Henny, Menghadirkan Sajian Steak Di Jakarta Sejak Tahun 1993

Fimela diperbarui 17 Okt 2014, 12:30 WIB

Berawal dari hobi memasak dan ingin membuat sesuatu yang berbeda, maka keberanian Henny untuk menghadirkan steak ala Indonesia di Jakarta  pada tahun 1993 berhasil. Dengan mencoba menjual makanan khas Eropa pada waktu itu tidaklah mudah, karena belum banyak orang yang tertarik untuk mencicipi makanan western tersebut, apalagi harganya yang sangat mahal.

Berawal menjual beberapa potong daging saja, lalu satu per satu banyak pecinta steak yang mencobanya, akhirnya Henny mempunyai pelanggan tetap yang terus memesan steak buatannya. Dari kalangan tokoh, selebriti hingga atlet mencicipi steak ala Indonesia buatan Henny. Dan ia pun perlahan-lahan bertahan dengan membuka usaha steak-nya.

"Kalau steak luar kan mahal ya, di sini saya berpikir bagaimana membuat steak enak dan harganya terjangkau, makanya saya bikin steak ala Indonesia dengan bumbu-bumbu tradisional yang merupakan resep keluarga," tutur Henny kepada tim Vemale di Kemang Steak Pantai Indah Kapuk Jakarta Kamis 16 Oktober 2014 lalu.



Dengan menggunakan resep keluarga, memanggang daging agar lezat pun juga mempunyai teknik tersendiri dengan menggunakan areng batok kelapa yang membuat rasa dagingnya menjadi nikmat. Itulah awal mula Henny menciptakan steak buatannya yang berbeda dari yang lainnya.

"Kalau pakai areng batok kelapa beda rasanya dibanding memakai batu bara atau kompor gas, rasanya tidak alami," ucapnya.

Proses perjalanan usaha Henny untuk menjual steak murah dan lezat pun berhasil. Akan tetapi pada tahun 2009 ia memutuskan untuk tidak berjualan, alasannya adalah Henny ingin beristirahat sejenak untuk memikirkan konsep terbaru rumah makannya.



"Lima tahun vakum dan sekarang tahun 2014 kita mencoba membuka kembali dengan konsep yang berbeda, dulu sederhana saja seperti warung yang asap di mana-mana. Sekarang berbeda, dan di sini kedua putri saya, Asih dan Endah juga turun tangan dalam proses grill dan memasak salad atau sayurannya, tetapi saya hanya quality control saja," jelasnya.

Menginjak usia 57 tahun, ia juga ingin istirahat dan meneruskan usaha dengan campur tangan anaknya. Membuat usaha rumah makan ini terbantu, agar kelak bisa terus diturunkan dengan generasi penerus yang masih muda dan dengan inovasi yang baru. Maka dari itu, salah satu alasan Kemang Steak vakum adalah untuk mengajari kedua putrinya bagaimana membuat steak yang lezat dari resep miliknya.



"Kita harus ada keyakinan dan kita harus selalu sabar. Karena segala sesuatu kalau gak sabar, ya susah mendapatkan keberhasilan, contohnya seperti saya hanya dari sebuah warung sederhana sekarang bisa membuat sebuah restoran yang memiliki kapasitas 70 orang dengan dua lantai, semuanya terjadi melalui sebuah proses," tutup Henny bijak.

Itu dia Ladies, salah satu usaha rumah makan yang ingin terus bangkit dan tidak pantang menyerah. Bagaimana, tentu saja Anda jadi ingin mencoba usaha seperti ibu Henny di bidang kuliner ini, bukan?



(vem/yun/feb)
What's On Fimela