Sukses

Lifestyle

"Leisure Sickness" Itu Nyata, Jadi Fenomena Unik yang Terjadi Pasca Liburan

ringkasan

  • "Leisure Sickness" adalah fenomena di mana seseorang cenderung sakit saat liburan atau akhir pekan setelah periode kerja keras, pertama kali diidentifikasi oleh peneliti Belanda pada tahun 2002.
  • Beberapa teori menjelaskan "Leisure Sickness" termasuk peningkatan paparan kuman saat bepergian, hubungan kompleks antara stres dan sistem kekebalan tubuh, perubahan gaya hidup
  • Para ahli seperti Ad Vingerhoets dan Ester Sternberg mengaitkan kondisi ini dengan stres dan kesulitan tubuh beradaptasi dari mode kerja intens ke mode santai, serta pengaruh hormon terhadap sistem kekebalan.

Fimela.com, Jakarta - Setelah berminggu-minggu disibukkan oleh pekerjaan yang padat, masa liburan seringkali dinanti sebagai waktu untuk beristirahat. Namun, tidak sedikit orang justru jatuh sakit tepat saat akhir pekan panjang atau hari libur dimulai. Tenggorokan terasa gatal, badan lemas, hingga sakit kepala muncul ketika tubuh seharusnya bersantai.

Fenomena aneh ini dikenal sebagai "Leisure Sickness" atau "penyakit liburan", sebuah kondisi yang membuat banyak orang bingung dan frustrasi. Istilah ini merujuk pada orang-orang yang jarang sakit selama hari kerja tetapi sering jatuh sakit saat akhir pekan atau liburan.

Apakah ini hanya kebetulan, atau ada penjelasan ilmiah di baliknya? Mari kita telaah lebih dalam mengapa tubuh kita bereaksi seperti ini saat kita seharusnya menikmati waktu istirahat yang layak.

Mengenal Lebih Dekat Fenomena "Leisure Sickness"

Istilah "Leisure Sickness" pertama kali diciptakan oleh peneliti Belanda, Ad Vingerhoets dan Maaike van Huijgevoort, dalam sebuah studi perintis pada tahun 2002. Penelitian awal yang melibatkan 1.893 orang menemukan sekitar 3% responden melaporkan mengalami kondisi ini. Gejala yang sering dilaporkan oleh penderita "Leisure Sickness" bervariasi, namun beberapa yang paling umum meliputi sakit kepala (bahkan migrain), kelelahan, pilek dan flu, nyeri otot, serta mual.

Menariknya, orang lebih mungkin mengembangkan infeksi saat liburan daripada akhir pekan, dan gejala paling umum terjadi selama minggu pertama liburan mereka. Kondisi ini bukan penyakit fisik spesifik, melainkan respons tubuh terhadap stres yang tiba-tiba berkurang. Hal ini sering dialami oleh individu yang memiliki beban kerja tinggi, rasa tanggung jawab besar, dan kesulitan beradaptasi dari situasi kerja ke non-kerja.

Meskipun bukti ilmiah tentang kondisi ini masih terbatas dan belum sepenuhnya konklusif, "Leisure Sickness" adalah kondisi yang relatif umum. Ini menunjukkan pola yang dapat diamati, bukan sepenuhnya diagnosis medis.

Mengapa Tubuh Justru Sakit Saat Bersantai? Teori di Baliknya

Meskipun penelitian berkualitas tentang "Leisure Sickness" masih terbatas, beberapa teori mencoba menjelaskan mengapa tubuh kita bereaksi seperti ini saat kita seharusnya bersantai. Salah satu teori adalah peningkatan paparan kuman saat bepergian. Orang sering bepergian selama liburan, dan berada di ruang tertutup serta ramai seperti pesawat, meningkatkan paparan mereka terhadap kuman. Bepergian ke lokasi yang jauh juga dapat membuat kita terpapar jenis kuman yang belum kita miliki kekebalan tubuhnya.

Teori lain yang kuat adalah hubungan kompleks antara stres dan sistem kekebalan tubuh. Stres mengaktifkan sistem saraf simpatik dan memicu pelepasan hormon seperti adrenalin dan kortisol. Stres kronis dapat menyebabkan kadar kortisol tetap tinggi, yang seiring waktu, mengurangi kemampuan sel kekebalan tubuh untuk merespons infeksi, sehingga kita lebih mungkin sakit jika bersentuhan dengan virus atau bakteri.

Perubahan gaya hidup selama liburan juga dapat berkontribusi. Saat liburan, kita mungkin minum lebih banyak alkohol, yang dapat mengurangi fungsi kekebalan tubuh. Selain itu, kita mungkin mendorong tubuh untuk melakukan hal-hal yang biasanya tidak kita lakukan, memberikan tekanan padanya. Pola makan dan pola tidur yang berubah drastis juga dapat melemahkan sistem imun.

Terakhir, ada teori peningkatan kesadaran terhadap gejala. Kesibukan di tempat kerja membuat kita terganggu dan cenderung kurang memperhatikan gejala. Saat libur, gejala seperti nyeri otot atau sakit kepala mungkin menjadi lebih jelas karena kita tidak lagi terdistraksi oleh pekerjaan.

Perspektif Ahli dan Cara Mencegah "Leisure Sickness"

Ad Vingerhoets, seorang psikolog Belanda yang turut menciptakan istilah ini, mulai mempelajari fenomena tersebut setelah menyadari bahwa ia sendiri sering sakit saat liburan Natal dan Tahun Baru. Ia menemukan bahwa masalah ini disebabkan oleh stres dan kesulitan beralih dari aktivitas kerja ke aktivitas santai. Ester Sternberg, seorang peneliti imunologi neuroendokrin di National Institutes of Health, menyalahkan kondisi ini pada hormon dan stres karena memengaruhi sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh.

Meskipun tidak ada obat mujarab, Sahabat Fimela dapat mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan risiko "Leisure Sickness". Menjaga gaya hidup sehat dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh Anda, bahkan saat Anda sibuk. Tetap aktif, cukup tidur, dan makan makanan yang sehat dan seimbang adalah kunci.

Penting juga untuk mengelola stres sebelum liburan, misalnya dengan mengurangi intensitas kerja secara bertahap menjelang cuti. Hindari perubahan jam tidur yang terlalu ekstrem dan berikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi. Dengan memahami potensi penyebabnya, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan risiko jatuh sakit saat seharusnya menikmati waktu istirahat yang layak.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading