Fakta Mengejutkan: Ini Alasan Mengapa Anak Jadi Merasa Terasing dari Orangtua

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 12 Januari 2026, 14:52 WIB

ringkasan

  • Keterasingan antara anak dan orang tua adalah fenomena kompleks yang memengaruhi jutaan orang, dengan perbedaan signifikan dalam prevalensi antara ayah dan ibu.
  • Pelecehan, trauma masa kecil yang tidak tersembuhkan, masalah kesehatan mental orang tua, dan perbedaan nilai adalah pemicu utama mengapa anak terasing dari orang tua.
  • Meskipun seringkali menyakitkan, rekonsiliasi dimungkinkan bagi sebagian besar anak dewasa yang terasing, terutama jika orang tua bersedia mengakui kesalahan dan memahami perspektif anak.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, hubungan antara anak dan orangtua seharusnya menjadi fondasi yang penuh kasih sayang dan rasa aman. Namun, kenyataannya, fenomena keterasingan atau putusnya hubungan antara anak dan orang tua semakin sering terjadi di masyarakat modern. Ini bukan hanya sekadar konflik kecil, melainkan sebuah keretakan mendalam yang memengaruhi jutaan keluarga di seluruh dunia.

Keterasingan ini adalah penghentian atau pengurangan hubungan yang sebelumnya ada antara anggota keluarga, seringkali hingga pada tingkat komunikasi yang sangat minim atau tidak ada sama sekali dalam jangka waktu yang lama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat keterasingan ini bervariasi, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti demografi, pengalaman masa lalu, dan dinamika keluarga yang kompleks.

Memahami mengapa anak terasing dari orangtua adalah langkah penting untuk dapat mengatasi masalah ini dan mencari jalan menuju rekonsiliasi. Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai alasan di balik fenomena ini, dari pelecehan emosional hingga perbedaan nilai yang mendalam, serta bagaimana kita dapat menyikapinya dengan bijak.

2 dari 4 halaman

Prevalensi dan Demografi Keterasingan Hubungan Anak dan Orangtua

Dalam sebuah studi, orangtua paling sering mengaitkan keterasingan dengan perilaku, masalah, atau sifat anak (79%), masalah seputar menantu/pasangan yang sulit (72%), atau ketidaksepakatan tentang keyakinan dan nilai (67%). Perbedaan persepsi ini menjadi penghalang utama dalam proses rekonsiliasi. (Foto: Freepik).

Fenomena keterasingan antara anak dan orang tua bukanlah hal yang langka. Lebih dari seperempat orang Amerika, atau sekitar 67 juta orang, melaporkan terasing dari anggota keluarga mereka. Angka ini mencakup sekitar 10% yang terasing dari orang tua atau anak, setara dengan 25 juta individu. Sebuah studi pada tahun 2023 menemukan bahwa 6% responden melaporkan keterasingan dari ibu mereka, sementara 26% terasing dari ayah mereka.

Data menunjukkan adanya perbedaan signifikan berdasarkan gender. Anak dewasa empat kali lebih mungkin terasing dari ayah mereka dibandingkan ibu mereka. Secara spesifik, 6% anak dewasa melaporkan periode keterasingan dari ibu, sementara 26% terasing dari ayah. Wanita juga lebih sering terasing dari ayah mereka dibandingkan pria, meskipun tidak ada perbedaan signifikan dalam keterasingan dari ibu berdasarkan gender anak.

Menariknya, penelitian menemukan sedikit perbedaan dalam tingkat keterasingan berdasarkan ras, tingkat pendidikan, dan gender, kecuali pada usia paruh baya yang menunjukkan tingkat keterasingan lebih tinggi. Anak dewasa kulit hitam cenderung kurang terasing dari ibu tetapi lebih mungkin terasing dari ayah mereka, sementara anak dewasa gay, lesbian, dan biseksual lebih mungkin terasing dari ayah mereka dibandingkan heteroseksual.

3 dari 4 halaman

Alasan Utama Mengapa Anak Terasing dari Orangtua

Ada banyak faktor kompleks yang menjadi penyebab mengapa anak terasing dari orang ua, mulai dari trauma masa lalu hingga perbedaan nilai yang mendalam. Alasan-alasan ini seringkali melibatkan dinamika keluarga yang rumit dan pelanggaran batasan.

  • Pelecehan dan Penelantaran: Ini adalah salah satu alasan paling umum, meliputi pelecehan emosional, fisik, seksual, atau finansial. Banyak anak mengalami bertahun-tahun diremehkan, dimanipulasi, atau dikritik terus-menerus, yang membuat mereka menjauh demi kesehatan mental. Sebuah studi tahun 2015 menunjukkan bahwa 77% dari mereka yang disurvei menyebut pelecehan emosional sebagai alasan terasing dari ibu, dan 59% untuk ayah.
  • Trauma Masa Kecil yang Tidak Tersembuhkan: Luka masa kecil yang tidak terselesaikan, seperti penelantaran atau pengabaian, dapat menyulitkan untuk mempertahankan hubungan. Jika orang tua menolak mengakui kesalahan atau gagal meminta maaf, anak dewasa mungkin memutuskan hubungan.
  • Masalah Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Zat: Masalah kesehatan mental atau penyalahgunaan zat pada orang tua dapat menciptakan lingkungan yang kacau dan tidak aman, merusak hubungan. Hampir dua pertiga ibu (62,4%) dalam sebuah studi mengatakan kesehatan mental anak-anak mereka berperan dalam keterasingan.
  • Perbedaan Nilai, Keyakinan, dan Gaya Hidup: Perbedaan ideologis yang besar, seperti anak LGBTQ+ dengan orang tua yang sangat religius, atau perbedaan politik yang mendalam, dapat memicu keterasingan.
  • Dinamika Keluarga yang Beracun: Sistem keluarga disfungsional, termasuk favoritisme atau pengkambinghitaman, dapat mendorong anak menjauh dari lingkungan yang tidak sehat.
  • Kurangnya Dukungan Emosional: Ketika orang tua gagal memberikan validasi emosional atau mengabaikan perasaan anak, kebencian dapat menumpuk, membuat anak dewasa merasa kebutuhan emosional mereka tidak pernah terpenuhi.
  • Narsisme Orangtua: Orang tua narsistik sering memprioritaskan kebutuhan mereka sendiri di atas kebutuhan anak, membuat hubungan yang sehat sulit terjalin.
  • Perceraian Orangtua: Konflik perkawinan dan perceraian sering mengganggu hubungan orang tua-anak. Survei menunjukkan bahwa perceraian orang tua merupakan faktor risiko utama keterasingan.
  • Pengaruh Pihak Ketiga: Terkadang, pasangan atau bahkan terapis dapat mendorong keputusan untuk memutuskan hubungan. Masalah seputar menantu/pasangan yang sulit juga menjadi penyebab umum.
  • Pergeseran Prioritas Kesehatan Mental: Anak dewasa kini lebih memprioritaskan kesehatan mental dan batasan pribadi mereka, seringkali mengurangi kontak dengan anggota keluarga yang lebih tua yang dianggap toksik.
  • Kurangnya Kewajiban Keluarga: Masyarakat yang lebih berpusat pada individu saat ini menormalisasi orang-orang yang menjauh dari keluarga dan menggantinya dengan kelompok teman.
  • Konflik Keuangan: Masalah keuangan dan konflik dapat menjadi penyebab keterasingan, bahkan kontribusi finansial dapat meningkatkan kemungkinan keterasingan.
4 dari 4 halaman

Perbedaan Persepsi dan Harapan Rekonsiliasi

Sahabat Fimela, seringkali ada perbedaan signifikan dalam bagaimana orangtua dan anak dewasa memandang penyebab keterasingan. Orangtua mungkin mengaitkan keterasingan dengan perilaku anak atau rasa hak yang dirasakan, sementara anak dewasa lebih sering menunjuk pada perilaku orang tua yang toksik, pelecehan emosional, atau perasaan tidak didukung dan tidak diterima.

Dalam sebuah studi, orangtua paling sering mengaitkan keterasingan dengan perilaku, masalah, atau sifat anak (79%), masalah seputar menantu/pasangan yang sulit (72%), atau ketidaksepakatan tentang keyakinan dan nilai (67%). Perbedaan persepsi ini menjadi penghalang utama dalam proses rekonsiliasi.

Namun, keterasingan tidak selalu bersifat seumur hidup. Kabar baiknya, sebagian besar anak dewasa yang terasing akhirnya berdamai: 81% dengan ibu mereka dan 69% dengan ayah mereka. Bagi orang tua yang ingin berdamai, penting untuk mengakui bahwa mereka mungkin memiliki 'titik buta' dan bersedia memahami perspektif anak. Meskipun rekonsiliasi tidak selalu mudah, banyak kasus menunjukkan hasil yang sangat bermanfaat jika kedua belah pihak bersedia berusaha.