Sukses

Lifestyle

Masalah dalam Hidup adalah Bagian dari Proses Pendewasaan Diri

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Indah Pradhita - Denpasar

Pernah merasa insecure terhadap diri sendiri? Adanya benih-benih rasa minder alias kurang percaya diri. Jiwanya pemalu tapi ingin keberadaannya dianggap ada, keterbatasan keahlian yang dimiliki namun berharap akan diakui. Menyalahkan Tuhan, keadaan dan diri sendiri karena hidup memaksaku menjalani yang tak kuduga. Marah saat dihina namun nyali ciut untuk membela diri. Merasa kesal tak tersampaikan justru meIampiaskannya dengan membicarakan orang lain di belakang. Itulah aku dan segala keterbatasanku di masa lalu.

Aku selalu menyalahkan orang-orang di sekitarku yang tidak mau menerima kehadiranku di antara mereka. Aku selalu merasa dunia dan Tuhan yang menciptakanku tidak adil pada diriku. Mengapa orang lain sangat mudah mendapatkan apa yang mereka mau? Popularitas, kenyamanan, kemewahan atau sering disebut "kegemerlapan hidup" sementara aku selalu dijauhi, dibeda-bedakan, dan dibenci. Awalnya, bersikap baik justru menjadi bumerang bagiku. Yang mendukungku justru menjauhiku.

Aku jalani masa tersebut kurang lebih 12 tahun sehingga aku merasa jenuh untuk bersabar. Aku bosan selalu menjalani aktivitas yang sama, yaitu menggerutu dan menangis menghadapi hal-hal yang sama sekali tidak penting bagi hidup dan masa depanku. Dan aku hanya bisa melampiaskan kekesalanku dengan membicarakan orang tersebut di belakangannya.

Mulai terbiasa nampaknya membawa sedikit perubahan bagiku, yaitu sikap cuek dengan apa pun yang orang lain lakukan untuk menggangguku. Bisa melewatinya perlahan-lahan, Tuhan justru mengujiku melalui orangtuaku sendiri. Ya, mereka bercerai. Kupikir, dengan bercerainya mereka akan menjauhi satu sama lain dan terhindar dari pemaksaan diri untuk hidup dalam satu lingkup yang sama sekali tidak memberi kebahagiaan bagi apa yang mereka jalani. Mereka terus saling menyalahkan walau sudah resmi bercerai.

Aku bercerita dengan sahabatku namun tak ada yang bisa menjadi teman curhatku. Aku meratapi apa yang baru saja terjadi walau sebelumnya aku berhasil melewati semua yang mengujiku.

 

Tak Ada Kehidupan yang Sempurna

Tak terasa waktu terus saja berlalu. Tak terbesit dalam pikirku aku tak mampu mengendalikan detik yang tetap berjalan. Usiaku semakin bertambah, lingkunganku meluas dan begitu banyak menemui pertemuan juga perpisahan.

Dari serangkaian kejadian aku menerima kabar bahwa ada hidup orang lain yang begitu buruk sehingga membuka pandanganku, ada yang begitu terluka hatinya karena sebuah ucapan sehingga aku berhati-hati dalam menyampaikan maksudku, ada yang begitu kehilangan sehingga aku bersyukur aku masih tetap bersama mereka walau hidup berjauhan saat ini.

Rasa syukur terbesarku untuk semua yang Tuhan beri adalah kesadaran bahwa tidak ada kehidupan yang sempurna. Tidak ada jalan yang persis seperti kamu harapkan, tidak ada keinginan yang selalu bisa diwujudkan.

Siapa pun yang membaca tulisan ini, tak semua yang kualami bisa kusampaikan di sini. Percayalah, semua adalah proses pendewasaan diri, semua tak semata mengujimu namun memberimu pelajaran untuk memahami arti serta proses yang terjadi. Memang benar, tidak ada kehidupan di luar sana yang terlihat lebih buruk dari hidup kita dalam penglihatan ini.

Hidup tidak akan seru dan menyenangkan jika tak menemui kesulitan dan berani menghadapinya. Tidak ada perasaan bangga dan bahagia, juga bisa kutertawai kala menoleh masa lalu karena akhirnya bisa sampai di babak baru, yaitu tahun 2020. Terima kasih tahun-tahun sebelumnya yang mengantarku pada mimpi juga kehidupan yang kutuju, orang yang berlalu dalam kehidupanku, pengalaman serta Tuhanku Yang Maha Besar.

Rezeki, kekuatan, serta kehidupan yang baik tidak hanya hadir dari apa yang aku mau. Namun, dari apa yang paling baik bagi Tuhan untukku.

 

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Tetap Lakukan yang Terbaik meski Kenyataan Kadang Meleset dari Harapan
Artikel Selanjutnya
Belum Terlambat untuk Membangun Pola Hidup yang Lebih Sehat