Cara Menghadapi Anak yang FOMO, Panduan Orang Tua agar Si Kecil Lebih Tenang dan Percaya Diri

Siti Nur ArishaDiterbitkan 17 Februari 2026, 22:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, pernahkah kamu melihat anak tampak gelisah saat tahu teman-temannya pergi bermain tanpa dirinya, atau merasa sedih ketika tidak diajak dalam sebuah acara? Bisa jadi, anak sedang mengalami FOMO atau fear of missing out. Fenomena ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tapi juga semakin sering muncul pada anak-anak, terutama di era digital saat ini.

FOMO pada anak biasanya muncul ketika mereka merasa tertinggal dari teman sebaya,  entah karena tidak ikut kegiatan tertentu, tidak memiliki barang yang sama, atau melihat unggahan teman di media sosial yang tampak lebih seru. Perasaan ini bisa memicu kecemasan, rasa tidak percaya diri, hingga stres emosional yang memengaruhi keseharian mereka.

Dilansir dari parents.com, FOMO membuat anak merasa seolah orang lain selalu memiliki pengalaman yang lebih berharga dari dirinya. Bagi anak-anak, hal ini bisa menjadi tekanan besar karena mereka belum sepenuhnya mampu memahami bahwa apa yang dilihat, terutama di media sosial—sering kali hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Itulah mengapa penting bagi orang tua untuk membantu anak mengenali, memahami, dan mengelola rasa FOMO dengan cara yang sehat. Yuk, simak penjelasannya!

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tanda-Tanda Anak Mengalami FOMO

Setiap anak bisa menunjukkan tanda FOMO dengan cara berbeda. Namun, ada beberapa ciri umum yang bisa kamu perhatikan. Menurut ahli parenting Irin Rubin, anak yang mengalami FOMO cenderung merasa tertekan atau cemas terhadap apa yang dilakukan teman-temannya. (foto/dok: freepik)

Setiap anak bisa menunjukkan tanda FOMO dengan cara berbeda. Namun, ada beberapa ciri umum yang bisa kamu perhatikan. Menurut ahli parenting Irin Rubin, anak yang mengalami FOMO cenderung merasa tertekan atau cemas terhadap apa yang dilakukan teman-temannya. Mereka bisa menunjukkan rasa kecewa berlebihan ketika tidak dilibatkan, atau terus membandingkan diri dengan orang lain.

Sementara itu, psikolog klinis Kanchi Wijesekera, PhD, menyebutkan bahwa FOMO tidak selalu muncul secara jelas. Kadang anak tidak mengatakannya secara langsung, tapi menunjukkan tanda-tanda seperti:

  • Sering mengecek aktivitas teman di media sosial.
  • Terlihat murung atau gelisah setelah bermain gadget.
  • Sulit menikmati momen yang sedang dijalani.
  • Terobsesi dengan popularitas atau ajakan bermain.
  • Sulit tidur karena terus memikirkan apa yang mereka lewatkan.

Cara Membantu Anak Menghadapi FOMO

Menghadapi anak yang sering merasa FOMO memang membutuhkan kesabaran, tapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar mereka lebih tenang dan percaya diri.

1. Ajak Anak Bicara dengan Terbuka

Hal pertama yang bisa dilakukan adalah menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita. Biarkan mereka mengekspresikan rasa sedih atau kecewa tanpa dihakimi. Menurut Dr. Wijesekera, orang tua bisa membantu anak menamai perasaannya. Misalnya, “Kamu merasa sedih karena tidak ikut, ya?”—agar mereka lebih mudah memahami emosinya sendiri.

2. Ajarkan Literasi Media

Jika FOMO muncul karena media sosial, bantu anak memahami bahwa apa yang mereka lihat di dunia maya sering kali bukan gambaran utuh. Jelaskan bahwa foto-foto yang tampak sempurna hanyalah hasil kurasi dan bukan kehidupan nyata sepenuhnya. Ajari anak berpikir kritis saat melihat konten online dan membedakan antara tampilan dan kenyataan.

3 dari 3 halaman

3. Dorong Anak Menemukan Kesenangan di Dunia Nyata

FOMO sering kali muncul karena anak terlalu fokus pada dunia luar. Ajak mereka terlibat dalam kegiatan nyata yang menyenangkan seperti menggambar, bermain musik, atau olahraga. (foto/dok: freepik)

FOMO sering kali muncul karena anak terlalu fokus pada dunia luar. Ajak mereka terlibat dalam kegiatan nyata yang menyenangkan seperti menggambar, bermain musik, atau olahraga. Dengan begitu, anak bisa menemukan kebahagiaan dari aktivitas yang mereka pilih sendiri, bukan karena ikut-ikutan.

4. Batasi Waktu Layar dengan Bijak

Diskusikan bersama anak tentang pentingnya batasan waktu menggunakan gadget. Misalnya, tidak membawa ponsel ke kamar tidur atau menentukan waktu khusus untuk bebas layar di akhir pekan. Melibatkan anak dalam membuat aturan akan membantu mereka lebih menghargai batasan tersebut.

5. Kenalkan Konsep JOMO (Joy of Missing Out)

Daripada terus merasa takut ketinggalan, ajarkan anak untuk menemukan joy of missing out—yaitu rasa tenang dan bahagia saat memilih untuk tidak ikut serta. Jelaskan bahwa tidak harus selalu hadir di semua momen agar bisa merasa berharga. Justru, waktu sendiri bisa menjadi kesempatan untuk beristirahat dan mengenal diri lebih dalam.

Kapan FOMO Perlu Diwaspadai?

Rasa FOMO sesekali adalah hal yang wajar. Namun, jika anak terus-menerus merasa cemas, sedih, atau kehilangan kepercayaan diri karena takut tertinggal, mungkin ada hal yang lebih dalam. Jika perubahan suasana hati, pola tidur, atau prestasi sekolah mulai terganggu, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog anak untuk mendapatkan bantuan profesional.

Penulis: Siti Nur Arisha