Sukses

Lifestyle

Metamorfosa Muhammad Ali: From Nothing To Something

Empat hari yang lalu, sang petinju legendaris, Muhammad Ali, meninggal dunia. Seluruh dunia berduka mengenang kepergian pria yang dijuluki The Black Superman ini. Kini dan sampai kapanpun akan selalu terkenang pada kutipan pernyataan penuh percaya dirinya tentang cara 'menari'nya di atas ring tinju yang membuatnya tak terkalahkan.

"Float like a butterfly, sting like a bee"


Kutipan yang populer, seterkenal pertarungannya yang legendaris melawan George Foreman hingga dijuluki sebagai 'Rumble in The Jungle' di tahun 1974. Dia pun akhirnya meninggal di usia yang ke 74, beberapa hari yang lalu.

Semua manusia memang akan mati, sekalipun itu Muhammad Ali, petarung juara dunia yang dijuluki The Greatest. Ya, yang terhebat. Bagaimanapun juga dia kini telah tiada, memenuhi panggilan The Greatest yang sebenarnya. Ambil saja sisi baiknya, teladani semangatnya atau berkacalah saja pada pengalaman hidupnya.

Masa kecil Muhammad Ali penuh derita, penuh perjuangan a la warga kelas bawah berkulit gelap di Amerika. Kerja kerasnya membuahkan hasil hingga akhirnya berkuasa sebagai 'Raja Kelas Berat' di ring tinju selama beberapa tahun lamanya. Adalah sebuah monumen keberhasilan perjuangan 1 berbanding 1000.000 anak manusia yang hanya berbekal tekad, semangat dan dengan memoles bakat. Hingga jika dia lalu jemawa, angkuh dan banyak mengumbar kebanggaannya, pandangi saja sebagai potret biasa seorang anak manusia dalam perayaan dan pelampiasan atas waktu, keringat dan air mata yang telah dikorbankannya. Anggap saja sudah menjadi haknya untuk melakukannya. Tak perlu memandang miring lagi padanya. Toh dia kini telah tiada. Dikubur sedalam 6 kaki di bawah sana.

Ali yang perkasa justru akhirnya tumbang dikalahkan oleh penyakit yang muncul dari dalam tubuhnya sendiri. Jadikan itu sebagai refleksi, bahwa kita tak akan pernah menduga akhir dari perjalanan kita masing - masing dalam hidup ini. Kaki dan tungkainya yang dulu lincah berdansa, lemah lunglai digerogoti Parkinson yang sukses melumpuhkannya. Mulut besar dan silat lidah lihainya, berubah menjadi diam dalam kelu dan gemetar yang tak terkendalikan lagi oleh sel - sel otaknya. Kepalan tangan yang dulu menyengat lawan - lawannya hingga mereka tumbang tak sadarkan diri, menggigil dalam gemetar tiada henti yang membuat dia menggerakkan jemarinyapun tak bisa. Lalu mana Muhammad Ali yang sebenarnya? Kemana hilangnya The Greatest yang dulu 'terbang melayang bak kupu - kupu, menyengat pedih laksana lebah'?

Purwa Madya Duksina, demikian bijak Jawa menandai rangkaian kehidupan di alam fana. Selalu ada awal, tengah dan akhir bagi setiap kejadian di alam semesta. Dan tak terkecuali juga terjadi pada Muhammad Ali. Di akhir hayatnya, bukan kalimat - kalimat lagi yang mampu lantang diperdengarkannya, namun tubuh tuanya yang akhirnya dalam lemah, lesu dan diam membisu menunjukkan segalanya. Dan jiwa? Ternyata hanya tinggal menunggu saat yang tepat untuk menyelinap pulang kembali kepada Sang Empunya, The Greatest of The Greats.

Mari, kenanglah Muhammad Ali dan semua orang hebat yang telah mendahului kita sebagai kisah - kisah para kupu - kupu atau lebah yang keberadaannya selalu disebabkan oleh rangkaian proses metamormosa. Purwa, Madya, Duksina.

Selamat jalan, Muhammad Ali.

Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom
Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/



(vem/wnd)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading