Sukses

Lifestyle

Eksklusif, Mel Ahyar dan Perjuangannya Belajar Couture di Paris

Fimela.com, Jakarta Tak semua orang memiliki kegigihan dalam mewujudkan keinginannya. Karena, sebagian besar orang hanya memiliki ingin yang hanya sekadar ingin. Begitu pula dengan mimpi, yang kemudian tak pernah terwujud dan tergapai. Tapi, hal ini tidak terjadi pada diri Mel Ahyar, seorang desainer muda yang menggeluti couture di industri fesyen. 

Perempuan berkacamata ini lahir di Palembang, 22 Februari 1980. Namanya tentu saja tak lagi asing di telinga para pemerhati fesyen. Dia juga dikenal karena sempat menuntut ilmu di ESMOD Paris usai lulus dari ESMOD Jakarta. Dia memilih untuk menggeluti dunia couture. 

Mel Ahyar (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

"Waktu itu saya sangat ingin belajar lebih dalam soal couture. Pertama, karena di Indonesia belum ada," katanya ketika ditemui di salah satu kantornya di daerah Cipete Selatan. Kepada editor Bintang.com Karla Farhana, dia bercerita bagaimana sulitnya bersaing dengan teman-teman di Paris saat itu. 

Bukan hanya sulit pada saat belajar di Paris, tapi ternyata Mel sempat tidak dibolehkan untuk menjadi desainer. Dia mengaku kepada Bintang.com, sang ayah tak setuju karena ingin Mel menuntut ilmu di bidang bisnis dan ekonomi. Sementara, Mel sangat tidak suka dengan bidang tersebut. Namun, bukan Mel Ahyar namanya kalau langsung menyerah begitu saja. 

Mel Ahyar (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Hingga pada akhirnya sang ayah merestui impiannya untuk terbang ke Perancis. Menginjakkan kaki di Ibu Kota Paris, ternyata kesulitan dan halangan tetap saja muncul dan menguji keteguhan hatinya. Dia sempat tak mendapatkan kelas couture 
yang sangat diingininya. 

Kisah perjuangannya untuk mendalami couture pun dimulai. Mel Ahyar menceritakan segala kesulitan dan perbedaan sekolah fesyen di Indonesia dan Perancis. Berikut hasil wawancara dengan Bintang.com selengkapnya. 

Sempat Tak Diizinkan Ayahnya Jadi Desainer

Menjadi desainer sukses di usia muda, apakah Mbak Mel sudah punya impian ini sejak kecil?

Belum. Saya bahkan belum tahu kalau saat SD. Waktu SD saya tidak kepikiran sama sekali. Saya tahu ada fasyen itu saat SMA. Kira-kira awal-awal ESMOD muncul di Indonesia, baru saya tertarik.

Saat masih duduk di bangku sekolah, apa impian Mbak Mel?

Saat masih SMA saya sama sekali belum terpikir tentang fesyen. Saat itu malah saya ingin jadi arsitek. Itu sebelum lulus SMA. Setelah lulus, saya berangkat ke Bandung untuk daftar ke ITB, jurusan arsitek. Tapi tidak lolos. Saya kemudian memutuskan untuk tinggal dulu di Bandung satu tahun, sambil kembali belajar. Karena saya ingin mencoba lagi ikut ujian itu. Jurusannya sama, arsitek juga. Saya juga mau masuk Universitas Parahyangan (Unpar).

Mel Ahyar (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Tapi sayang, belum sampai satu tahun, ayah saya sudah menyuruh pulang. Karena dia khawatir saya sendirian di Bandung. Selain itu juga ayah saya tidak percaya dengan arsitek. Dia saat itu hanya percaya dengan sekolah bisnis.

Setelah kembali dari Bandung, apa yang dilakukan?

Saya akhirnya ikut bisnis ayah saya. Saya ikut membantu. Tapi sayangnya, saya sama sekali tidak tertarik dengan hitung-hitungan. Waktu sekolah saya bahkan paling sebal dengan pelajaran akuntansi. Hingga akhirnya 6 bulan pun berlalu. Saya tahan-tahanin. Akhirnya ayah saya yang menyerah. Dia bilang, ya sudahlah, kamu mau apa? Akhirnya saya minta izin untuk masuk ESMOD.

Apakah orangtua pada akhirnya mendukung untuk menjadi desainer?

Awalnya tidak. Ayah saya berpikir, buat apa sekolah menjahit? Mau jadi apa? Biayanya mahal pula. Walaupun dimarahin, saya akhirnya dapat izin juga untuk sekolah di ESMOD.

Mel Ahyar (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Apa yang memperkuat keinginanmu untuk sekolah desain?

Ya, saat itu juga baru muncul desainer-desainer muda. Seperti Oscar Lawalata. Desaier-desainer muda saat itu membuat saya terinspirasi. Saya sekolah di ESMOD Jakarta selama 3 tahun. Setiap tahun saya berprestasi. Dulu saya pernah mendapat penghargaan dari Kedutaan Perancis.

Setelah lulus, apakah langsung melanjutkan ke Perancis?

Belum. Setelah lulus, saya di-hire salah satu perusahaan di Bali. Saya di sana hampir dua tahun. Tapi, di Bali saya merasa ada yang kurang. Entah apa, saya merasa ada yang kurang. Terutama eksplorasi desainnya. Karena perusahaan itu sangat ready-to-wear. Akhirnya, saya berpikir, saya sepertinya harus belajar lebih banyak. Saya ingin punya kemampuan yang lebih. Saya lantas melanjutkan ke ESMOD Paris.

Terjebak di Women's Wear

Kemampuan apa yang ingin diperdalam?

Saya saat itu sangat ingin belajar couture. Saya kemudian daftar ke ESMOD Paris. Saya diterima. Kira-kira waktu itu tahun 2004 akhir. Saya berangkatlah ke Paris. Saat di sana, ternyata kelas couture sudah penuh. Mereka tidak memberitahukan saya sebelumnya. Waktu itu memang saya telat datang karena masalah visa. Mereka kira, saya tidak jadi masuk couture. Jadi mereka berikan posisi saya ke orang lain. Mereka bilang, saya akhirnya diterima di Women’s Wear. Padahal saya inginnya couture.

Apakah jurusan yang berbeda itu menjadi masalah?

Tentu. Saya waktu itu berpikir, buat apa saya ambil Women’s Wear lagi? Di Indonesia saya sudah ambil jurusan ini dan sudah lulus. Saat itu, ada 9 orang yang ‘terlempar’ ke Women’s Wear dengan berbagai alasan dan masalah. Saya awalnya memperjuangkan diri saya untuk masuk ke couture. Tapi mereka bilang tidak bisa, karena ada 9 orang yang posisinya sama dengan saya. Mereka juga tanya, apa yang membuat kami memilih kamu di antara 8 orang lainnya?

Terjebak di Women’s Wear, apa yang kamu lakukan?

Akhirnya, saya jalani saja. Tapi hanya 3 bulan pertama. Tapi, setiap ada proyek, saya selalu bikin yang berbeda. Misalnya, disuruh bikin kemben, saya bikin korset. Saat saya disuruh bikin little black dress, saya bikinnya dress dengan cutting yang rumit banget. Karena hal ini, saya selalu dipanggil Profesor. Akhirnya, dia menyerah juga.

Dia bilang, “Mel, ini bukan ready-to-wear. Bukan berarti pekerjaanmu tidak bagus, tapi saya tidak bisa nilai.” Meskipun dimarahi, saya terus melakukan hal yang sama setiap kali ada proyek. Sampai akhirnya, profesor saya membawa saya menghadap Presiden ESMOD.

Profesor saya langsung bilang, pekerjaan saya tidak sesuai. Dia juga bilang kalau saya ingin sekali masuk couture. Dia sebut karya saya bagus, tapi dia tidak bisa menilai. Akhirnya, saya dibolehkan masuk ke kelas couture.

Mel Ahyar (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Apa kesulitannya saat sekolah desain di Perancis?

Persaingannya sangat ketat. Orang-orang di sana sangat kompetitif. Selain itu, anak-anak di sana juga suka membuat kubu. Orang Korea dengan orang Korea, yang lain dengan kelompoknya yang lain. Saya, karena orang Indonesia sendirian, saya akhirnya bisa bergabung dengan mereka semua.

Tidak seperti di Indonesia yang disuapi. Sistem belajarnya sangat berbeda. Seperti di Indonesia, saya juga berprestasi di Perancis. Akhirnya, saya lulus. Waktu baru lulus, saya langsung ditawari untuk bekerja di Barcelona, Spanyol. Tapi saya tolak.

Kenapa memilih untuk pulang dan bekerja di Indonesia?

Saat itu, ketika diterima bekerja di Barcelona, saya langsung dikontrak 3 tahun. Saya juga harus belajar bahasa Spanyol. Tapi sayangnya, mama saya bilang, saya tidak akan pernah pulang lagi kalau bekerja di sana. Selain itu, pacar saya yang kini menjadi suami sepertinya ingin saya pulang saja. Karena hal ini, jadi akhirnya saya pulang ke Indonesia.

Mel Ahyar (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Setelah lulus dari ESMOD Paris, apa impianmu?

Setelah lulus, saya waktu itu memang sangat ingin punya line sendiri. Saya ingin punya sesuatu, sendiri. Jadi, saya memutuskan untuk tidak bekerja dan mulai menjadi entrepreneur.

Awal-awal menjadi entrepreneur di dunia fesyen, seperi apa perjuangannya?

Lumayan perjuangannya. Saya waktu awal-awal itu hanya punya tiga orang. Satu tukang jahit. Satu bordir. Satu lagi finishing. Waktu itu yang mengerjakan pola masih saya. Saya memperkenalkan baju saya dari teman ke teman. Saudara ke saudara. Butuh waktu hingga karya saya bisa berbicara sendiri.

Saya tidak menggunakan iklan apa pun. Dari teman ke teman saja. Hingga akhirnya, tahun 2008 saya menggelar show tunggal pertama saya. Show pertama ini membuat saya dan karya saya akhirnya mulai di kenal masyarakat.

Mimpi memang harus diperjuangkan. Mel Ahyar menjadi salah satu contoh kegigihan dalam menggapai mimpinya. Dia tak menyerah ketika banyak halangan menghadang. Totalitasnya bukan hanya ketika dia sudah menjadi desainer ternama. Tapi sejak awal dia menapakkan kaki dan meneguhkan hati di dunia fesyen. 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading