen stres yang lebih sehat,
saran Mark Marshall. Prioritaskan kesehatan mental Anda; jika kebiasaan belanja merugikan kesehatan finansial dan emosional, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari konselor keuangan atau terapis. Menjadi sukarelawan atau berpartisipasi dalam kelompok komunitas lokal dapat membantu melawan perasaan tidak berdaya dengan menyediakan cara yang nyata dan bermakna untuk berkontribusi secara positif,
tulis Amanda LaMela dan Dani Saliani.