Sukses

Info

2 Karya Seni Unik Ini Berhasil Memenangkan Penghargaan UOB Painting of the Year 2023

Fimela.com, Jakarta Keterlibatan UOB dalam dunia seni dimulai pada tahun 1970an melalui koleksi lukisan karya perupa dari Singapura. Kini, Koleksi Seni UOB terdiri lebih dari 2.600 karya seni. Sebagian besar terdiri dari lukisan karya perupa ternama dan pendatang baru di Asia Tenggara. UOB berperan aktif dalam komunitas di seluruh kawasan, terutama melalui komitmen jangka panjang terhadap dunia seni.

Sebagai lembaga yang terus mengembangkan dunia seni Asia, UOB terus berupaya agar karya seni dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas melalui beragam program seni visual, kemitraan, dan penjangkauan komunitas di seluruh wilayah.

Program seni unggulan UOB adalah ajang UOB Painting of the Year yang dimulai pada tahun 1982. Ajang kompetisi ini berusaha memberikan penghargaan kepada para perupa Asia Tenggara dan menawarkan merekakesempatan untuk memamerkan karyanya kepada masyarakat luas. Kompetisi ini kemudian diperluas ke Indonesia, Malaysia, Thailand dan pada tahun 2023 juga hingga ke Vietnam. Saat ini kompetisi seni ini merupakan kompetisi seni terlama di Singapura dan menjadi salah satu yang paling bergengsi di Asia Tenggara.

Kali ini UOB Indonesia menganugerahkan penghargaan 13th UOB Painting of the Year (POY) (Indonesia) award kepada Ni Nyoman Sani atas karyanya yang bertajuk “Tranquility” (Keheningan). Karya ini merupakan sebuah karya seni abstrak yang terbuat dari akrilik Gesso, lem dan marmer. Dalam menciptakan karya ini, perupa yang berasal dari Bali dan berusia 48 tahun ini mengambil inspirasi dari kearifan lokal dan gaya hidup yang menggambarkan hubungan antara manusia, kebudayaan, dan alam.

Selain Nyoman Sani dan penghargaan 13th UOB Painting of the Year (POY) (Indonesia) award, UOB juga memberikan penghargaan kategori Emerging Artist kepada Begok Oner atas karya seni yang bernama 7°49’03.3”S110°21’00.2”E dalam penghargaan bernama 2023 Most Promising Artist of the Year (Indonesia), berikut informasi lengkapnya. 

Mengenal Ni Nyoman Sani

Tumbuh dewasa di Sanur, sebuah kawasan pesisir di Bali, Sani mempelajari alam dan karakteristik bahan-bahan alami yang ada di dalamnya. Ibarat puing-puing terumbu karang yang terdampar di pantai dan membentuk pola unik dalam jangka waktu yang lama, Sani meyakini bahwa proses serupa juga terjadi pada manusia karena siklus alami seperti ruang dan waktu membentuk tubuh dan jiwa manusia.

Sani menyatakan, “Karya seni ini menggaris bawahi tradisi Bali, dimana sebagian besar ritual didasari oleh sistem kalender yang mengikuti siklus alami. Sesuai filosofi Bhuana Agung dan Bhuana Alit, kebudayaan Bali mencerminkan adanya kesatuan ritme antara kehidupan manusia dan alam, sehingga membentuk suatu ekosistem yang utuh.”

“Bhuana Agung mewakili seluruh alam semesta, sementara Bhuana Alit merujuk pada jiwa individu yang berada di alam semesta ini. Melalui karya seni yang saya hasilkan, saya berharap dapat mengingatkan sesama bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam dapat berdampak pada manusia.” Lanjutnya. 

Karya seni Sani membuat panel juri UOB POY terkesan. Adapun panel juri terdiri dari Melati Suryodarmo, ketua juri yang sekaligus seniman pertunjukan; Dr Agung Hujatnika, kurator seni independen dan dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung; dan Heri Pemad, Direktur Kreatif di Sarinah Art District Jakarta yang juga merupakan pendiri Art Jog.

 

 

Karya Seni Berajuk Tranquility

Ketika dimintai komentar terkait karya seni Sani, Melati mengatakan, “Sani menunjukkan kemampuan artistiknya yang kuat dalam membuat lukisan abstrak menyerupai sisa-sisa terumbu karang yang ia temukan di kawasan pesisir Sanur. Dengan menyoroti konteks filosofis serta ruang serta pengalaman kehidupan sehari-hari melalui karya seninya, Sani juga telah mengedukasi masyarakat tentang warisan tradisi Bali dan pengaruh alam terhadap psikologi dan budaya spiritualitas.”

Sebagai pemenang utama kompetisi UOB POY (Indonesia) 2023, Sani berhak menerima uang tunai sebesar Rp250 juta. Karya seninya juga akan bersaing dengan karya pemenang dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam dalam UOB Southeast Asian POY Award yang akan diumumkan pada 8 November 2023 di Singapura. Sani juga berkesempatan untuk berpartisipasi dalam program residensi selama satu bulan di Museum Seni Asia Fukuoka di Jepang.

Hendra Gunawan, Presiden Direktur UOB Indonesia, mengatakan, “Selamat kepada Sani yang telah memenangkan penghargaan UOB POY ke-13 di Indonesia. Karya seninya yang mengesankan berhasil mengajak masyarakat untuk mengetahui akar budaya Bali. Kami senang melihat antusiasme tinggi para perupa yang telah berkontribusi terhadap perkembangan dinamis seni rupa di Indonesia selama 13 tahun melalui kompetisi unggulan UOB di Tanah Air.”

“Industri seni Indonesia terus berkembang pesat. Berkat dukungan pertumbuhan kelas menengah yang meningkat serta minat dari pengunjung mancanegara, banyak galeri dan komunitas perupa yang terus berkembang, sementara perhelatan seni besar juga terus menarik perhatian banyak pihak. Di UOB, kami percaya bahwa seni dapat melampaui sekat bahasa, budaya, geografi, dan waktu." Lanjutnya.

"Kami terus berperan aktif dalam mempererat dan memperkuat ikatan komunitas antar kawasan melalui dukungan jangka panjang yang kami berikan terhadap seni visual. Saya mengucapkan selamat kepada para pemenang tahun ini atas pencapaiannya. Semoga ajang penghargaan ini dapat dimanfaatkan sebagai batu loncatan untuk terus berproses dalam perjalanan karir seni mereka.” Tutupnya. 

 

 

 

Penghargaan 13th UOB Most Promising Artist of the Year - Indonesia

Pada kategori Emerging Artist, Begok Oner, perupa berusia 25 tahun asal Jawa Tengah berhasil meraih penghargaan 13th UOB Most Promising Artist of the Year (Indonesia) atas lukisan yang berjudul “7°49'03.3”S 110°21 '00.2"E". Ia terinspirasi dari konsep distorsi ruang di dunia maya.

Bentuk kanvas dan penggambaran objek dalam lukisannya menyerupai gambar yang terlihat pada lensa cembung, yakni alat sederhana yang telah digunakan selama berabad-abad untuk memfokuskan dan memperbesar cahaya. Sebagai metafora, karya seni ini mengacu padagagasan bahwa kita memang hidup dalam surveillance society dimana setiap aspek kehidupan kita dipantau dan dicatat.

UOB Indonesia akan memamerkan 46 karya finalis kompetisi 13th UOB POY (Indonesia), termasuk diantaranya delapan karya pemenang di Autograph Tower, Jakarta, Level 77. Pameran ini terbuka untuk umum setiap hari mulai tanggal 26 Oktober hingga 5 November2023 pukul 10 pagi sampai pukul 5 sore.

 

Penulis: Tisha Sekar Aji

Hashtag: #Breaking Boundaries 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading