Sukses

Lifestyle

Belum Menikah di Usia Hampir 40 Tahun, Ada Trauma Masa Kecil yang Melekat Hingga Kini

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: CDW 

Masa kanak-kanak biasanya selalu dihujani dengan kasih sayang berlimpah, penuh tawa kebahagiaan, dan merangkai peristiwa yang menyenangkan dengan orang-orang tersayang. Namun bagiku hal itu adalah suatu kenangan yang cukup buram nan suram, tapi jiwa kecilku selalu bisa menemukan kebahagiaan dalam kepahitan.

Diriku yang masih kecil itu selalu bisa menciptakan dunia sendiri dan berimajinasi seakan-akan segala peristiwa itu bagai kejadian slow motion tanpa suara. Aku hanya terdiam tanpa ekspresi, tanpa tangis, tanpa teriakan, dan tanpa membuat perhatian. Ya, aku tetap bisa mengalihkan perhatianku, membangun duniaku sendiri hingga aku bisa tersenyum dan tak merasakan apa-apa meskipun aku mendengar suara peperangan yang masih terus ada di memori terdalam di jiwa aku.

Sudah berpuluh tahun bahkan tigapuluh tahun lebih aku terus berusaha melupakan dengan selalu mengingat hal-hal yang indah. Aku mencoba berimajinasi menguburnya hingga para cacing memakannya tanpa sisa atau membakarnya dan melempar semua abu kelam itu terbang ke udara atau menghanyutkan ke lautan hingga hilang tanpa jejak.

Pertengkaran Orangtua

Jiwa di masa kecil itu selalu ada di dalam diri aku, dia selalu memelukku hingga saat ini jika teringat kenangan masa kecil. Aku merasa dia memberiku senyuman lembut dengan mata berbinar, memeluk hangat dan menyeka airmataku dan bergumam “Semua akan baik-baik saja, You have your own beautiful life. You have your own fate. Theirs are not your curse.”

Cerita masa kecil yang aku miliki memang tipikal cerita anak broken home yang menjadi saksi pertengkaran dan kekerasan dalam keluarga. Dan sayangnya kenangan itu terus terpatri mungkin hingga aku mati.

Aku selalu melihat takjub dan tertegun jika melihat keluarga yang makan bersama di tempat makan sambil bercengkrama atau saat liburan dengan keluarga yang penuh tawa. Mataku terpaku, hatiku kelu, jiwaku selalu bergumam, “Apa rasanya menjadi anak itu? Beruntung sekali dia memiliki keluarga yang memberinya kebahagiaan dan ketenangan jiwa.”

Aku tidak terlalu detail mengingat masa kecilku, tapi aku mengingat rasanya, mengingat suara-suara itu, bentakan, cacian, teriakan, hinaan dan kekerasan. Kadang salah satu peristiwa masih muncul di mimpiku dan menakutkan aku seakan menarik aku kembali ke masa itu. Dari sekian banyak peristiwa yang terjadi aku masih mengingat beberapa dengan jelas.

Sore itu di sebuah keramaian menjelang malam takbiran aku merengek untuk dibelikan baju baru yang sesuai dengan aku mau kepada Mamaku yang ditemani Tanteku dan kedua adik laki-lakiku. Hingga waktu menjelang maghrib kami baru sampai di rumah. Bapakku marah besar dan memaki karena kami pergi terlalu lama.

Aku tidak ingat apa saja yang diutarakan tapi masih mengingatnya dalam tayangan lambat tanpa suara. Ya saat itu aku sangat ketakutan melebihi seperti biasanya. Aku menangis histeris dan berteriak meminta mereka berhenti karena banyak orang menonton di depan rumah kami. Bapakku menampar Tanteku di halaman rumah karena membela kakak kandungnya, Mamaku yang melerai mereka. Yang aku ingat kedua adikku ketakutan dan menangis.

Setelah itu Kakek dan Nenekku dari pihak Mamaku datang untuk menyudahi permasalahan. Aku terdiam dan melihat gerak-gerik Bapakku yang berpura-pura sibuk dengan sepedanya disaat dinasehati oleh kakek dan Nenek. Aku tetap terdiam mengamati dengan sorot mata lugu dan basah oleh sisa-sisa airmataku, bagiku saat itu adalah hal normal di keluargaku karena sering terjadi, aku belum mampu mencerna tapi aku mampu merasakan, merekam, dan mengenang.

Beberapa tahun sebelumnya saat kedua adikku masih balita, aku masih mengingat bagaimana Bapak melarang kami bertiga untuk bertemu Mama. Aku mengingat ada saudara dari Buyutku yang mengambil kami dari para penjaga dan membawa kami ke rumah Kakek dan Nenek untuk bertemu Mama. Aku masih mengingat gambaran beliau menggendong adikku yang nomor dua dan menggandeng aku dan adikku yang pertama.

Aku masih mengingat wajah Beliau dengan tenang dan meyakinkan para penjaga itu bahwa semua akan baik-baik saja jika kami dibawa oleh Beliau untuk bertemu Ibu kandung kami. Beliau masih sering hadir di mimpiku untuk mengobati rasa rinduku kepadanya meskipun tanpa percakapan. Sampai masa SMP aku dan adik-adikku sering bolak-balik tinggal di rumah Kakek dan Nenek. Jika orangtua kami bertengkar lagi, kami kembali lagi ke rumah Kakek dan Nenek untuk menemukan kedamaian dan kehangatan kasih sayang.

Aku masih mengingat saat wajahku disemprot air teh panas oleh Bapakku dari mulutnya sambil marah-marah karena Bapak meminumnya disaat masih panas. Aku hanya terdiam. Namun ada tetangga kami yang dipercaya untuk mengantar jemput aku les Bahasa Inggris, melihatnya dan langsung menghampiriku dan menanyakan keadaanku, seketika aku menjawab bahwa aku tidak apa-apa. Ya, aku tidak menangis atau berteriak, aku hanya terdiam dan segera menyeka wajahku dengan tenang. Aku melihat raut wajah beliau yang kaget dan kasihan saat melihatku diperlakukan seperti itu oleh Bapakku. Entah mengapa aku masih mengingatnya.

Memengaruhi Diriku yang Kini Dewasa

Aku merasa tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang berjiwa dingin, beku, dan keras. Tetapi karakter aku yang terlihat diluar adalah seorang anak yang hangat dan tenang bagi yang tak mengenalku utuh.

Saat remaja aku sangat tertutup dan hampir tidak pernah ada teman yang main ke rumahku. Alasanku adalah aku malu, karena pernah saat ada temanku yang belajar kelompok di rumahku tiba-tiba saja kedua orangtuaku bertengkar dengan suara khas Bapak yang keras dan menakutkan. Temanku langsung ketakutan dan meminta pulang.

Aku hanya terdiam dan bertekad untuk tidak mengajak mereka main ke rumahku kembali dan aku akan menolak jika ada teman yang ingin main ke rumah. Mungkin aku terkesan sebagai anak sombong dan tidak mau bergaul dengan teman-teman sebayaku, namun sesungguhnya aku adalah anak pingitan yang harus pulang tepat waktu dan aku tidak memiliki hal yang kubanggakan tentang bermain ke rumahku.

Akhirnya aku selalu belajar sendiri dan hanya teman-teman tertentu yang aku izinkan belajar di rumahku yang aku yakini mereka tidak akan kaget dan memahami jika pertengkaran orangtuaku terjadi disaat kami sedang mengerjakan tugas sekolah.

Aku masih ingat saat aku menutup kedua telingaku dan menahan tangis dan teriakan, berusaha keras fokus berkonsentrasi belajar dan menghafal pelajaran sekolah karena akan ada ujian esok paginya. Malam itu orangtuaku ribut kembali entah masalah apa dan membuatku bertekad bahwa aku akan memiliki kehidupan yang berbeda dari mereka, karena aku berpikir bahwa takdir mereka sebagai orangtuaku tidak akan mampu membuatku terseret terus pada lingkaran setan kerumitan dan kepahitan hidup mereka.

Aku berhak untuk memiliki jalan kehidupan yang berbeda dan ingin terlepas dari permainan playing victim mereka yang ingin pembelaan dariku dan selalu menyeretku dalam permasalahan mereka. Ini bukan berarti ingin melarikan diri dan tak tahu berterima kasih kepada orangtua, karena menurutku tidak semua pendapat orangtua itu benar dan mampu memberi teladan untuk anak-anaknya.

Ada beberapa anak yang tidak beruntung, mereka memiliki orangtua yang disfungsional sebagai orangtua atau toxic parents. Namun kadang ada beberapa orang yang tidak tahu dan enggan paham pada cerita yang sebenarnya dan menghakimi anak yang menjaga jarak kepada orangtuanya sebagai anak durhaka dan tidak berbakti. Menjaga jarak bukan berarti mengabaikan dan tidak peduli, tapi ada kalanya lebih baik berpisah daripada hidup berdampingan tapi saling menyakiti.

Aku mengetahui Bapak berselingkuh sejak aku kecil, aku melihat teman kerja Bapak aku yang diperkenalkan ke Mama saat di ruang tamu rumah kami. Aku melihatnya masih muda dan selalu tersenyum dan tertawa.

Suatu malam saat Bapak menjemputku di sekolah setelah pulang dari study tour SMP, aku dibawa mampir ke sebuah rumah dan ternyata itu adalah rumah kontrakan wanita itu. Aku langsung berontak dan minta cepat pulang.

Sampai di rumah aku hanya terdiam dan tak mengadukan ke Mama agar tidak ada perang malam itu karena tubuhku dan jiwaku terlalu lelah untuk menghadapinya. Dan bukan hanya malam itu saja aku diajak menemui wanita itu.

Sampai di suatu waktu Mama menerima telepon dari wanita itu dan mengaku sedang hamil, dia sudah menikah secara siri dengan Bapak. Kebetulan Mama juga sedang hamil adikku yang ketiga. Dan ternyata Bapak memiliki anak lain bukan hanya dari istri kedua tapi juga dari istri keempat Bapak.

Aku baru mengetahui bahwa ternyata Bapak sudah menikah kembali untuk keempat kalinya saat aku lulus kuliah. Hanya Mamaku yang dinikahi secara sah. Istri siri ketiga Bapak adalah teman baik Mama, dan mungkin merasa malu akhirnya pernikahan itu berakhir. Sedangkan istri kedua Bapak meninggal karena sakit dan sempat meminta maaf ke Mama.

Aku memiliki 2 adik tiri dari wanita yang berbeda, istri Bapak yang kedua dan keempat. Bapak lebih memilih merawat anak-anak dari istri lainnya daripada adikku yang bungsu yang seumuran mereka, hingga saat ini adikku itu tidak dekat dengan Bapak bahkan dipegang juga tidak berkenan, namun dia tetap hormat dan takut pada Bapak.

Cerita keluargaku ini sangat rumit dan panjang dan belum berakhir hingga usiaku yang hampir empatpuluh tahun. Bapak aku jika mengunjungi rumah kami hanya untuk meluapkan amarah dan permasalahan. Aku kembali ke desaku saat Bapak dikembalikan ke Mama dalam keadaan sakit stroke dan tidak bisa berjalan, namun kembali ke rumah istri keempatnya saat sudah sembuh.

Hingga saat ini suara Bapak bagiku adalah suara yang paling tidak nyaman di dunia yang kudengar karena dia masih suka memakiku, menghinaku, merendahkanku, dan mengutukku. Beliau adalah orang yang sudah berubah banyak secara fisik dan pemikiran, tetapi masih orang yang sama sejak aku pertama kali mengenal kata-kata kasar dan ekspresi kemarahan dari seorang Bapak yang seharusnya memberiku rasa aman dan dukungan tanpa batas.

Ya, sampai hari ini permasalahan keluargaku masih ada dan terus berkembang entah sampai kapan. Sikap Bapak masih sama terhadap kami, arogan dan menebar ketakutan.

Aku melihat efek psikologis itu bukan hanya menyerangku tapi juga ke Mama. Sampai detik ini aku masih mengamati dan mempelajari serta berusaha memahami karakter Mama yang diakibatkan oleh sikap dan sifat Bapak aku.

Aku juga tidak terlalu dekat secara jiwa dan pemikiran dengan Mama, karakter kami sangat berbeda karena aku cenderung keras seperti Bapak begitu juga secara fisik aku lebih mirip Bapak aku. Tapi aku berusaha hanya mewarisi hal baik yang ada di Bapak aku. Aku memilih hidup dalam pengasuhan Nenek dan kedua Tanteku selama beberapa tahun bolak-balik ke rumah Nenek hingga lulus SMP lalu aku berkuliah keluar kota dan tinggal di sana hingga usia tigapuluh lima tahun.

Aku merasa keluar dari sangkar rumahku yang sangat ketat dan penuh problema dan merasa memiliki kehidupan sendiri. Aku tidak mendengar lagi suara teriakan atau bentakan dari Ayahku dan pertengakarannya dengan Mama.

Dahulu waktu kecil aku tidak mengenal arti kata bercerai dan belum bisa memahaminya. Aku baru membahas itu setahun lalu pada Mama, kenapa mereka tidak bercerai saja jika sudah tidak ada cinta dan kecocokan dalam pernikahan yang saling menyakiti dan memiliki kehidupan keluarga bak medan perang bagi mereka dan anak-anaknya.

Bertahun-tahun aku baru menyadari tiga tahun ini, ya di usiaku yang ketigapuluhenam tahun, aku mempelajari apa yang membuat Bapak tidak menyukai karakter Mama. Aku baru kembali tinggal lama dengan Mama selama pandemi, dan aku menemukan cela itu. Dan karena karakterku cenderung lebih banyak menuruni gen Bapak aku, aku menjadi paham dan tersadar, dan jika aku menjadi Bapak, maka aku juga akan meninggalkan Mama. I was so shocked.

Semua lontaran makian dan hinaan Bapak ke Mama yang dulu waktu aku kecil berpikir adalah suatu pendapat dari Bapak tapi ternyata itu adalah realita sifat dan sikap Mama. Tapi aku paham dan sadar semua itu penyebabnya adalah Bapak aku, mereka saling berkaitan dan meminta pembelaan dan pembenaran.

Mama selalu melontarkan kesimpulan bahwa aku tidak suka jika Bapak dijelek-jelekkan oleh Mama, padahal sesungguhnya aku tidak ingin mengingat semua peristiwa kelam itu, aku tidak ingin membahas masa-masa itu dan aku bosan mendengar cerita dan keluhan yang sama. Karena aku tahu bahwa masa lalu itu tidak akan berubah atau diperbaiki. Saat ini aku tidak memilih atau membela diantara mereka karena aku lebih fokus untuk membangun kehidupanku sendiri daripada memperbaiki perahu yang sudah usang dan rusak bahkan karam.

Aku menyimpulkan sendiri bahwa aku mengalami ‘daddy issue dan trust issue’, mungkin itu yang membuat aku belum menikah hingga usiaku hampir kepala empat. Aku tidak anti menikah ataupun anti pria, tapi aku merasa beku dan susah untuk jatuh cinta dan overthinking akan suatu hubungan percintaan.

Aku tidak memiliki gambaran orangtua yang yang secara mental dan jiwa yang stabil, tidak egois dan tanpa drama. Jujur aku takut untuk mengulang dari awal lagi jika menikahi pria yang salah. Aku ingin memutus rantai itu dan benar-benar lepas dari trauma masa kecil.

Aku ingin menjadi orang tua yang ikhlas dan sadar akan posisinya tanpa mengungkit pengorbanan yang diberikan atau kewajiban yang dijalankan demi hidup anak-anaknya, karena memiliki seorang anak adalah anugerah. Aku sangat sadar posisiku sebagai anak tanpa harus mendengar makian atau hinaan bahwa orangtuanya bekerja keras memberinya makan dan membangun rumah sebagai suatu beban kehidupan yang sangat berat.

Anak bisa saja berpikir bahwa kelahirannya adalah suatu kesalahan dan tidak diinginkan karena memberi penderitaan dan kesulitan pada orangtuanya. Memiliki orangtua dengan jiwa yang dewasa, matang, tenang, sadar, dan berpikir positif adalah suatu anugerah terindah. Bukan hanya materi yang memberi rasa kenyang sebagai manusia tapi juga mampu memberi jiwa anak-anaknya rasa tenang, aman, nyaman, dan merasa disayangi tulus dengan lembut.

Teruntuk jiwa di masa kecilku yang manis dan lugu, aku sangat menyayangimu dan bangga bahwa betapa kuatnya dirimu sampai detik ini. Kita memang tidak memiliki masa kanak-kanak yang indah penuh warna pelangi, rasa manis kasih sayang seperti gulali, kita memang tidak memiliki kenangan mendapat pelukan hangat, kecupan dan belaian lembut di kepala, serta hujan pujian manis dan kurangnya semangat positif dari orangtua kita.

Kita memang tidak bisa memilih siapa orangtua kita. Kita memang tidak bisa mengubah karakter orangtua kita. Namun aku yakin impian kita untuk memiliki kehidupan bahagia yang penuh kasih sayang akan menjadi kenyataan.

 

 

 

#ElevateWomen

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading