Sukses

Lifestyle

Sempat Terpikir untuk Mengakhiri Hidup tapi Jiwa Ini Masih Berharga

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Datin Nabillah - Ternate

Setiap manusia pastinya melakukan kesalahan. Dan setiap kesalahan, pasti ada cara memperbaikinya. Namun, beberapa kesalahan juga bisa diperbaiki hanya dengan kata maaf. Entah seperti apa kesalahan yang diperbuat. Kadang, beberapa manusia memerlukan cara yang panjang dalam menyelesaikan suatu kesalahan. Melakukan sesuatu yang dipaksa, mengakhiri dirinya, bahkan mengorbankan orang lain untuk mengatasi hal tersebut. Tapi, ada juga yang bersedia memaafkan asalkan menyadari kesalahan yang dilakukan.

Ini cerita tentang saya yang tidak tahu lagi bagaimana menjalin kehidupan selanjutnya. Menjadi korban bullying membuat saya menjadi orang yang sulit bergaul. Apalagi berpikir untuk mencari teman baru, buat saya itu tidak akan ada lagi dalam hidup saya seterusnya. Mempunyai tubuh yang besar, berkulit hitam, dan pendek membuat saya hampir setiap saat dihina, diganggu, bahkan tidak ada satupun orang yang mau berteman dengan saya. Itu membuat saya sedih, bahkan mengurung diri tanpa mau berpikir untuk bergaul.

Suatu ketika saya hendak ke kantin, saya melewati koridor kelas yang lain. Di tengah perjalanan, dua orang siswa laki-laki memukul pundak saya dengan sangat keras. Saya sangat kesakitan, namun mencoba kuat tanpa membalasnya. Saya berdiri terdiam, dan meneteskan air mata perlahan-lahan. Mereka menertawai saya dengan bahagianya menyakiti orang lain. Dengan menahan rasa sakit, saya membalikkan badan dan berjalan kembali ke kelas. Duduk diam, dan menunduk menangis.

 

Sempat Ingin Mengakhiri Hidup

Sejak kejadian itu, saya menjadi anak umur 12 tahun yang mengurung diri. Saya tidak lagi mau bergaul, tidak lagi membutuhkan teman, dan bahkan membenci diri saya. Kadang, saya hanya di kamar. Berandai-andai asyiknya bermain bersama teman-teman. Berlari di bawah derasnya hujan, melompat tali, bahkan bercanda dan bernyanyi bersama. Saya ingin menjadi gadis normal yang mempunyai kehidupan yang sama. Bukan saya yang seperti ini, yang selalu dihina dan dicaci.

Saya sempat memikirkan hal terburuk, bagaimana mengakhiri hidup saya sendiri. Daripada saya hidup hanya untuk disakiti orang lain, lebih baik saya kembali pada Pencipta dengan menyakiti diri saya sendiri. Namun, saya mencoba melihat ke bawah. Melihat ribuan orang di dunia yang lebih sulit menjalani hidup dibandingkan dengan saya.

Sebab itulah, saya mencoba menerima setiap kelebihan dan kekurangan dalam diri. Bahkan saya memaafkan setiap orang yang selalu melempari saya dengan kata-kata penuh hinaan. Saya rasa, beberapa orang ingin mengucapkan kata maaf namun terikat oleh rasa gengsi. Ibarat menjilat kembali ludah yang sudah dibuang. Bahkan, saya kembali bangkit dan percaya diri. Sebab semuanya bukan kesalahan dari mana saya lahir, siapa yang melahirkan saya, dan siapa yang menciptakan saya di dunia ini. Ini hanya masalah menerima dan mengikhlaskan. Kita bisa terima dengan menghargai ciptaan-Nya, maka kita juga bisa mengikhlaskan segala kesalahan yang dilakukan orang lain dengan memaafkan sebelum kata maaf terucap.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Jelang Hari Raya, Ada Tips Belanjakan Bonus THR dengan Bijak
Artikel Selanjutnya
Resep Kue Lebaran Tanpa Oven: Chocochips Cookies Legit