Review Buku Novel As Long As the Lemon Trees Grow

Endah Wijayanti diperbarui 14 Apr 2024, 18:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Di usianya yang baru 18 tahun, Salama harus menerima kenyataan bahwa kematian adalah guru terbaik. Semestinya dia menjadi apoteker dan memulai kariernya yang bermasa depan cerah. Namun, kenyataan yang ada membuatnya harus bisa bertindak seperti dokter. Dia harus berpartisipasi dalam banyaknya pembedahan dan menutup mata banyak korban tewas akibat perang Suriah. Bukan hal mudah untuk dilakukan, tetapi dia tak bisa diam saja meskipun ayah ibunya ikut menjadi korban tewas, sedangkan kakaknya, Hamza menjadi tawanan yang tak diketahui nasibnya.

Dalam keseharian, Salama ditemani oleh Layla, sahabat sekaligus kakak iparnya. Salama telah berjanji pada Hamza untuk menjaga istrinya itu dengan baik. Apalagi Layla sedang mengandung, sehingga Salama berasa punya tanggung jawab besar untuk memastikan dia selalu dalam keadaan aman. Sampai suatu ketika, Salama dipertemukan dengan Kenan melalui cara yang tak pernah diduga.

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

As Long As the Lemon Trees Grow

Novel As Long As the Lemon Trees Grow./doc. Endah

Judul: As Long As the Lemon Trees Grow

Penulis: Zoulfa Katouh

Penerjemah: Berliana Mantili Nugrahani & Esti Ayu Budihabsari

Penyunting: Putri Dinny Decca P.S.

Proofreader: Yunni Y.M. & Dewi Indah Lestari

Ilustrasi Sampul: Nadya Zahwa Noor

Desainer dan setting isi: Krisna Bayu S.A.

Cetakan V, Januari 2024

Penerbit Mizan

Akibat perang Suriah, Salama kehilangan orangtua, dan Hamza, kakaknya ditawan, entah masih hidup atau sudah mati. Kini, Salama harus menjaga Layla, kakak iparnya yang sedang hamil. Hamza berpesan agar Salama menjaga Layla dan calon bayinya. Satu-satunya cara menjaga Layla dari perang adalah mengungsi ke Eropa, tapi setiap kali melihat para korban perang, rasa bersalah menikam Salama. Haruskah dia pergi dari Suriah, ketika bangsanya bergelimpangan akibat perang?

Keputusasaan dan ketakutan bercampur hingga mewujud dalam sosok pria bermata dingin, Khaft, yang mendorong Salama untuk pergi. Namun, Salama bertemu Kenan, pemuda bermata hijau dengan semangat membara membela negara. Kini, Salama harus memilih antara tetap tinggal untuk negaranya, ataukah pergi demi memenuhi janjinya kepada Hamza.

***

"Jangan hanya berfokus pada kegelapan dan kesedihan," kata Layla, dan aku menatapnya. Dia tersenyum hangat. "Kalau kau melakukan itu, kau tidak akan bisa melihat cahaya, bahkan yang menyoroti wajahmu." (hlm. 58)

Ketika dicampur, kekecewaan dan ketakutan membentuk ramuan pahit yang efeknya bertahan lama. (hlm. 134)

"Kau berhak bahagia. Kau berhak bahagia di sini. Karena kalau kau tidak mengusahakannya di Suriah, kau juga tiadak akan mengusahakannya di Jerman. Pindah ke Eropa tidak akan menyelesaikan masalahmu." (hlm. 174)

Takdir memang memiliki sulur-sulur benangnya, tetapi kitalah yang merajutnya dengan tindakan dan pilihan kita. Keimananku pada takdir tidak membuatku pasif. Tidak. Aku justru berjuang, berjuang, dan berjuang demi hidupku. Seperti Layla berjuang untuk hidupnya. Begitu juga Kenan. (hlm. 369)

"Karena kau manusia. Karena apa pun itu, kau memiliki hati yang lembut yang mudah sekali terluka. Karena kau merasa." (hlm. 434)

Siapa sangka ternyata Kenan dan Salama punya masa lalu yang beririsan. Bahkan pertemuannya kali itu sebenarnya bukan pertemuan pertama mereka. Sempat ada harapan dari kedua orangtua mereka yang begitu indah tentang masa depan yang lebih baik. Hingga akhirnya perang membuat harapan itu jadi pupus.

Sementara Salama sibuk bekerja di rumah sakit membantu mengobati dan berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin korban akibat ledakan bom, Kenan punya misi tersendiri. Kenan membuat saluran YouTube dan mengunggah video-video tentang kondisi perang yang ada. Melalui video-videonya tersebut, ia ingin agar dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi di Suriah. Salama pun membantu Kenan untuk bisa merekam hal-hal yang terjadi di rumah sakit, harapannya akan makin banyak orang yang mengetahui betapa mengerikannya dampak perang yang ada.

Salama memang selamat dalam ledakan yang menewaskan orangtuanya. Namun, sejak peristiwa itu ia sering diikuti oleh sosok pria bernama Khawf. Khawf sering muncul dalam penglihatan dan benak Salama. Saat Salama sedang kalut atau mengalami tekanan dan hal-hal yang membuatnya sulit berpikir jernih, Khawf bisa lebih sering muncul dengan cara dramatisnya sendiri.

Salama sudah berniat untuk meninggalkan Suriah. Dia ingin membawa Layla mengungsi ke Eropa demi masa depan yang lebih baik. Demi mewujudkan hal tersebut, Salama sampai melakukan suatu hal yang sangat ia sesali.

Bersama Kenan, Salama menemukan kenyamanan. Ada banyak hal yang membuatnya ingin bisa merangkai masa depan bersama dengannya. Hanya saja mengajak Kenan untuk ikut pergi meninggalkan Suriah ternyata tidaklah mudah, terlebih Kenan juga punya dua adik yang harus ia jaga dan lindungi.

Ada romansa dalam novel ini. Serta, ada perjuangan serta harapan yang ingin terus dinyalakan. Di tengah kondisi perang yang menghadirkan banyak kesedihan dan kekalutan, Salama berusaha untuk bisa merangkai kembali kehidupan yang ia dambakan. Bersama Layla, juga bersama Kenan dan kedua adiknya. Namun, semua itu tidaklah mudah. Begitu banyak gejolak rasa yang hadir di benaknya. Apalagi ketika dia mendapati suatu kenyataan tentang Layla yang baru ia sadari lima bulan kemudian, dunianya seakan makin sulit untuk dipahami.

Meninggalkan tanah air bukanlah hal mudah. Hanya saja jika yang tersisa hanya duka dan nestapa, maka pergi bisa menjadi hal yang dipilih. Tidaklah mudah melakukan itu, dan Salama merasakan betul hal tersebut. Di tengah situasi perang, perkara hidup dan mati menjadi pertaruhan yang harus dihadapi setiap hari. Kalau tidak melakukan apa-apa, dia bisa kehilangan harapan hidupnya sendiri.

Di dalam novel ini, diceritakan bahwa Kenan selalu beraroma lemon. Ketika Salama menanyakan hal ini kepada Kenan, jawabannya menghadirkan duka sekaligus harapan yang masih dijaga.

Buah lemon pun menjadi simbol perjuangan yang teguh. Sebuah puisi yang pernah dilihat Salama dalam salah satu demonstrasi peringatan revolusi menjadi penyemangat tersendiri untuk meyakini bahwa perjuangan untuk kedamaian dan kehidupan yang lebih baik akan terus berjalan.

As Long As the Lemon Trees Grow memberi gambaran tentang betapa mengerikannya dampak perang. Sejumlah adegan mengerikan dan kekerasan terkait situasi perang juga disematkan di dalam novel ini. Meskipun begitu, harapan dan cinta kasih menjadi lentera yang membuat kisah di dalam novel ini terasa lebih indah. Kisah Salama dan Kenan menjadi salah satu lentera yang menyala merefleksikan harapan yang masih ada untuk masa depan yang lebih baik di tengah kondisi perang.