Menguak Sisi Lain, Apakah Puasa Berpengaruh pada Kesehatan Mental Secara Negatif?

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 06 Maret 2026, 12:34 WIB

ringkasan

  • Puasa dapat meningkatkan emosi negatif seperti iritabilitas, depresi, dan kecemasan, terutama pada individu yang rentan, dan dikaitkan dengan fluktuasi kadar gula darah rendah.
  • Individu dengan riwayat gangguan makan atau kondisi mental seperti bipolar dan OCD berisiko mengalami kekambuhan atau perburukan gejala saat berpuasa.
  • Kelelahan, gangguan tidur, dan stres mental akibat puasa dapat memperburuk kondisi psikologis, sehingga konsultasi dengan profesional kesehatan sangat dianjurkan bagi yang rentan.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, puasa merupakan ibadah yang tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memberikan berbagai dampak pada kondisi fisik dan mental seseorang. Banyak yang meyakini puasa membawa ketenangan jiwa dan manfaat kesehatan, namun ternyata efeknya pada kesehatan mental bisa sangat kompleks dan tidak selalu positif bagi semua individu.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa berpotensi memperburuk kondisi mental tertentu, khususnya pada individu yang memang sudah rentan. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana puasa dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis kita secara keseluruhan.

Peningkatan emosi negatif, gangguan suasana hati, dan risiko kekambuhan kondisi mental yang sudah ada menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, penting untuk memahami potensi dampak ini dan mengetahui kapan harus mencari saran profesional sebelum atau selama menjalankan ibadah puasa.

2 dari 4 halaman

Peningkatan Emosi Negatif dan Fluktuasi Gula Darah

Saat berpuasa, sebagian orang mungkin mengalami peningkatan emosi negatif yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat memicu perasaan seperti depresi, kecemasan, kemarahan, iritabilitas, kelelahan, dan ketegangan. Sebuah studi tahun 2016 bahkan menemukan bahwa peserta menjadi lebih mudah tersinggung selama periode puasa 18 jam dibandingkan saat tidak berpuasa.

Perubahan suasana hati ini seringkali berkaitan erat dengan kadar gula darah yang rendah atau hipoglikemia, yang dapat terjadi selama periode pembatasan kalori. Ketika kadar glukosa darah dan otak menurun, kemampuan berpikir dan berkonsentrasi juga dapat terganggu, yang pada akhirnya memengaruhi suasana hati menjadi buruk. Gejala hipoglikemia bisa muncul tiba-tiba seperti gemetar, keringat dingin, jantung berdebar, pusing, lemas, hingga pingsan.

Kadar gula darah yang rendah ini memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin, yang meskipun bertujuan menjaga stabilitas, dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih agresif dan emosional. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan asupan saat sahur dan berbuka agar kadar gula darah tetap stabil dan terhindar dari fluktuasi ekstrem yang memengaruhi emosi.

3 dari 4 halaman

Risiko bagi Individu dengan Kondisi Mental dan Gangguan Makan

Bagi Sahabat Fimela yang memiliki kondisi kesehatan mental yang sudah ada, puasa dapat memperburuk gejala yang dialami. Misalnya, sebuah studi kecil menunjukkan bahwa puasa selama Ramadan dikaitkan dengan kekambuhan episode manik atau depresif pada 33% pasien Muslim dengan gangguan bipolar yang berpuasa, dibandingkan 15% pada mereka yang tidak berpuasa. Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) juga seringkali menghadapi kesulitan saat berpuasa.

Puasa sangat tidak disarankan bagi orang yang sedang dalam pemulihan dari anoreksia nervosa dan kondisi gangguan makan serupa. Hal ini karena puasa dapat memicu pikiran tidak teratur tentang makanan atau bahkan kekambuhan, yang bisa sangat berbahaya dan mengancam jiwa. Perubahan pola makan yang ekstrem tanpa perencanaan yang tepat bisa menjadi pemicu perilaku makan yang tidak teratur.

Puasa yang berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan penanda neuro-inflamasi tertentu, yang menimbulkan kekhawatiran bagi kelompok psikiatri yang berisiko. Individu dengan riwayat diet juga dapat mengalami peningkatan ruminasi dan rasa bersalah, yang merupakan faktor risiko transdiagnostik untuk depresi. Pasien dengan fenotipe gangguan makan menunjukkan peningkatan keasyikan kognitif dengan makanan dan peningkatan risiko kekambuhan perilaku.

4 dari 4 halaman

Kelelahan, Gangguan Tidur, dan Stres Mental

Ketahui dampak buruk orang tua yang adu argumen di depan anak untuk kesehatan mental jangka panjang. (Foto: Unsplash.com/Caleb Woods).

Beberapa orang yang menjalankan puasa, termasuk puasa intermiten, melaporkan mengalami kelelahan dan tingkat energi yang rendah. Kadar gula darah rendah dapat menyebabkan perasaan lelah dan lemah. Selain itu, puasa dapat menyebabkan gangguan tidur pada beberapa orang, yang berkontribusi pada kelelahan di siang hari.

Gangguan tidur adalah mediator penting; penekanan tidur REM selektif dapat meningkatkan efek negatif keesokan harinya. Kurangnya tidur dapat memperburuk kondisi emosi dan menurunkan kemampuan mengendalikan emosi.

Puasa yang berlebihan atau terlalu sering juga berpotensi menyebabkan dehidrasi, stres mental, dan gangguan tidur. Bagi sebagian orang, terutama pada minggu-minggu awal, proses adaptasi terhadap pembatasan makanan dan berkurangnya ketersediaan glukosa (sumber bahan bakar utama otak) dapat menyebabkan kelelahan dan iritabilitas.

Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa penelitian tentang puasa dan kesehatan mental menunjukkan hasil yang beragam. Beberapa studi juga melaporkan manfaat seperti penurunan skor kecemasan dan depresi, peningkatan suasana hati, dan rasa pencapaian. Efek puasa dapat bervariasi dari orang ke orang, dan bagi sebagian individu, puasa bisa menjadi detoksifikasi psikologis yang menenangkan pikiran.