Sukses

Health

Kenali Cacar Air dan Herpes Zoster pada Anak, IDAI Tekankan Imunisasi Sejak Dini untuk Perlindungan Optimal

Fimela.com, Jakarta - Penyakit infeksi pada anak masih menjadi perhatian serius bagi para orangtua, terutama penyakit yang mudah menular seperti cacar air (varisela) dan herpes zoster. Meski sama-sama disebabkan oleh virus Varicella Zoster, kedua penyakit ini memiliki manifestasi klinis yang berbeda dan dapat menimbulkan komplikasi bila tidak ditangani dengan tepat. 

Menurut DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) selaku Ketua Pengurus Pusat IDAI berharap masyarakat, khususnya orangtua semakin memahami karakteristik penyakit cacar air varisela dan herpes zoster, cara penularannya, gejala yang perlu diwaspadai, hingga langkah pencegahan yang efektif.

Dr. Piprim juga menegaskan manfaat vaksinasi sangat besar dalam menurunkan risiko sakit berat. “Alhamdulillah penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi varisela dua kali. Perlindungannya sekitar 99 persen, hampir 100 persen,” ungkapnya.

"Edukasi yang tepat bukan hanya membantu deteksi dini, tetapi juga mendorong upaya perlindungan anak melalui imunisasi lengkap agar risiko komplikasi berat dapat diminimalkan," tambahnya dalam Media Briefing secara virtual dengan topik “Mengenal Lebih Jauh Herpes Zooster dan Cacar Air pada Anak”, pada Selasa, 13 Januari 2026.

Varisela dan Herpes Zoster, Dua Penyakit dari Virus yang Sama

Varisela atau cacar air merupakan infeksi primer akibat virus Varicella-Zoster Virus (VZV). Penyakit ini ditandai dengan demam serta munculnya ruam vesikular yang menyebar di seluruh tubuh, terutama pada anak-anak. Ruam biasanya berawal dari wajah dan badan, kemudian menyebar ke ekstremitas. Selain kulit, lesi juga dapat muncul di mukosa seperti mulut, mata, hingga area genital.

Sementara itu, herpes zoster atau yang sering dikenal sebagai cacar ular merupakan reaktivasi virus yang sebelumnya sudah menetap laten di dalam sistem saraf. Ketika daya tahan tubuh menurun, virus dapat aktif kembali dan menimbulkan ruam vesikel yang khas, unilateral, mengikuti jalur saraf tertentu (dermatom), disertai nyeri neuropatik yang cukup mengganggu.

Sangat Menular, Mudah Menyebar di Lingkungan Tertutup

Menurut Dr. dr. Ratni Indrawanti, Sp.A, Subsp.I.P.T(K) dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI varisela merupakan penyakit yang sangat menular, dengan angka reproduksi dasar (R0) mencapai 8–12. Penularan terjadi melalui udara (droplet), serta kontak langsung dengan cairan dari lepuhan kulit.

"Lingkungan tertutup seperti sekolah, rumah, atau bangsal perawatan menjadi lokasi yang berisiko tinggi terjadinya penyebaran," kata Dr. Ratni di acara yang sama

Masa penularan berlangsung hingga seluruh lesi mengering dan membentuk krusta. Oleh karena itu, isolasi pasien serta penerapan kebersihan yang baik sangat penting untuk mencegah penularan ke anak lain atau anggota keluarga.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Pada anak yang belum diimunisasi, varisela biasanya diawali dengan demam, lemas, nafsu makan menurun, sakit kepala, hingga nyeri ringan pada perut. Setelah itu muncul ruam yang berkembang bertahap dari makula, papul, vesikel, hingga akhirnya mengering menjadi krusta. Keunikan varisela adalah munculnya lesi dengan berbagai tahap sekaligus pada satu waktu.

Sementara herpes zoster umumnya diawali dengan nyeri atau rasa terbakar di satu area tubuh selama beberapa hari sebelum ruam muncul. Ruam kemudian muncul secara unilateral mengikuti satu jalur saraf, tidak melewati garis tengah tubuh, dan terasa nyeri.

Meski pada anak sehat biasanya bersifat ringan, kedua penyakit ini tetap berpotensi menimbulkan komplikasi, terutama pada bayi, anak dengan daya tahan tubuh rendah, ibu hamil, dan pasien imunokompromi.

Pentingnya Imunisasi Varisela untuk Perlindungan Optimal

Salah satu pesan utama yang ditekankan dalam media briefing ini adalah pentingnya imunisasi varisela sebagai langkah pencegahan paling efektif. IDAI merekomendasikan vaksin varisela diberikan sebanyak dua dosis sejak usia 12 bulan, dengan interval sesuai usia anak.

Ia menambahkan, vaksinasi varisela jauh lebih baik dibandingkan anak terdampak virus yang bisa berdampak fatal. Vaksin sudah tersedia dan semoga anak-anak kita bisa tumbuh berkembang lebih baik "Selain mencegah infeksi primer, vaksinasi juga terbukti menurunkan risiko komplikasi berat serta rawat inap akibat varisela dan herpes zoster," ujar dr. Piprim

Kapan Perlu Penanganan Medis Lebih Lanjut?

Pada anak sehat, varisela umumnya cukup ditangani dengan perawatan suportif seperti penurun demam, menjaga hidrasi, perawatan kulit, serta mencegah garukan agar tidak terjadi infeksi sekunder. Namun, antivirus dapat diberikan bila gejala berat, muncul komplikasi, atau pada kelompok berisiko tinggi.

Sementara pada herpes zoster, terapi antivirus perlu diberikan sedini mungkin untuk mengurangi durasi penyakit dan risiko nyeri berkepanjangan. Pemeriksaan lanjutan juga diperlukan bila ruam tidak khas, menyebar luas, atau terjadi pada anak dengan gangguan imunitas.

Edukasi Kunci Melindungi Anak dari Risiko Penyakit

IDAI berharap masyarakat semakin memahami bahwa varisela dan herpes zoster merupakan satu spektrum penyakit sepanjang hidup akibat virus yang sama. Pencegahan optimal membutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari imunisasi, pengendalian penularan, hingga tata laksana yang tepat bila anak terinfeksi.

Dengan informasi yang benar dan kesadaran yang meningkat, Sahabat Fimela dapat mengambil langkah preventif lebih dini demi memastikan anak tumbuh sehat, aktif, dan terlindungi dari penyakit menular yang berpotensi berbahaya. 

Penulis: Siti Nur Arisha

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading