Nyeri Haid Tak Wajar? Mungkin Itu Tanda Endometriosis yang Perlu Kamu Ketahui

Alyaa Hasna HunafaDiterbitkan 02 Januari 2026, 14:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Bagi banyak perempuan, nyeri haid dianggap hal biasa. Beberapa bahkan sudah terbiasa menahan rasa sakit setiap bulan sambil tetap beraktivitas seperti biasa. Namun, ada kalanya nyeri itu terasa sangat kuat hingga membuat sulit berdiri, mual, bahkan pingsan. Sayangnya, kondisi seperti ini sering diabaikan dan dianggap “wajar.” Padahal, bisa jadi itu tanda dari penyakit yang disebut endometriosis yaitu gangguan kesehatan yang diam-diam dialami banyak perempuan tanpa disadari.

Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim. Jaringan ini bereaksi terhadap siklus hormon bulanan, sehingga menimbulkan nyeri hebat, peradangan, dan terkadang kemandulan. Berbeda dengan nyeri haid biasa yang masih bisa ditoleransi tanpa obat, nyeri akibat endometriosis biasanya sangat mengganggu aktivitas dan membuat penderita membutuhkan obat pereda nyeri setiap kali menstruasi datang.

Yang membuat endometriosis berbahaya adalah sifatnya yang kronis dan berulang. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tapi dapat dikontrol dengan gaya hidup sehat dan pengobatan yang tepat. Karena berlangsung sepanjang masa reproduksi, penting bagi perempuan untuk rutin memeriksakan kesehatan reproduksinya, terutama jika nyeri haid sudah terasa tidak wajar.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Endometriosis dan dampaknya terhadap kesuburan wanita

Peluncuran buku endometriosis dan talkshow interaktif bersama komunitas endometriosis

Masih banyak masyarakat yang menganggap tabu membawa anak perempuan ke dokter kandungan. Padahal, pemeriksaan sejak dini justru bisa membantu mencegah komplikasi jangka panjang. Mengajak remaja perempuan memahami tubuhnya bukanlah hal memalukan, melainkan langkah bijak untuk melindungi masa depan kesehatannya.

Menurut dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG., Subsp.FER selain nyeri endometriosis juga berhubungan dengan gangguan kesuburan. Sekitar 30% kasus infertilitas tanpa sebab jelas (unexplained infertility) ternyata terkait dengan kondisi ini. Karena penyebab endometriosis bersifat multifaktor dan belum sepenuhnya diketahui, satu-satunya cara untuk menguranginya adalah dengan pola hidup sehat, deteksi dini, serta pemeriksaan rutin minimal setahun sekali.

Dalam hal pengobatan, penanganan endometriosis harus disesuaikan dengan usia dan tingkat keparahan gejala. Ada dua pendekatan utama, yakni terapi obat dan terapi operasi. Terapi obat biasanya diberikan sementara untuk meredakan gejala, terutama bagi pasien yang belum siap menjalani operasi. Namun, jika nyeri terus berlanjut atau tidak ada respon terhadap obat, maka tindakan operasi mungkin diperlukan untuk mengangkat jaringan endometriosis yang tumbuh di luar rahim.

3 dari 3 halaman

Endometriosis bukan akhir tetapi awal untuk lebih peduli pada diri sendiri

Lakukan pola hidup dehat dan deteksi dini untuk membantu mengontrol perkembangan endometriosis

Endometriosis memang sering kali tidak terlihat, tapi dampaknya nyata baik secara fisik maupun emosional. Rasa nyeri yang terus-menerus bisa mengganggu produktivitas, hubungan sosial, bahkan kepercayaan diri perempuan. Karena itu, penting untuk mulai mengubah cara pandang bahwa nyeri haid yang mengganggu bukan hal wajar. Tubuh sedang memberi sinyal bahwa ada yang perlu diperiksa.

Pada akhirnya, mengenal endometriosis berarti belajar lebih peka terhadap tubuh sendiri. Jangan menunggu sampai rasa sakit menjadi tak tertahankan baru mencari bantuan. Dengan pengetahuan, kesadaran, dan dukungan lingkungan sekitar, perempuan bisa lebih berdaya menjaga kesehatannya. Karena setiap rasa sakit memiliki makna dan memahami makna itu bisa menjadi langkah awal menuju penyembuhan yang sesungguhnya.

Walaupun tidak dapat sembuh total, pasien endometriosis tetap bisa menjalani kehidupan normal. Kuncinya ada pada pemantauan rutin seperti pemeriksaan pap smear dan USG kandungan serta menjaga pola hidup sehat, termasuk olahraga teratur, konsumsi makanan bergizi, dan manajemen stres. Langkah-langkah kecil ini dapat membantu mengontrol gejala dan memperlambat perkembangan penyakit.

 

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa