Diary Fimela: Manfaatkan Peluang di Tengah Pandemi, Merek Sepatu Olahraga Lokal Athletica Melejit dalam Waktu Singkat

Fimela Reporter diperbarui 12 Okt 2021, 18:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Di tengah pandemi, aspek ekonomi merupakan salah satu yang paling terdampak. Dalam hal ini, banyak sekali bisnis-bisnis yang akhirnya memilih untuk gulung tikar dikarenakan menurunnya angka penjualan yang mereka alami. 

Namun, berbeda halnya dengan merek sepatu olahraga lokal Athletica yang malah membangun bisnisnya ketika pandemi. Owner sekaligus Chief Marketing Officer Athletica Yusuf Ramdhani menjelaskan bahwa brand Athletica baru berdiri sekitar bulan April 2020 lalu. 

Tak bisa dipungkiri, saat ini khususnya selama pandemi, olahraga merupakan kegiatan yang semakin digemari masyarakat. Mulai dari bersepeda, joging, hingga olahraga di rumah sendiri menjadi pilihan yang paling memungkinkan, khususnya bagi mereka yang baru saja menjadi pemula dalam bidang olahraga. 

Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku usaha lokal dari bandung, yakni brand Geoff Max yang sejak 8 tahun yang lalu dan sudah berkecimpung dalam bidang fesyen, khususnya sepatu. 

Yusuf Ramdhani bersama partner-nya Fauzan Efwanda akhirnya berinisiatif untuk memanfaatkan kondisi ini  untuk membuat lini bisnis baru, yakni bisnis sepatu dan perlengkapan olahraga Athletica. 

Baru setahun berdiri, brand Athletica sudah menunjukkan kesuksesannya karena angka penjualan yang selalu meningkat. Yusuf Ramdhani menceritakan kisah suksesnya dalam webinar Seller Story Shopee 10.10 Brands Festival, Selasa (28/9). Bagaimana kisah selengkapnya? Simak ulasan selengkapnya.  

2 dari 5 halaman

Ide Bisnis Muncul dari Kebiasaan Orang Sekitar

Sepatu Olahraga Lokal Athletica (Foto: instagram.com/athletica.id)

Yusuf menceritakan, bahwa awal dari kisah berdirinya brand Athletica ini muncul karena orang-orang di sekitarnya mendadak jadi ‘atlet dadakan’ semenjak pandemi. 

“Waktu awal pandemi, mungkin orang-orang langsung jadi aware sama kesehatan kali, ya. Jadinya, orang-orang di sekitar saya, tuh, pada olahraga semua. Dari sinilah, akhirnya sama bersama dengan partner berdiskusi untuk memanfaatkan dari peluang yang ada.” ujar Yusur dalam webinar tersebut, Selasa (28/9). 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa bisnis ini berdiri ketika awal pandemi, tepatnya pada April 2020 lalu. Sebelumnya, Yusuf dan partner-nya mengalami dampak buruk dari pandemi, yakni penjualan di sepatu Geoff Max mengalami penurunan. Maka dari itu, mereka berdua akhirnya mencari peluang untuk menghadirkan produk yang relevan bagi konsumen, terutama di tengah situasi pandemi ini. 

“Karena kami istilahnya kayak mengakomodir para ‘atlet-atlet dadakan’ ini, ya kami putuskan namanya Athletica aja, lah,” tambah Yusuf ketika menjelaskan asal-usul bisnisnya.

3 dari 5 halaman

Optimalkan Pemasaran Secara Digital

Ilustrasi pemasaran secara digital yang dilakukan oleh brand sepatu olahraga lokal Athletica Credit: pexels.com/NegativeSpace

Bisnis yang baru dibangun ketika pandemi memang rentan untuk mengalami penurunan pembelian dan berpotensi mengalami persaingan ketat dengan produk-produk lainnya. Terutama, dalam hal ini produk olahraga mengalami persaingan secara sengit dengan produk olahraga global. 

Maka dari itu, Athletica akhirnya memanfaatkan pemasaran produknya secara digital dengan melihat karakteristik para konsumen di zaman sekarang yang memang selalu hidup dengan gadget dan internet setiap harinya. 

“Karena ini produk baru, yang memang rilis ketika pandemi, jadi kami optimalkan pemasarannya semua secara digital. Mulai dari media sosial, berkolaborasi dengan para public figure, melakukan endorsement, dan menjualnya melalui e-commerce,” ujarnya. 

Hal inilah yang membuat penjualan dari brand Athletica sendiri selalu mengalami kenaikan setiap bulannya dan hal inilah yang membuat angka produksinya juga semakin meningkat sejak pertama berdiri. 

4 dari 5 halaman

Mindset yang Tertanam Sejak Awal Bisnis Dibangun

Sepatu Olahraga Lokal Athletica (Foto: instagram.com/athletica.id)

Menurut Yusuf, sejak awal bisnis Athletica dibangun, ia bersama dengan timnya selalu mengedepankan pikiran yang positif dalam melakukan dan menghadapi semua hal. 

Ketika awal berdiri, Athletica sempat mengalami gagal rilis karena warehouse tempat penyimpanan sepatunya terendam banjir, dan banyak sepatu yang hanyut dan rusak. Hal itu tak mematahkan semangat bagi para tim di balik brand Athletica.

“Sedih, sih, pasti ada. Tapi, kalau kita sedih terus, ya nggak maju-maju. Kuncinya, kami semua tetap jaga semangat dan jaga mood agar bisnis bisa jalan terus,” kata pria pemilik brand Geoff Max tersebut. 

Ia menegaskan bahwa mindset ini perlu ditanamkan oleh para pengusaha, khususnya para pebisnis lokal yang baru memulai usahanya. Pikiran yang positif akan mendorong seseorang untuk bisa mengejar apa yang diinginkan, dan untuk mencapai target. 

“Kita tidak sendirian. Sekarang ada banyak sekali pihak yang bisa kita ajak kolaborasi. Jadi, jangan takut untuk memulai,” tambahnya.

5 dari 5 halaman

Tak Takut Bersaing, Justru Ajak Kolaborasi

Sepatu Olahraga Lokal Athletica bekerja sama dengan Ariel Noah (Foto: instagram.com/athletica.id)

Di tengah persaingan yang ketat, Yusuf mengungkapkan bahwa Athletica tidak pernah merasa takut akan persaingan yang terjadi antar-brand kompetitor. 

“Jujur, walaupun brand kami adalah brand baru, tapi kami tidak pernah merasa takut akan persaingan. Justru kami mengajak brand kompetitor untuk bisa bekerja sama dan berkolaborasi untuk menghadirkan produk baru,” pungkasnya. 

Meski tak takut bersaing, tetapi Athletica tetap memiliki tantangan yang masih dihadapi hingga saat ini, yakni segi produksi. Selaku brand lokal yang masih seumur jagung, terkadang mereka kesulitan untuk meyakinkan diri ke produsen-produsen untuk menjadi partner dalam segi produksi. 

“Kalau bisnis-bisnis besar, kontakan sama pihak produsen, kan, cuma secara transaksional saja, ya. Kalau Athletica, karena bisnis baru, kami harus mengomunikasikan terkait visi misi bisnis kami dulu,” jelasnya. 

Tantangan lainnya masih ada kaitannya dengan aspek produksi, yakni keterbatasan bahan baku. Yusuf menjelaskan bahwa saat ini suplai bahan baku masih kurang, sehingga terkadang mereka kesulitan untuk memenuhi jumlah permintaan yang kian lama meningkat. 

Penulis: Chrisstella Efivania

#ElevateWomen