11 Cara Mengajarkan Keamanan Tubuh pada Anak Kecil Sejak Dini

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 26 Februari 2026, 15:28 WIB

ringkasan

  • Mengajarkan keamanan tubuh sejak dini, termasuk nama anatomi yang benar dan konsep otonomi tubuh, sangat penting untuk memberdayakan anak agar dapat mengenali dan menolak sentuhan yang tidak pantas.
  • Membekali anak dengan pemahaman tentang sentuhan aman, tidak aman, dan tidak diinginkan, serta strategi "Tidak, Pergi, Beri Tahu", membantu mereka melindungi diri dari potensi bahaya.
  • Membangun komunikasi terbuka, mengidentifikasi orang dewasa yang aman, dan mewaspadai taktik "grooming" adalah langkah krusial untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan mengurangi risiko pelecehan pada anak.

Fimela.com, Jakarta - Pentingnya mengajarkan keamanan tubuh kepada anak-anak tidak bisa diremehkan, Sahabat Fimela. Pembelajaran fundamental ini adalah salah satu bekal terpenting yang dapat diberikan orang tua dan pengasuh demi keselamatan serta perkembangan optimal buah hati. Percakapan tentang menjaga keamanan tubuh, meski kadang terasa menakutkan, memiliki dampak dramatis pada kehidupan mereka di masa depan.

Pendidikan keamanan tubuh membekali anak untuk mengenali perilaku yang tidak pantas dan menumbuhkan rasa percaya diri untuk berani berbicara. Dengan pemahaman ini, mereka akan lebih siap menghadapi situasi yang tidak nyaman atau berbahaya. Memulai diskusi sejak dini dan menjadikannya sebagai percakapan yang berkelanjutan sangatlah krusial.

Tidak ada kata terlalu dini untuk mulai membahas topik keamanan tubuh dengan si kecil. Melalui pendekatan yang sesuai usia dan pengulangan secara teratur, Anda dapat menciptakan lingkungan yang aman serta mendukung. Lingkungan ini akan membuat anak merasa nyaman untuk bertanya dan berbagi kekhawatiran mereka tanpa ragu.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Fondasi Penting: Mengenalkan Bagian Tubuh dan Otonomi Diri

Kamu bisa melakukan hal-hal berikut untuk mencegah anak terkena pneumonia, dapat diterapkan untuk balita hingga anak sekolah. (Foto: Unsplash.com/Jose Ibarra)

Langkah pertama dalam mengajarkan keamanan tubuh adalah mengenalkan nama-nama anatomi yang benar untuk semua bagian tubuh. Sahabat Fimela perlu mengajarkan anak nama yang tepat, termasuk bagian pribadi seperti "penis" dan "vagina", sejak usia muda. Ini penting dilakukan bersamaan dengan pengenalan nama bagian tubuh lainnya.

Menghindari eufemisme atau nama panggilan untuk bagian pribadi sangat dianjurkan. Penggunaan istilah yang benar akan membantu anak berkomunikasi dengan jelas jika terjadi sentuhan yang tidak pantas. Hal ini juga mengurangi kebingungan atau rasa malu yang mungkin timbul.

Selanjutnya, jelaskan konsep Bagian Tubuh Pribadi (BTP) kepada anak. BTP adalah bagian tubuh yang tertutup oleh pakaian renang mereka. Tekankan bahwa bagian-bagian ini bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Pengecualian hanya berlaku untuk orang tua atau tenaga medis dengan izin serta alasan yang jelas, seperti saat membersihkan atau pemeriksaan dokter dengan didampingi orang tua.

Ajarkan pula konsep otonomi tubuh dengan kalimat sederhana seperti, "Tubuhmu milikmu sendiri." Anak-anak harus memahami bahwa tubuh mereka adalah hak milik mereka sepenuhnya. Mereka memiliki hak penuh untuk mengontrol siapa yang boleh menyentuhnya. Mereka juga berhak menolak sentuhan yang membuat tidak nyaman, bahkan dari anggota keluarga terdekat.

3 dari 4 halaman

Memahami Jenis Sentuhan dan Strategi Melindungi Diri

Penting bagi anak untuk dapat membedakan berbagai jenis sentuhan. Sentuhan aman adalah sentuhan yang membuat anak merasa dicintai, aman, dan penting, seperti pelukan dari orang tua atau tepukan di punggung. Sentuhan ini memberikan rasa nyaman dan dihargai.

Sentuhan tidak aman adalah sentuhan yang menyakiti tubuh atau perasaan anak, misalnya memukul, mendorong, mencubit, atau menendang. Sentuhan yang menyentuh bagian pribadi juga termasuk dalam kategori tidak aman. Penting untuk tidak menggambarkan sentuhan sebagai "baik" atau "buruk" karena ini bisa membingungkan anak yang mungkin mengalami pelecehan. Lebih baik fokus pada istilah "aman" dan "tidak aman".

Selain itu, ada sentuhan tidak diinginkan, yaitu sentuhan yang tidak anak inginkan dari orang tertentu atau pada saat itu. Anak berhak mengatakan tidak pada sentuhan semacam ini, bahkan jika itu datang dari orang yang dikenal. Untuk membantu anak merespons situasi tidak nyaman, ajarkan aturan sederhana "Tidak, Pergi, Beri Tahu". Strategi ini mudah diingat: katakan "tidak" atau "berhenti" dengan suara keras, lari dari orang tersebut, lalu beri tahu orang dewasa yang aman tentang apa yang terjadi.

4 dari 4 halaman

Membangun Lingkungan Komunikasi dan Kewaspadaan

Membangun lingkungan komunikasi yang terbuka adalah kunci. Bantu anak mengidentifikasi setidaknya tiga orang dewasa yang aman dalam hidup mereka, selain orang tua. Orang dewasa aman ini adalah individu yang dapat mereka ajak bicara jika merasa tidak nyaman, khawatir, atau takut.

Ciptakan suasana yang aman dan mendukung di mana anak merasa nyaman berbicara tentang tubuh mereka dan situasi tidak nyaman apa pun yang mungkin dialami. Secara teratur, ingatkan anak bahwa mereka dapat datang kepada Anda kapan saja jika merasa khawatir, takut, atau tidak nyaman. Pastikan Anda akan mendengarkan tanpa menghakimi dan melakukan segala yang mungkin untuk menjaga mereka tetap aman.

Ajarkan perbedaan antara rahasia dan kejutan. Jelaskan bahwa kejutan bisa menyenangkan, seperti memberikan hadiah, tetapi rahasia bisa menyakitkan. Anak-anak harus tahu bahwa orang dewasa tidak boleh meminta mereka menyimpan rahasia yang membuat tidak nyaman. Mereka harus segera memberi tahu orang dewasa yang aman jika diminta menyimpan rahasia semacam itu.

Latih skenario dengan anak untuk membantu mereka merasa lebih percaya diri dalam mengenali dan menanggapi perilaku tidak pantas. Bermain peran "Tidak, Pergi, Beri Tahu" bisa menjadi cara efektif.

Waspadai juga perilaku "grooming". Ajarkan anak bahwa orang dewasa tidak boleh meminta bantuan yang menempatkan mereka dalam situasi tidak aman, seperti membantu mencari hewan peliharaan hilang atau memberikan petunjuk arah. Perhatikan tanda-tanda "grooming" seperti pemberian perhatian khusus atau hadiah, melanggar aturan untuk satu anak, mengisolasi anak, atau menciptakan kesempatan untuk berduaan. Keterlibatan aktif orang tua dalam kehidupan anak dapat mengurangi risiko pelecehan seksual. Kehadiran yang konsisten dan penuh perhatian membantu Anda menyadari tanda-tanda peringatan.

Sumber Daya Tambahan untuk Keamanan Tubuh Anak

  • Buku Keamanan Tubuh: Gunakan buku-buku yang sesuai usia untuk memfasilitasi percakapan tentang keamanan tubuh.
  • Organisasi Pencegahan: Organisasi seperti LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia), KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), dan UNICEF Indonesia menyediakan sumber daya dan strategi untuk pencegahan pelecehan seksual anak.