Sukses

Lifestyle

Berani Menikah Muda, Berani Menerima Tanggung Jawab yang Lebih Besar

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Giasani - Cimahi

Nikah-nikahan.

Mungkin dari sekian banyak orang yang bertemu denganku, sebagian tidak pernah mengira aku sudah bersuami. Ya, saat ini aku masih kuliah di salah satu universitas negeri untuk mendapatkan gelar S1. Suamiku? Dia pun sama, sedang bersekolah di sekolah tinggi swasta, namun bedanya dia sudah memiliki pekerjaan.

Kami menikah di akhir tahun lalu di usia 22-21 tahun, terhitung muda untuk pasangan yang menikah di kota besar. Di rentang usia ini adalah usia di mana teman-temanku mengejar studinya hingga ke luar negeri, melancong ke Korea, mengincar pekerjaan idaman, mengembangkan jaringan pertemanan di komunitas, dan masih banyak lagi. Tapi aku? Aku masih sama, menjalankan perkuliahan seperti biasanya, seperti tidak menikah! Tentu, karena kami memutuskan menikah, namun tidak tinggal bersama dulu, kami putuskan untuk menjalani hidup seperti biasa dalam ikatan pernikahan. Bapakku menyebutnya, nikah-nikahan.

Tidak semudah kedengarannya, menikah muda, terlalu muda bagi ibuku yang menentang pernikahan kami di awal, membutuhkan waktu untuknya menerima. Ibu dan bapakku pernah mengalami perceraian, meskipun akhirnya balikan, itulah yang membuat mereka hati-hati dalam mengambil keputusan untuk sebuah pernikahan. Pernikahan ini, berulang kali aku jelaskan, aku tidak main-main, tapi mereka selalu menganggap kami bercanda, walaupun terkadang candaan itu sedikit menyakitkan. Tapi dalam diri ini selalu tertanam, itu adalah sebuah bentuk kekhawatiran. Berbulan-bulan berlalu akhirnya ibuku membuka diri, beliau mengizinkan kami untuk menikah. Meskipun kami sendiri tidak tahu kapan kami akan menikah.

 

 

Memutuskan Menikah

Kami memutuskan menikah, karena kami percaya, untuk siapa lagi kami selain untuk satu sama lain? Berangkat dari sebuah keyakinan, kami mulai berencana dengan tangan kosong, dengan gaji seorang teknisi muda yang hanya Rp4 juta per bulan. Rencana hanya sekadar rencana kalau tidak dibuat target, sebagai seorang wanita yang mendalami ilmu keuangan, aku harus memutar otak dan mengatur strategi agar pernikahan ini menjadi kenyataan bukan hanya angan-angan dua anak muda semata.

Terlebih lagi, jika kami membandingkan budaya pernikahan di dua keluarga ini amatlah bertentangan, aku yakin mungkin tidak hanya kami yang demikian, ada pihak yang ingin semua biaya ditanggung perempuan ada pula yang sebaliknya. Untuk itu kami sepakat ambil jalan tengah, keputusan yang kami ambil sepenuhnya tanggung jawab kami, tidak sepeser pun kedua orangtua kami mintai untuk membayarkan pernikahan ini. Kami bertekad akan mewujudkannya berdua tanpa harus menimbulkan konflik yang tiada ujungnya.

Dari situ aku mulai mendaftar semua yang dibutuhkan untuk pernikahan, benar-benar hanya aku, tidak ada bantuan dari orangtua atau orang yang sudah berpengalaman, karena kami tidak mau orang lain menjadi repot karena keinginan kami, yang kami pun saat itu tidak bisa memastikan ini akan berhasil atau tidak, tapi setidaknya kami sendiri punya keyakinan bahwa kami ini akan berhasil. Vendor mulai kami hubungi satu per satu, bala bantuan dari saudara akhirnya tiba, beruntung mereka banyak memberiku nama-nama vendor yang sesuai anggaran. Setelah wedding list berikut harganya ini jadi, kami beranikan diri untuk bayar di muka seadanya, Rp500 ribu, Rp1 juta, benar-benar ala kadarnya. Selanjutnya yang kami lakukan tidak lain adalah berdoa, dan berharap Allah akan senantiasa memudahkan kami karena kami yakin niat kami untuk menikah adalah baik di mata-Nya.

Mempersiapkan Segalanya

Aku memiliki online shop yang memiliki omset relatif stabil di Rp3 juta perbulan, entah mengapa semenjak ibuku mengizinkan pernikahan ini, tiba-tiba di bulan Februari 2018 banyak customer yang tidak tahu datang dari mana, melonjak dengan orderan yang fantastis. Hingga di akhir bulan itu aku mendapat omset bersih Rp21 juta, aku tidak pernah mengalami atau bahkan membayangkan ini sebelumnya, tidak pernah sama sekali.

Pada saat itu yang ada di benakku hanya satu, “Oh inikah yang Allah janjikan pada orang-orang yang berniat ibadah dengan menikah?” Satu bulan dilalui, omset akhirnya stabil di Rp5 juta per bulan. Setiap akhir bulan aku selalu mengecek daftar catatan pernikahan, kadang sebelum tidur, kadang saat di tempat magang, kadang di kampus, layaknya sedang mengecek tugas harian. Tiap poin kebutuhan yang lunas mulai dicoret, satu coretan satu kelegaan. Dan sampailah di akhir tahun, karena kami juga sepakat tidak usah bertunangan, ketika dia dan keluarganya berkunjung ke rumah dengan maksud melamar.

Tidak banyak yang dibicarakan orang tua di situ tentang pernikahan, pembicaraan lebih banyak saling mengenalkan diri, dan di akhir adalah bagian kami untuk persentasi tentang progres pernikahan. Semua pertanyaan yang ada kami jawab, seperti murid yang sedang diuji oleh tim penanya. Pertemuan ditutup dengan menentukan tanggal, yang mana, tanggal juga sudah kami pegang berdasarkan hasil diskusi berdua, meskipun tanggal ini juga pemberian nenekku sebelumnya. Untunglah semua keluarga kami kooperatif, tidak ambil pusing, karena semua rencana acarapun pada dasarnya hanya kami berdua yang tahu. Dan selebihnya mereka enjoy the show.

Dari awal hanya rencana nikah-nikahan akhirnya jadi kenyataan, Desember 2018, aku dipersunting suamiku. Bukan acara mewah, hanya sebuah acara sederhana yang bisa kami persembahkan sebagai wujud syukur karena Allah telah mempertemukan kami. Pernikahan yang semula direncanakan baru bisa tercapai setelah 2 tahun menabung, tidak disangka-sangka terwujud hanya dalam waktu 9 bulan.

Alhamdulillah, tidak ada uang yang kami gunakan dari berutang, semua ini hanya berkat pemilihan vendor, perencanaan, dan alokasi biaya yang jelas serta terarah. Tidak dipungkiri juga banyak sekali perdebatan, jangankan kami anak muda yang emosinya masih labil, orang-orang di usia matang saja masih ada yang mengeluh perencanaan pernikahannya tidak semulus wajah Song He Kyo hihi.

Tapi setiap kali ada perdebatan kami selalu concerned untuk solusinya, tidak ada waktu untuk saling menyalahkan, karena bagaimana pun kami berjuang dari awal berdua, mana bisa kami lari dari jalan yang sudah kami pilih. Kami harus selalu satu tujuan meskipun dengan metode berbeda. Dan salah satu mindset yang selalu menjadi pereda adalah jika kami ingat bahwa apapun yang terjadi sebelum dan saat pernikahan, tidak sebanding dengan apa yang kami lalui nantinya.

Masih Pisah Tempat Tinggal

Kini, aku dan suami, percaya atau tidak, masih berpisah tempat tinggal lho, masih seperti dahulu ketika pacaran. Suamiku pulang dari Cikarang ke Cimahi tiap satu atau dua minggu sekali. Sementara aku di sini sedang menyelesaikan kuliahku, sambil menyambi online shop, makeup artist, kadang aku masih bermain game dan terakhir aku sedang ikut kursus perpajakan.

Aku masih bisa pulang pergi kampus tanpa hambatan, suamiku juga tidak melarang aku untuk main sekadar ke rumah teman atau ngobrol-ngobrol di kafe. Karena kami sudah merencanakan semua ini, dan tentu dengan batasan-batasan yang wajar. Ya mungkin ini namanya istri rasa gadis kali ya? Tapi kan aku memang masih gadis, hihihi. Yang pasti setelah menikah muda itu menurutku, aku jadi lebih bahagia karena bisa pacaran tanpa dihantui dengan rasa takut dosa.

Aku bahagia karena aku bisa menikah dengan laki-laki yang tingkahnya seperti oppa dan selalu senyum setiap kali melihat kearahku yang juga menganggap bahwa meskipun menikah kami masih bisa sebelah-sebelahan bergandengan sambil bermain game yang berbeda. Terlalu cepat memang, tapi pada faktanya kami mendapatkan lebih dari apa yang kami dapatkan sebelumnya selagi masih pacaran, because our morning can be annoying, noon sometimes fun, and night he is next to me.

Aku ucapkan terima kasih banyak untuk semua bantuan dan doa yang telah membuat pernikahan impian dua bocah ini jadi kenyataan. Dan terima kasih Fimela, telah memberikan ruang untukku berbagi pada semua wanita terutama yang hendak menikah muda, percayalah selama kita percaya dengan niat, percaya satu sama lain, dan percaya semua ini kehendak Allah, semuanya akan menjadi mudah no matter what-no matter who-no matter how, believe, it will matter! Thank you.

 

Salam, Gia.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri