Sukses

Lifestyle

Jadi Alternatif Paper Bag, Kantong Plastik Mulanya Diciptakan untuk Menyelamatkan Bumi

Fimela.com, Jakarta Sampah plastik menjadi salah satu jenis sampah terbanyak yang mencemari lingkungan. Mulai dari jalanan, sungai, hingga akhirnya mencemari laut. Danone dan Aqua di Indonesia bekerja sama dengan the Ocean Cleanup membuat sebuah riset pengumpulan samah lastik di sungai menggunakan sistem InterceptorTM 001 di Cengkareng Drain, Pantai Indah Kapuk. 

Riset tersebut menunjukkan 76% sampah yang ditemukan berupa plastik fleksibel termasuk kantung kresek. Tetapi, siapa sangka kalau pada mulanya kantung kresek ini dibuat demi menyelamatkan bumi? 

Penemuan cemerlah Sten Gustaf Thulin pada tahun 1959 ini ternyata justru menjadi petaka lingkungan. Dilansir dari the Independent, kantung kresek dibuat sebagai alternatif dari tas kertas atau paper bag yang justru akan mengganggu keseimbangan alam dan lingkungan. Pasalnya, untuk memroduksi begitu banyak tas kertas membutuhkan penebangan hutan yang begitu luas dan masif. 

Secara teoritis, kantung plastik atau kresek lebih kuat dibandingkan dengan tas kertas. Juga dapat menahan air. Sehingga, kantung kresek ini bisa digunakan berkali-kali hingga rusak. Sementara, tas kertas justru hanya bisa digunakan lebih sedikit karena lebih rapuh dan tidak tahan air. 

Kantung Plastik Sekali Pakai

Alih-alih digunakan berkali-kali, kantung plastik malah digunakan sekali lantas dibuang. Kini, the Independent melaporkan, konsumsi plastik yang mencemari lingkungan ini justru menjadi ancaman nomor satu. Tahun 2050 nanti, diperkirakan jumlah sampah plastik yang mencemari laut justru lebih besar dari jumlah ikan yang ada di dalamnya. Lantas, siapa yang harus disalahkan?

Bagi Thulin sang pencipta kantung kresek, penggunaan kantung plastik sekali pakai sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya. BBC melakukan wawancara eksklusif dengan Raoul Thulin, sang putra pencipta kantung plastik. Menurutnya, sang ayah selalu membawa kantung plastik yang dia lipat di dalam saku. 

"Ayah selalu membawa (kantung platik yang dia lipat) di dalam sakunya. Kamu tahu, apa yang kini dilakukan, membawa tas belanja ke setiap toko saat belanja, dia sudah melakukannya di tahun 1970-an dan 1980-an, secara alamiah, karena, ya, kenapa tidak?" kata Raoul seperti dikuti dari the Independent.

Tas Belanja yang Bukan dari Plastik Bukan Solusi Tepat untuk Menyelamatkan Bumi

Kini, akibat begitu banyaknya sampah plastik yang mencemari lingkungan, khususnya laut, puluhan negara berbondong-bondong membatasi penggunaan plastik, namun hal ini tetap saja kurang efektif. News Statement menulis, waste management mungkin bisa berhasil. Namun hal ini tetap memberikan peluang banyak orang untuk masih menggunakan kantung plastik. 

 

Sebagai gantinya, negara-negara tersebut mendorong masyrakat dunia untuk menggunakan tas belanja dari bahan yang lebih kuat dan dapat digunakan berulang kali. Termasuk paper bag. Namun, tepatkah solusi ini untuk menyelamatkan bumi dan lingkungan?

 

Sayangnya, cara ini ternyata juga tidak efektif dalam misi penyelamatan bumi dan lingkungan. UK Environment Agency menulis, satu paper bag hanya bisa digunakan 3 kali sebelum akhirnya didaur ulang. Sementara itu, pembuatan paper bag membutuhkan lebih banyak energi dan air. 

Lain lagi ceritanya kalau Sahabat Fimela menggunakan tas biasa untuk belanja. Tas ini biasanya terbuat dari katun. Pohonnya membutuhkan lebih banyak air untuk tumbuh dibandingkan dengan tumbuhan lain. Tas ini bisa digunakan 121 kali sebelum akhirnya didaur ulang. 

Sementara itu, Eric Steinberger dari @Climate_Science mengatakan kepada BBC mengenai pembuatan kantung plastik yang lebih efisien. Menurutnya, pembuatan kantung plastik hanya membutuhkan sedikit energi. 

"Kantung plastik sangat efisien untuk dibuat. Hanya butuh sedikit minyak dan sangat sedikit energi, kemudian kita mendapatkan sebuah kantung plastik," katanya, dikutip dari BBC. 

#Growfearless with FIMELA

Fimela ingin mengajak kamu untuk lebih inspiratif dan positif dengan lewat berbagai kelas menarik di Fimela Fest 2019. Yuk, daftarkan dirimu di sini!

Loading
Artikel Selanjutnya
Ajarkan Anak Bijak untuk Kelola Sampah Sejak Dini
Artikel Selanjutnya
Meraup Sampah Plastik di Sungai dengan Mesin Raksasa untuk Cegah Laut Tercemar