Sukses

Lifestyle

Seperti Rezeki yang Mudah bagi-Nya, Urusan Jodoh Biarlah Allah yang Mengatur

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Monica - Malang

Air mata tak dapatku bendung ketika saya mengetahui kebenaran yang pahit, kebenaran yang membuat perasaan dan pikiran berkecamuk. Bagaimana tidak? Seorang pria yang telah saya cintai selama bertahun- tahun tiba-tiba menikah dengan wanita lain. Rasa sedih, kecewa, amarah berkecamuk menjadi satu, belum lagi pertanyaan yang ada dalam pikiran saya.

Inilah kisah saya di masa lalu, ketika saya terlalu banyak menaruh harapan pada manusia. Memaafkan pun bukanlah perkara mudah hingga saya menyimpan rapi luka dan kisah ini. Berawal dari saya yang menyukai kakak kelas saya di bangku SMA dan singkat cerita kami pun berpacaran saat saya duduk di bangku SMA. Saya menyukai kepribadiannya terutama dia adalah cinta pertama saya. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan satu tahun. Masalah yang terjadi semakin rumit ketika kami jarang sekali untuk berkomunikasi via SMS maupun bertemu, pada akhirnya saya memutuskannya pada saat dia akan ujian kelulusan.

Setelah sekian lama kami tidak bertemu dan berkomunikasi, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat. Kami pun saling bertukar kabar dan tidak perlu waktu lama bagi kami untuk menjalin lagi. Beberapa hari kemudian saya mendapati pesan dari nomor teleponnya bahwa dia memiliki calon istri, namun saya tidak percaya dan mendapati kembali jika itu adalah sebuah kesalahan.

 

Dia Menikah dengan Perempuan Lain

ada akhirnya, itu adalah sebuah kenyataan ketika saya dapati sebuah pesan dari nomor yang sama menjelaskan bahwa mereka sudah menikah. Seketika bulir-bulir air mata saya jatuh dan rasa putus asa serta berbagai pertanyaan di pikiran saya. Ketika saya ingin tahu kebenaran tersebut dia justru tidak ada, berkali-kali saya hubungi namun tidak ada hasil, nomor yang dituju justru tidak aktif. Sudah berapa banyak air mata yang menetes? Saya coba menghubungi temannya, namun tidak ada yang memberikan informasi, bahkan dari mereka pun hanya satu teman dekatnya yang mengetahui ternyata mereka sudah menikah.

Saya pikir semuanya akan berjalan mudah dan sesuai dugaan, namun itu hanyalah harapan kosong, semua rasa itu menjadi benci tatkala perempuan itu memaki saya dengan kata-kata yang kasar. Di tengah keputus-asaan itu, saya berdoa kepada Allah SWT agar saya diberi kesabaran serta hikmah di balik smua ini. Selang beberapa waktu akhirnya dia menjelaskan semua perkara tersebut.

Ternyata dia terpaksa menikahinya karena hal yang tidak sadar dia lakukan, di mana dia dijebak oleh perempuan itu. Namun, nasi telah menjadi bubur segalanya telah berubah. Dia pun menanyakan apakah saya mau suatu saat menikah dengannya sampai dia menyeleseikan masalahnya? Tentu tidak. Menikah tidak hanya menerima dia yang sekarang tapi menerima segala masa lalunya.

Rasa amarah kembali memuncak ketika saya mengingat kata-kata kebencian dan rasa kecewa yang mendalam atas peristiwa itu. Bagaimana tidak? Saya tidak tahu menahu bahkan mengenal perempuan itu, hingga dia menghujat saya dengan perkataan yang buruk, bukan hanya itu, seseorang yang saya percayai justru tidak memberikan penjelasan di saat saya dilanda rasa gelisah. Berkali-kali saya tekankan pada diri saya, apakah saya mampu untuk menerima kondisinya? Apakah saya mampu menerima masa lalu yang pernah menyakiti perasaan saya? Belum lagi saya harus menerima buah hati yang bukan dari rahim saya.

 

Urusan Jodoh Sudah Ada yang Mengatur

Berlalu lama dalam pikiran yang berkecamuk serta rasa gelisah membuat batin tidak bergejolak. Pada akhirnya, saya harus bisa menyerahkan segala hal kembali kepada Allah SWT. Inilah bukti bahwa bagaimana dan sebesar apa kita mencintai hamba-Nya, semua itu tidak lepas dari takdir yang telah ada pada Lauhul Mahfuz. Segala rezeki, kematian, serta kebahagiaan dan kesengsaraan telah Allah tetapkan semenjak ditiupkan ruh. Seharusnya saya sadar sedari dulu, bahwa jika seseorang terlalu berharap kepada manusia lain maka Allah akan timpakan betapa pedihnya pengharapan itu.

Saya sadar saya telah banyak berharap, mencintai dia yang belum halal. Saya pun meminta maaf padanya dan menghapus segala rasa benci. Saya sadar, hal yang buruk tidak selamanya buruk namun bagaimana saya menjadi pribadi yang lebih baik. Memang memaafkan bukanlah perkara hal mudah, namun Allah menyukai hamba-Nya yang saling memaafkan.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk memperbaiki hubungan saya dengan Sang Pencipta. Bukankah semua hamba-Nya memiliki setiap urusan baik maupun buruk, dan harusnya dari segala ujian yang Allah berikan hendaknya saya tetap mengingat nama Allah dan mengambil hikmah di balik kisah hidup saya. Tidak ada manusia yang sempurna, apabila suatu ujian mendera maka saya harus tetap berprasangka baik terhadap Allah, sebab segala sesuatu telah Allah tetapkan. Bukankah yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah?

Jodoh telah Allah tetapkan, sebagaimana rezeki yang mudah bagi-Nya maka urusan jodoh biarlah Allah yang mengatur. Kini saya rasakan betapa rasa cinta Allah dan hidayah-Nya untuk kembali padanya begitu terasa. Allah mencintai tiap hamba-Nya yang saling memaafkan dan tidak melampaui batas.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading