Tips Workout Efektif Sesuai Siklus Hormon Wanita

Alyaa Hasna HunafaDiterbitkan 21 April 2026, 20:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, pernah nggak merasa tubuh super lemas menjelang haid, tapi tiba-tiba punya energi berlebih di pertengahan bulan? Itu bukan kebetulan. Siklus menstruasi membawa perubahan hormon yang memengaruhi mood, stamina, hingga performa olahraga. Karena itu, banyak wanita mulai mencoba metode cycle syncing, yaitu menyesuaikan pola aktivitas, termasuk olahraga, dengan fase-fase siklus haid. Dengan cara ini, tubuh bisa lebih seimbang dan hasil latihan jadi lebih maksimal.

Melansir laman health.clevelandclinic.org cycle syncing adalah metode menyesuaikan rutinitas harian, termasuk pola makan dan olahraga, berdasarkan fase menstruasi. Konsep ini dipopulerkan oleh Alisa Vitti lewat bukunya WomanCode dan kini banyak dibicarakan di media sosial. Meski belum banyak diteliti secara klinis, berbagai riset menunjukkan bahwa perubahan hormon memang berpengaruh pada energi dan suasana hati. Intinya, ini cara untuk lebih “mendengarkan” tubuh dan bergerak sesuai kebutuhan alaminya.

Dengan memahami ritme tubuh sendiri, wanita bisa mengurangi gejala PMS, menurunkan stres, bahkan memperbaiki suasana hati. Beberapa juga merasakan siklus yang lebih teratur dan gejala haid yang tidak terlalu berat. Selain itu, cara ini bisa membantu yang sedang merencanakan kehamilan karena lebih peka terhadap tanda-tanda ovulasi. Jadi, manfaatnya bukan hanya soal olahraga, tapi juga kesehatan secara menyeluruh.

2 dari 3 halaman

Kenali fase siklus haid dan sesuaikan dengan pilihan latihannya

Ketahui siklus haid dan sesuaikan dengan workout yang bisa dijalankan. (foto: user18526052/freepik)

Siklus haid rata-rata berlangsung 28 hari dan terbagi menjadi empat fase. Pertama, fase menstruasi (hari 1–7) ketika energi cenderung rendah. Kedua, fase folikular (hari 8–13) saat estrogen naik dan tubuh mulai lebih bertenaga. Ketiga, fase ovulasi (sekitar hari 14–15) di mana energi mencapai puncak. Terakhir, fase luteal (hari 16–28) ketika progesteron dominan dan gejala PMS bisa muncul. Dengan memahami pola ini, kamu bisa menyusun rencana olahraga yang lebih realistis.

Ketika haid, energi biasanya menurun. Tubuh memberi sinyal untuk istirahat lebih banyak, jadi jangan sampai memaksakan diri. Pilih aktivitas ringan seperti jalan santai, yoga ringan, atau stretching. Jika terasa lelah berlebihan, tidak masalah untuk mengambil jeda total. Ingat, olahraga seharusnya mendukung kesehatan, bukan membuatmu makin terbebani.

Setelah haid selesai, energi mulai naik. Ini saat yang pas untuk mencoba latihan kardio ringan hingga sedang, seperti bersepeda, berenang, atau ikut kelas zumba. Karena mood juga cenderung lebih positif, fase ini cocok untuk memulai rutinitas baru atau meningkatkan intensitas latihan secara bertahap.

3 dari 3 halaman

Menyesuaikan intensitas workout dengan fase siklus hormon wanita

Manfaatkan waktu untuk melakukan aktivitas olahraga ringan yang disesuaikan dengan kemampuan diri. (foto: benzoix/freepik)

Inilah momen emas yang harus dimanfaatkan karena energi sedang di puncak. Hormon estrogen dan testosteron mencapai level tertinggi sehingga tubuh lebih siap menerima latihan intens. Manfaatkan waktu ini untuk melakukan workout berat seperti HIIT, lari cepat, atau latihan kekuatan. Fase ini juga bagus untuk mengejar target performa diri, misalnya menambah beban angkat atau mencoba olahraga baru yang lebih menantang.

Menjelang akhir siklus, tubuh mulai bersiap untuk menstruasi lagi. Kamu mungkin merasa lebih cepat lelah atau mudah emosi. Di fase ini, pilih latihan intensitas sedang, seperti jogging ringan, pilates, atau latihan kekuatan dengan beban ringan. Saat gejala PMS datang, fokuslah pada gerakan yang membantu mengurangi stres dan meningkatkan kenyamanan tubuh.

Tidak ada aturan pasti dalam cycle syncing. Setiap tubuh punya ritme berbeda, jadi kuncinya adalah peka terhadap sinyal tubuh. Dengan menyesuaikan latihan berdasarkan siklus hormon, kamu bukan hanya menjaga konsistensi olahraga, tapi juga lebih ramah pada dirimu sendiri. Alih-alih memaksa berlatih saat energi melemah, kamu bisa memilih waktu yang tepat untuk memberi dorongan ekstra. Hasilnya, workout jadi lebih efektif dan terasa nyaman ketika dijalankan.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa