Sukses

Parenting

Mendidik Anak secara Dwibahasa, Orangtua Perlu Melakukan Ini

Fimela.com, Jakarta Kita dan pasangan punya bahasa ibu yang berbeda? Atau mungkin kita dan suami berasal dari negara berbeda? Bila hal ini terjadi, maka saat mempunyai anak kita akan menggunakan dua bahasa dalam keluarga. Mendidik dan membesarkan anak secara dwibahasa memang perlu memperhatikan sejumlah hal khusus.

Perlu diketahui bahwa balita mempunyai pikiran yang mudah menyerap. Mengutip buku The Montessori Toddler, dengan kemampuan balita yang mudah menyerap hal baru dan dalam periode sensitif untuk penguasaan bahasa, jadi ini merupakan waktu yang tepat untuk mengenalkan mereka pada lebih dari satu bahasa. Balita akan menyerap bahasa tambahannya tanpa bersusah payah meski tetap perlu usaha darai orang dewasa untuk menyediakan bahasa dengan cara yang konsisten.

Menggunakan Pendekatan OPOL

Apabila ada lebih dari satu bahasa yang digunakan di rumah, kita bisa menggunakan pendekatan One Person, One Language (OPOL), yaitu satu orang satu bahasa. Orangtua memilih bahasa ibu masing-masing ketika berbicara dengan anak, sementara keluarga menggunakan satu "bahasa keluarga" yang sudah disepakati bersama.

Sebagai contoh, dalam keluarga dengan orangtua yang berasal dari negara berbeda seperti dari Italia dan Jerman, maka satu orangtua berbahasa Italia dengan anaknya, orangtua yang satunya berbahasa Jerman dengan si anak, dan kedua orangtua berbicara bahasa Inggris satu sama lain. Dengan begini anak akan lebih mudah berkomunikasi dan menggunakan bahasa kepada orangtuanya.

Menggunakan Pendekatan Wilayah Penggunaan

Ada juga pendekatan yang disebut Domain of Use (wilayah penggunaan). Cara ini menuntut kita untuk membuat kesepakatan mengenai waktu dan tempat ketika kita menggunakan bahasa tertentu. Contohnya, saat akhir pekan keluarga memilih menggunakan bahasa Inggris. Lalu, saat di luar rumah menggunakan bahasa lokal dan saat berada di rumah menggunakan bahasa ibu dari orangtua.

Selain itu, perlu perhatikan juga tujuan literasi dari setiap bahasa anak. Jika tujuannya supaya anak bisa bersekolah dalam bahasa tersebut, maka mereka perlu menghabiskan sekitar 30% waktu dalam seminggu menggunakan bahasa tersebut. 

Tak perlu khawatir anak akan mengalami keterlambatan berbahasa jika mereka dibesarkan secara dwibahasa. Saat anak tumbuh di antar lebih dari satu bahasa, riset menunjukkan bahwa mereka seharusnya tidak mengalami keterlambatan pembelajaran sama sekali. Sebagai perbandingan, anak usia 1,5 tahun yang menguasai satu bahasa mungkin mempunyai sepuluh kosakata. Sementara anak dwibahasa mungkin mempunyai lima kosakata dalam satu bahasa dan lima kosakata dalam bahasa lainnya. 

Mendidik dan membesarkan anak secara dwibahasa mungkin awalnya akan terasa membingungkan dan sulit. Namun, dengan pendekatan yang tepat anak bisa tetap memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Bahkan saat dewasa nanti akan lebih mahir menguasai bahasa-bahasa baru.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
3 Alasan Korban Bullying Tidak Melaporkannya Kepada Orangtua
Artikel Selanjutnya
4 Rekomendasi Vila di Yogyakarta Cocok untuk Staycation Bersama Keluarga untuk Menghilangkan Penat