Sukses

Lifestyle

Maaf Tulus dari Hati untuk Adik Kandungku

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Siti Maria Ulfa - Lumajang

Kami tiga bersaudara perempuan. Aku anak pertama berusia 26 tahun, adik perempuan pertamaku berusia 25 tahun, dan adik perempuan keduaku berusia 16 tahun. Arofah nama adik pertamaku yang usianya beda setahun denganku dari kecil kami sangat akrab mulai dari bermain, bersekolah sampai tidur bersama. Keakraban antara adik dan kakak terjalin erat hingga kami memilih PTN yang sama untuk kuliah meski berbeda jurusan. Selepas lulus SMA aku dulu yang kuliah, setahun kemudian adikku menyusul. Kami berada dalam satu kos tepatnya sekamar berdua untuk meminimalisir pengeluaran, hehe.

Tinggal di kos jauh dari orang tua selama kuliah awalnya semua berjalan dengan lancar sebagai kakak aku bertindak mengayomi, menjaga dan menasihati adik perempuanku. Seiring berjalannya waktu permasalahan mulai muncul berawal dari urusan asmara (bukan mencintai lelaki yang sama) tapi lebih kepada adikku iri dengan hubungan percintaanku dengan pacarku waktu itu (sekarang sudah putus). Kecemburuan sosial membuat hubungan kami goyah mulai dari cek cok, tak saling sapa dalam jangka waktu lama hingga saling mengungkit perihal barang yang pernah dipinjam. Aku selalu berada di posisi selalu mengalah hingga masalah berhasil diredam muncul kembali begitu terus.

 

Memaafkan adalah Mulia

Puncaknya saat kami lulus kuliah, aku dulu yang lulus setahun kemudian baru adikku. Kami berdua menempuh S1 pas 4 tahun. Perjalanan mencari kerja kami lewati penuh perjuangan, melamar ke tempat A, B, C dan seterusnya, aku bertekad mencari kerja dengan proses rekrutmen yang transparan. Pertengkaran kami semakin menjadi-jadi hingga kami tak bertegur sapa setahun lebih lamanya. Selama kami bertengkar adikku seringkali memberikan kekerasan baik verbal maupun non verbal. Aku tidak pernah sekalipun membalas kekerasan non verbal tersebut, aku balas dengan doa dan dukungan dari keluarga agar kami rukun kembali.

Alhamdulillah akhirnya setahun ini aku dan adikku akur kembali. Bahagia rasanya suasana rumah jadi tenang dan sejuk kembali. Pintu hatiku terbuka lebar untuk memaafkan tulus dari hati. Memaafkan mampu menjaga tali silaturahmi kembali erat dan rukun kembali. Menuju hari kemenangan. Memaafkan adalah mulia.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading