Sukses

Lifestyle

Tak Perlu Mengomentari Hidup Orang Lain, jika Belum Paham Betul Situasinya

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Selvy Arianti - Tangerang

Terkadang tanpa kita sadari, begitu mudah mengomentari kehidupan yang hanya kita lihat melalui dua mata kita bahkan sekali pun kepada yang tidak pernah bertatap muka dengan kita.

“Kata-kata lebih tajam daripada mata pedang," setidaknya itu yang selalu aku ingat agar tidak mudah menilai seseorang hanya dari penampilan atau pertemuan pertama saja. Ada hal yang melatarbelakangi mengapa aku mempunyai prinsip seperti itu. Saat aku masih usia belasan tahun, aku begitu sakit hati dengan ucapan seseorang yang meneriaki diriku “Emangnya kamu cantik?” ketika aku menjadi pagar ayu di acara pernikahan tetangga.

Aku merasa tidak berbuat salah dengannya, bertemu saja jarang karena rumah kami yang jaraknya tidaklah dekat. Tapi aku sadar, dirinya memang begitu cantik. Sejak saat itu aku meyakini pertanyaannya sehingga bertemu siapa pun merasa tidak percaya diri.

Hari bertambah, bulan berganti, dan tahun demi tahun aku jalani dengan rasa tak percaya diri. Teriakan itu hingga kini masih sering terngiang. Melalui pertanyaannya aku sadar bahwa begitu mudahnya membuat orang lain terluka. 

 

 

Hati-Hati dengan Komentar Kita

Beranjak ke perkuliahan, aku masih tidak percaya diri. Aku selalu bertanya terlebih dahulu ke teman-teman lainnya sebelum bertanya kepada teman kelas yang sedang mempresentasikan tugas di hadapan kami semua. Pertanyaanku biasanya adalah apakah nantinya aku salah jika bertanya ini atau itu kepada yang sedang presentasi.

Bukan tanpa alasan bersikap demikian, aku tidak ingin ucapanku justru merepotkan teman-teman yang sedang presentasi atau bahkan melukai perasaan mereka. Karena berulang, temanku sampai ada yang hafal bahwa aku akan bertanya hal yang sama ketika ada niat ingin bertanya. Aneh memang tapi itulah yang selalu aku lakukan.

“Cantik itu relatif," aku mempercayainya setelah mendapati banyaknya pemberitaan tentang korban bullying. Bullying dilakukan secara verbal, fisik, sosial serta cyberbullying yang marak di internet maupun media sosial. Begitu sedih diriku ketika mengetahui di luar sana kawan-kawan di-bully hingga tidak kuat menjalani hari-hari. Terkadang tanpa alasan kita tetap menjadi korban.

Jika cantik dinilai dengan angka, setiap orang memiliki penilaian dengan tolok ukur yang berbeda. Jika cantik dinilai berdasarkan apa yang kita lihat, berapa lama kita bersama dengan seseorang sehingga mampu menilainya? Jika cantik dinilai melalui hati, apa saja yang sudah kita pahami mengenai seseorang yang sedang kita hadapi?

Sudahi bullying sebab tanpa kita sadari hal itu dapat merusak kehidupan orang lain. Bagi diriku di hari-hari berikutnya, aku adalah perempuan yang cantik dengan penilaianku sendiri. Biarlah orang lain berkomentar apa, yang jelas aku perempuan dan semua perempuan itu sejatinya cantik.

Aku, kamu, dan kita semua adalah perempuan yang cantik.

 

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Ayah adalah Cinta Pertama bagi Anak Perempuannya
Artikel Selanjutnya
Kita Juga Pahlawan untuk Diri Kita Sendiri