News & Entertainment

Tayangan Televisi Berikut Layak Segera Dihentikan Penayangannya

By Stanley Dirgapradja   -   22 May 2013

Nggak heran bila banyak orang berkomentar bahwa mereka lebih senang menonton program televisi berlangganan, ketimbang mengecek apa yang ditawarkan televisi Nasional. Beberapa tayangan di bawah ini di satu sisi menemukan jumlah penonton yang memuaskan, di lain sisi mereka tidak mendidik sama sekali.

Sedap Malam

Kami mulai dengan sinetron “Love in Paris.” Serial ini tayang di SCTV. Terlepas dari jajaran bintang tampan dan cantik, juga atmosfir Paris yang mereka tawarkan, serial satu ini sempat terbelit masalah. Beberapa waktu lalu, serial ini disorot media masa karena dengan tidak bijak menggunakan sebuah ruangan di rumah sakit. Seorang pasien gawat darurat meninggal karena ruang yang seharusnya dipakai untuk perawatan, malah dipakai untuk pengambilan gambar. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seharusnya sudah menghentikan produksi serial ini. Rumah produksi yang membuat ini juga harusnya sadar produksi mereka sudah bercitra buruk. Tapi sinetron yang dibintangi Rio Dewanto ini malah sudah memasuki musim tayang ke-2.

Selera humor orang Indonesia, atau Jakarta barangkali memang cukup unik. “Pesbukers” yang tayang di AN TV ini adalah salah satu program televisi yang sebenarnya adalah a show about nothing. Hanya wajah-wajah terkenal, sedikit hiburan berbentuk penampilan (penyanyi, biasanya) dari bintang tamu, sisanya humor kasar yang bukan slapstick. Slapstick menghibur, Pesbukers tidak. Bila pernah menonton program ini pasti tahu ada salah satu cast yang jadi objek humor kasar casts lainnya secara reguler.

Komunitas yang bernama Masyarakat Televisi Sehat Indonesia bulan lalu berkunjung ke KPI, melaporkan beberapa tayangan televisi dengan atribut keagamaan, yang menurut mereka justru isinya tidak mewakili atribut keagamaan itu sendiri. Salah satu judul tayangan yang dipermasalahkan adalah “Ustad Foto Copy” yang tayang di SCTV. Ada beberapa tokoh di tayangan ini yang gemar sekali sumpah serapah dalam bentuk paparan verbal yang mudah sekali ditiru penonton muda. Tokoh tersebut menjadi populer, dan karakter antagonis-nya pun semakin dieksplorasi dengan, lagi-lagi, kemampuan sumpah serapah yang tidak layak dipertontonkan.

Tayangan larut malam “Sedap Malam” di RCTI adalah sebuah variety show yang harusnya menjadi bincang-bincang yang seru. Tapi acara yang dulu sempat populer ini sekarang menampilkan host yang lemah, dan salah satu icon acara paling sensual yang pernah ada di televisi nasional. Di salah satu segmen, akan ada penari tradisional mengenakan kebaya ketat dan seringkali dengan belahan dada rendah mengenakan topeng yang berbicara dengan nada suara ‘mengundang.’ Acara yang dulu lumayan menghibur ini tahu apa yang harus mereka lakukan jika ingin tetap berkualitas.

Setelah tren tayangan dengan atribut keagamaan, tren lain yang belum hilang sejak awal 2000-an di televisi nasional, adalah tayangan bernuansa mistis. Jelas, orang Indonesia memang gemar dengan hal-hal berbau mistis. Kasus Eyang Subur adalah bukti terakhir dari hal tersebut. Tentu masih ingat dengan “Dunia Lain’’ beberapa tahun lalu yang sukses. Kegemaran orang Indonesia akan hal mistis ini secara tidak langsung sebenarnya membuat orang menjadi tetap haus akan informasi gaib, dan pada gilirannya mengembangkan imajinasi di luar nalar. Dua program di televisi yang kental berbau mistis antara lain “Dua Dunia” dan “Mister Tukul Jalan-Jalan,” keduanya di Trans 7. Untuk judul terakhir, dari judul saja penonton sudah berpikir bahwa itu tentang wisata, padahal bukan.

Tentu ada beberapa tayangan lain yang mungkin jadi perhatian masing-masing. Membuat ulasan mengenai program televisi yang membuat penonton resah memerlukan waktu yang panjang, pastinya. Seperti yang diungkapkan di atas, membuat program televisi itu gampang-gampang susah. Seringkali rumah produksi menggampangkan di bagian skenario yang tidak ingin membuat mereka terlalu berpikir jauh, demi sebuah tontonan berkualitas. Yang penting pengambilan gambar terus berjalan. Dengan cara itu, penonton televisi nasional yang tidak mampu menikmati tayangan di televisi berlangganan yang lebih berkualitas menjadi korbannya. Generasi yang akan datang dipertaruhkan.

What do you think?

Write Your Comment

Articles you might be interested in

You don't want to Miss