Dua Bulan Mengabdi di Dapur SPPG Sleman, Relawan Temukan Makna Baru dalam Rutinitas

Gilar RamdhaniDiterbitkan 24 Februari 2026, 12:42 WIB

Fimela.com, Sleman - Ketika banyak orang masih memeluk selimut, dapur SPPG Kabupaten Sleman sudah dipenuhi langkah-langkah sigap para relawan. Di ruangan, mereka melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing dengan penuh semangat. Salah satunya, Ibu Eni, 35 tahun, menjadi bagian dari cerita itu selama dua bulan terakhir.

Awalnya, Eni mendaftar menjadi relawan karena ingin mencoba kegiatan baru yang dekat dari rumah, tapi kini ia merasakan perubahan dalam cara menjalani hari-hari.

“Anak saya sudah agak besar, jadi waktu di rumah sebenarnya ada. Pas dengar ada rekrutmen, saya coba daftar. Saya pikir ini kesempatan yang baik karena dekat juga dari rumah. Setelah seleksi dan pengumuman, saya mulai ikut dari awal,” kenangnya.

Eni mengaku sempat bekerja sebelum menikah. Namun setelah berkeluarga, fokusnya beralih sepenuhnya ke rumah tangga. Bergabung dengan SPPG menjadi pengalaman kerja pertamanya kembali setelah sekian lama.

“Awalnya tentu harus menyesuaikan lagi. Bangun lebih pagi, atur waktu tidur. Tapi lama-lama terbiasa. Justru sekarang rasanya kalau tidak ada kegiatan seperti ini, jadi terasa kurang,” katanya sambil tersenyum.

Sebagai petugas pemorsian, Eni harus memastikan setiap kotak makan terisi dengan takaran yang sesuai. Ketelitian menjadi kunci agar seluruh siswa menerima porsi yang sama.

“Kita sudah ada aturannya. Jadi bukan asal ambil. Semua sudah dihitung supaya cukup dan sesuai standar. Saya merasa tanggung jawabnya ada, karena ini untuk anak-anak sekolah,” jelas Eni di Sleman, Jum'at (13/2/2026).

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Jam Kerja Dimulai Sekitar Pukul 3 Pagi

Jam kerjanya dimulai sekitar pukul tiga pagi dan berakhir menjelang siang. Meski jadwal itu terdengar melelahkan, Eni merasa masih bisa menyeimbangkannya dengan perannya sebagai ibu di rumah.

“Pulang sekitar jam 10 atau jam 11, jadi masih bisa urus rumah juga. Menurut saya ini pas. Ada aktivitas di luar, tapi keluarga tetap terurus,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah ia merasakan perubahan setelah dua bulan bergabung, Eni menjawab dengan jujur.

“Perubahannya lebih ke diri saya sendiri. Jadi lebih semangat. Enggak merasa hari-hari itu sama terus. Ada kegiatan, ada teman-teman, ada kerja sama. Rasanya lebih hidup saja.”

Cerita Eni menunjukkan bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis melalui SPPG tidak hanya berdampak pada penerima manfaat di sekolah, tetapi juga membuka ruang partisipasi bagi warga sekitar.

Di dapur Sleman, program ini berjalan dengan dukungan relawan yang datang dari lingkungan terdekat. Bagi Eni, kontribusi itu mungkin terlihat sederhana. Dari meja pemorsian yang tampak biasa saja, ribuan kotak makan tersusun rapi setiap pagi—siap diantar ke sekolah dan menjadi energi bagi banyak anak.

“Yang penting bisa ikut berkontribusi. Walaupun kecil, tapi rasanya berarti,” katanya.

 

(*)