Penyebab Sakit Gigi pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Anisya FandiniDiterbitkan 01 Januari 2026, 18:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sakit gigi pada anak sering kali dianggap sebagai keluhan ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal, rasa nyeri pada gigi dapat membuat anak rewel, sulit makan, sulit tidur, bahkan menurunkan konsentrasi saat belajar. Jika dibiarkan, sakit gigi juga berisiko memicu infeksi yang lebih serius dan memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa sakit gigi pada anak bukan sekadar masalah sepele.

Banyak orang tua baru menyadari pentingnya kesehatan gigi anak ketika si kecil sudah mengeluh kesakitan. Padahal, sebagian besar penyebab sakit gigi sebenarnya bisa dicegah sejak dini melalui kebiasaan hidup bersih dan pola makan yang tepat. Anak yang sering mengonsumsi makanan manis tanpa dibarengi kebiasaan menyikat gigi dengan benar akan lebih rentan mengalami masalah gigi dan mulut.

Sakit gigi pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kebersihan gigi yang kurang terjaga hingga kondisi tertentu di dalam rongga mulut. Mengetahui penyebabnya sangat penting agar orang tua bisa mengambil langkah yang tepat untuk mencegah sekaligus mengatasinya. Berikut beberapa penyebab sakit gigi pada anak yang perlu diwaspadai.

 

2 dari 6 halaman

Gigi Berlubang akibat Kebiasaan Makan Manis

anak makan coklat yang menyebabkan gigi rusak. sumber foto: pexels.com/karola

Gigi berlubang merupakan penyebab sakit gigi yang paling sering terjadi pada anak. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis seperti permen, cokelat, biskuit, dan minuman kemasan dapat meningkatkan risiko terbentuknya lubang pada gigi. Sisa gula yang menempel di permukaan gigi akan diolah oleh bakteri menjadi asam yang dapat merusak lapisan enamel gigi. Jika proses ini berlangsung terus-menerus, lubang pada gigi pun terbentuk dan menimbulkan rasa nyeri.

Selain itu, kebiasaan anak tidur tanpa menyikat gigi setelah makan juga mempercepat kerusakan gigi. Saat tidur, produksi air liur menurun sehingga kemampuan alami mulut untuk membersihkan sisa makanan menjadi berkurang. Akibatnya, bakteri berkembang lebih cepat dan memperparah kerusakan gigi. Inilah sebabnya gigi berlubang sering kali menimbulkan sakit yang datang tiba-tiba, terutama saat anak mengonsumsi makanan panas, dingin, atau manis.

3 dari 6 halaman

Jarang Menyikat Gigi dan Cara Menyikat yang Salah

Rekomendasi pilihan sikat gigi./copyright depositphotos/odua

Sakit gigi pada anak juga dapat disebabkan oleh kebiasaan menyikat gigi yang tidak teratur atau cara menyikat yang kurang tepat. Banyak anak yang belum mampu menyikat gigi secara menyeluruh, sehingga masih banyak sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi. Penumpukan sisa makanan ini dapat membentuk plak, tempat bakteri berkembang biak dan merusak jaringan gigi serta gusi.

Selain jarang menyikat gigi, penggunaan sikat gigi yang sudah rusak atau tidak sesuai ukuran juga dapat mengurangi efektivitas pembersihan. Anak yang terbiasa menyikat gigi terlalu keras pun berisiko mengalami iritasi pada gusi, yang akhirnya bisa memicu rasa nyeri di sekitar gigi. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak saat menyikat gigi hingga anak benar-benar mampu melakukannya dengan baik dan benar.

4 dari 6 halaman

Tumbuh Gigi dan Perubahan pada Rongga Mulut

Pada usia tertentu, anak akan mengalami masa tumbuh gigi, baik gigi susu maupun gigi permanen. Proses ini sering menimbulkan rasa tidak nyaman, nyeri, bahkan bengkak pada gusi. Rasa nyeri akibat tumbuh gigi biasanya membuat anak lebih sensitif, mudah rewel, dan enggan makan. Kondisi ini sebenarnya tergolong normal, tetapi tetap perlu diperhatikan agar tidak disertai infeksi.

Selain tumbuh gigi, perubahan lain di dalam rongga mulut seperti sariawan yang mengenai area gusi juga bisa menimbulkan rasa sakit yang terasa seperti sakit gigi. Jika anak mengeluh nyeri saat mengunyah atau menyikat gigi, orang tua perlu memeriksa kondisi gusi dan gigi secara menyeluruh untuk memastikan penyebab pastinya.

5 dari 6 halaman

Kebiasaan Menggertakkan Gigi dan Cedera

tumbuh gigi sebagai salah satu penyebab GTM anak/copyright freepik.com/freepik

Sebagian anak memiliki kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur atau ketika sedang cemas. Kebiasaan ini dapat menyebabkan tekanan berlebih pada gigi dan rahang, sehingga memicu rasa nyeri di area gigi dan sekitarnya. Jika berlangsung terus-menerus, permukaan gigi bisa terkikis dan menjadi lebih sensitif.

Selain itu, cedera akibat terjatuh atau terbentur juga bisa menjadi penyebab sakit gigi pada anak. Gigi yang retak, goyang, atau bahkan patah akibat benturan dapat menimbulkan nyeri hebat dan memerlukan perawatan medis segera. Orang tua perlu lebih waspada jika anak mengeluh sakit gigi setelah mengalami kecelakaan kecil saat bermain.

6 dari 6 halaman

Cara Mencegah Sakit Gigi pada Anak

Untuk mencegah sakit gigi, orang tua perlu membiasakan anak menjaga kebersihan gigi sejak dini. Ajarkan anak untuk menyikat gigi minimal dua kali sehari, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Gunakan pasta gigi khusus anak yang mengandung fluoride sesuai usia dan dampingi anak saat menyikat gigi hingga kebiasaan tersebut benar-benar melekat.

Selain itu, batasi konsumsi makanan dan minuman manis, serta biasakan anak untuk minum air putih setelah makan. Rutin memeriksakan gigi anak ke dokter gigi setiap enam bulan sekali juga sangat penting, meski anak tidak mengeluh sakit. Dengan pencegahan yang tepat, risiko sakit gigi pada anak dapat diminimalkan sehingga tumbuh kembangnya pun tidak terganggu.

Sakit gigi pada anak bukan hanya soal rasa nyeri, tetapi juga bisa berdampak pada tumbuh kembang dan kenyamanan aktivitas sehari-harinya. Dengan mengenali penyebab sejak dini, orang tua dapat melakukan langkah pencegahan yang tepat sebelum kondisi semakin parah. Perawatan gigi yang rutin, pola makan sehat, serta pemeriksaan berkala ke dokter gigi menjadi kunci penting agar kesehatan gigi anak tetap terjaga.