Sukses

Lifestyle

Menikah Bukan Akhir Perjuangan Cinta

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Niken Nawang Sari - Yogyakarta

Menikah bagiku bukanlah akhir dari perjuangan cinta kedua insan manusia seperti di film, tapi menikah adalah langkah awal untuk hidup bersama dengan berbagai konsekuensi yang harus ditanggung bersama. Termasuk konsekuensi saat memutuskan untuk menanggalkan gelar sarjana yang selama ini dibanggakan, yang berpengaruh terhadap stabilitas keuangan rumah tangga nantinya.

Pernikahan merupakan hal sakral di mana kedua insan bersaksi untuk hidup bersama di depan Tuhan dan negara. Jadi menikah bukanlah main-main karena ijab qobul yang sudah terucap mengandung makna yang sangat dalam.

Aku dan suami memutuskan menikah walaupun keadaan kami saat itu belum stabil dari sisi finansial. Bahkan sempat drama-drama dari kedua pihak keluarga kami. Drama pernikahan dimulai ketika pihak keluargaku miskom soal surat dari KUA. Hal ini terjadi karena saat itu aku masih masuk penduduk kabupaten Bandung dan surat yang ditujukan dari KUA domisiliku ternyata langsung ke KUA Kalasan, tempat domisili suamiku. Padahal antara ibu dan nenek sudah sepakat bahwa pernikahan kami numpang di KUA tempat nenek tinggal. Jadi surat dari KUA tadi muter-muter, dari Bandung dikirim ke Kalasan, dari Kalasan dikirim ke tempat nenek tinggal yang tentu memakan waktu lama. Suamiku bahkan sampai membuat kesepakatan tertulis dengan tokoh agama di tempat nenek agar pernikahan kami tidak molor dan tidak ada yang menggugat pernikahan kami.

 

Terus Belajar Menjadi Lebih Baik

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang, tapi drama masih datang lagi. Sekitar pukul 9 pagi, bapak ngeloyor pergi tanpa pamit menggunakan motor. Padahal ijab qobulku akan dilaksanakan pada pukul 10 di KUA. Beruntung sebelum pukul 10, bapak sudah kembali meskipun dengan muka masam. Tidak tahu apa yang ada di pikirannya karena menikah itu banyak saudara-saudara yang ingin ikut campur tangan. Mungkin bapak pusing memikirkan itu.

Nyinyiran tentang simpelnya pernikahan kami yang dilaksanakan di KUA sebenarnya ada, terutama dari saudara-saudara jauh. Tapi kami berdua berusaha tutup telinga saja karena setelah ini perjalanan hidup kami masih panjang dan penuh tantangan. Tidak ada gunanya menanggapi nyinyiran mereka.

Setelah melaksanakan ijab qobul, saat itu pula kami segera memutuskan untuk pergi dari yang ribet dan sibuk nyinyir tentang pernikahan kami. Tidak lupa kami berusaha membangun komunikasi yang baik supaya tidak ada lagi miskomunikasi yang akibatnya bisa fatal.

Menikah bukan hanya tentang kesiapan finansial, tapi menerima kedua keluarga dengan berbagai perbedaan bahkan perbedaan cara berkomunikasi. Kesiapan finansial bisa dicari dengan tenggang waktu tertentu, tapi untuk menerima perbedaan dari kedua keluarga? Hmm... sampai sekarang kami masih belajar.

 

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri